NqpdMaBaMqp7NWxdLWR6LWtbNmMkyCYhADAsx6J=

MASIGNCLEANLITE104

Merawat Buku Ilmu dari Rayap Kelalaian

MEDIA AN NUUR—Ada kebahagiaan tersendiri bagi orang yang gemar membaca buku. Membuka lembar demi lembar halaman, menemukan gagasan baru, lalu menyimpannya dalam ingatan merupakan kenikmatan yang sulit dijelaskan.

Dari kebiasaan membaca itu, sering kali lahir kebiasaan lain, yakni mengoleksi buku. Rak-rak di rumah perlahan terisi. Ada buku yang dibeli dari hasil menyisihkan uang saku, ada yang diperoleh sebagai hadiah, ada pula yang menjadi saksi perjalanan menuntut ilmu selama bertahun-tahun.

Dalam tradisi Islam, buku dan ilmu memiliki kedudukan yang istimewa. Para ulama terdahulu rela menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan satu hadis atau satu penjelasan ilmu. Mereka menulis, menyalin, dan menjaga kitab-kitabnya dengan penuh kesungguhan.

Tidak heran jika banyak ulama yang mewariskan perpustakaan pribadi yang menjadi sumber ilmu bagi generasi setelahnya. Karena itu, memiliki dan merawat buku sejatinya bukan hanya sebuah hobi, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap ilmu.

Jasa anti rayap
Ilustrasi rayap menggerogoti koleksi buku

Namun, di balik rak-rak yang penuh buku, terkadang datang tamu yang tidak diundang: rayap. Serangga kecil yang diam-diam menggerogoti halaman demi halaman. Ketika suatu hari kita mengambil sebuah buku, ternyata sebagian isinya telah rusak, berlubang, bahkan hancur menjadi serpihan.

Ada rasa sedih yang sulit disembunyikan, terutama jika buku tersebut memiliki nilai kenangan atau sudah sulit ditemukan kembali. Dan rayap seolah tanpa dosa telah menggerogotinya!

Menariknya, rayap bukan hanya ancaman bagi buku, tetapi juga menjadi pengingat bagi kita. Sebagaimana rayap dapat merusak buku tanpa suara, demikian pula kelalaian dapat menggerogoti ilmu tanpa terasa.

Ilmu yang tidak diamalkan, hafalan yang tidak diulang, dan pengetahuan yang tidak diajarkan perlahan bisa hilang dari diri seseorang. Buku yang tersimpan rapi belum tentu bermanfaat jika tidak pernah dibuka kembali, sebagaimana ilmu yang dimiliki belum tentu bernilai jika tidak membuahkan amal saleh.

Menjaga buku seharusnya berjalan beriringan dengan menjaga keberkahan ilmu. Rak dibersihkan, buku dirawat, dan koleksi dijaga dari kelembapan serta rayap. Namun yang lebih penting adalah memastikan bahwa ilmu yang tersimpan di dalamnya hidup dalam pikiran, lisan, dan perbuatan kita.

Sebab tujuan akhir dari ilmu bukanlah memenuhi rak-rak perpustakaan, melainkan menerangi kehidupan dan mendekatkan diri kepada Allah. Begitulah seharusnya seorang pecinta buku bersikap.

Pada akhirnya, rayap mengajarkan satu pelajaran sederhana: segala sesuatu di dunia bisa rusak dan musnah. Buku yang hari ini tampak kokoh suatu saat dapat lapuk. Rak yang penuh suatu saat dapat kosong.

Yang akan tetap tinggal bukanlah kertas dan tinta, melainkan ilmu yang bermanfaat, amal yang dikerjakan, dan jejak kebaikan yang diwariskan kepada orang lain. Maka, cintailah buku, jagalah ilmu, dan jangan biarkan keduanya dimakan rayap.

Rayap yang merusak lembaran kertas bisa diatasi dengan pengusir serangga, bisa juga menggunakan layanan jasa anti rayap. Sementara rayap kelalaian yang merusak hati manusia, hanya diri kita yang bisa mengatasi, dengan kesadaran mengamalkan ilmu.

Share This Article :
Wakhid Syamsudin

Berusaha menjadi orang bermanfaat pada sesama melalui tulisan. Saat ini mengelola blog Media An Nuur (www.media-annuur.com), Bicara Cara (www.bicaracara.my.id), dan blog pribadi (www.syamsa.my.id)

2907636960708278822