NqpdMaBaMqp7NWxdLWR6LWtbNmMkyCYhADAsx6J=

MASIGNCLEANLITE104

Dunia Hanyalah Tempat Singgah, Bukan Tujuan

MEDIA AN NUUR—Manusia hidup di dunia ini tidak kekal. Sejatinya hanya menjadi tempat untuk mencari bekal sebelum menghadap kembali kepada Allah Swt. Jadi dunia bukanlah tujuan akhir.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِمَنْكِبِي فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Saw., memegang pundakku lalu bersabda: 'Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir yang sedang melewati suatu jalan.'” (HR. Bukhari)

Seorang asing tidak terlalu terikat dengan tempat yang ia datangi. Demikian pula seorang musafir tidak membangun harapan untuk tinggal selamanya di tempat persinggahan. Ia hanya beristirahat sejenak, mengambil bekal yang diperlukan, lalu melanjutkan perjalanan menuju tujuan yang sebenarnya.

Ust. Didik Efendi, S.T.
Ustaz Didik Efendi mengingatkan bahwa dunia sekadar sarana bukan tujuan hidup

Begitulah seharusnya seorang mukmin memandang dunia; memanfaatkannya untuk beribadah dan beramal saleh tanpa menjadikannya sebagai tujuan utama hidup. Kesadaran bahwa dunia hanyalah tempat singgah akan melahirkan ketenangan dalam hati.

Allah Swt., telah menakar kebutuhan dunia setiap manusia dengan penuh hikmah dan kesempurnaan. Karena itu, tidak semestinya kita berlebihan dalam mengejar dan menginginkan dunia. Perhatikan bagaimana Allah menciptakan tubuh manusia: mata sepasang, telinga sepasang, tangan dua, kaki dua, dan mulut satu.

Semua telah ditetapkan sesuai kebutuhan dan kemaslahatan. Jika seseorang memiliki mata tiga atau tangan lima, itu bukanlah kelebihan yang membuatnya lebih sempurna, melainkan justru menjadi cacat dan kesulitan.

Demikian pula dengan urusan dunia; apa yang Allah berikan sesuai kebutuhan akan membawa keberkahan, sedangkan keinginan yang melampaui batas sering kali berubah menjadi beban, fitnah, bahkan sumber kesengsaraan.

Maka kebahagiaan bukan terletak pada banyaknya dunia yang dimiliki, melainkan pada keridaan menerima takaran Allah dan memanfaatkannya untuk ketaatan kepada-Nya.

Seorang mukmin hendaknya menjadikan dunia sebagai tempat mencari bekal untuk perjalanan menuju akhirat, bukan menjadikannya sebagai tujuan hidup. Berbagai nikmat dunia adalah sarana yang Allah titipkan untuk memperbanyak amal saleh dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Ketika dunia dijadikan tujuan utama, manusia tidak akan pernah merasa cukup dan selalu dikejar rasa gelisah. Namun ketika dunia dipandang sebagai ladang amal dan tempat persinggahan sementara, ia akan menggunakannya secukupnya untuk meraih keridaan Allah.

Dunia adalah kebutuhan yang harus dikelola dengan baik, sedangkan akhirat adalah tujuan yang harus diraih. Jangan sampai kita menjadikan kebutuhan sebagai tujuan, sehingga sibuk mengejar dunia dan melupakan akhirat. Gunakan dunia secukupnya sebagai bekal untuk mencapai rida Allah dan kebahagiaan yang abadi.

Ringkasan kajian subuh di Masjid An Nuur Sidowayah, pada Jumat, 7 Agustus 2026 dengan pemateri Ustaz H. Didik Efendi, S.T (Ketua MUI Kecamatan Weru)

Share This Article :
Wakhid Syamsudin

Berusaha menjadi orang bermanfaat pada sesama melalui tulisan. Saat ini mengelola blog Media An Nuur (www.media-annuur.com), Bicara Cara (www.bicaracara.my.id), dan blog pribadi (www.syamsa.my.id)

2907636960708278822