MEDIA AN NUUR—Perempuan sering digambarkan memiliki perasaan yang lebih panjang, sedangkan laki-laki cenderung lebih mengedepankan akal. Ini adalah perbedaan kecenderungan, bukan ukuran kecerdasan atau ketetapan biologis yang berlaku bagi semua orang.
Seorang ibu memiliki ikatan emosional yang kuat dengan anaknya. Ketika anak terjatuh, ibu biasanya segera menghampiri, menolong, dan menenangkannya. Kasih sayang itu telah tumbuh sejak anak berada di dalam kandungan dan terus terpelihara sepanjang kehidupannya.
Sementara itu, laki-laki sering kali menunjukkan kasih sayangnya melalui tanggung jawab dan usaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Anak terjatuh tak segera ditolong agar tahu kerasnya kehidupan.
![]() |
| Ustaz Drs. Ery Prasetya menyampaikan bedanya perasaan lelaki dan perempuan |
Hal sederhana, seperti membuat secangkir kopi, bisa menjadi gambaran seorang ayah yang sedang beristirahat sejenak setelah bekerja keras demi membahagiakan anak dan istrinya. Kasih sayang tidak selalu diungkapkan melalui kata-kata atau sentuhan, tetapi melalui pengorbanan dan tanggung jawab.
Namun, tanggung jawab seorang laki-laki tidak berhenti pada mencari nafkah. Meskipun lelah setelah bekerja, ia tetap perlu menyapa istri dan anak-anaknya dengan baik, mengendalikan emosi, serta menghadirkan ketenangan di rumah.
Kehebatan seorang laki-laki bukan hanya terletak pada kekuatan fisik, kemampuan berpikir, atau besarnya penghasilan, melainkan juga pada kesanggupannya mengelola emosi, menyayangi keluarga, dan mengikhlaskan diri untuk kehidupan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.
Seseorang yang memiliki banyak harta, tetapi tidak mampu mengendalikan diri dan enggan berbagi, belum tentu memahami hakikat kekayaan. Sebaliknya, orang yang hartanya terbatas, tetapi hatinya lapang, peduli kepada sesama, dan senantiasa bersyukur, memiliki kekayaan batin yang bernilai.
Prinsip yang sama berlaku dalam pernikahan. Jika pernikahan dibangun dengan niat beribadah kepada Allah, suami dan istri akan belajar menjalankan tanggung jawab, saling memahami perbedaan, menahan ego, serta berjuang bersama dalam kebaikan.
Pernikahan pun menjadi perjalanan ibadah yang panjang. Di dalamnya ada kesabaran, pengorbanan, kasih sayang, dan tanggung jawab yang terus-menerus. Karena itu, baik laki-laki maupun perempuan perlu belajar memahami satu sama lain.
Akal harus dibimbing oleh iman, perasaan harus diarahkan oleh kebijaksanaan, dan kasih sayang harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Keluarga yang bahagia adalah yang mampu mengelola perbedaan dengan ilmu, kesabaran, rasa syukur, dan niat beribadah kepada Allah.
Potongan kecil dari kajian Ahad pagi, 11 Oktober 2026, di Masjid Al Hidayah Sangen, bersama Ustaz Drs. Ery Prasetya, S.H., M.Psi.


