NqpdMaBaMqp7NWxdLWR6LWtbNmMkyCYhADAsx6J=

MASIGNCLEANLITE104

Membangun Keluarga yang Selamat Dunia dan Akhirat

MEDIA AN NUUR—Membangun keluarga hendaknya tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan dan keberhasilan di dunia, tetapi juga memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu keselamatan dan kebahagiaan di akhirat.

Setiap anggota keluarga perlu menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan setiap orang akan mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Dalam membangun keluarga, kita tidak hanya memikirkan masa depan dunia, tetapi juga mempersiapkan kehidupan akhirat. Hubungan kasih sayang di dunia juga perlu dibangun di atas ketakwaan agar menjadi hubungan yang membawa kebaikan sampai akhirat.

 الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Orang-orang yang saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67).

Hubungan yang hanya dibangun atas kepentingan dunia belum tentu bertahan di akhirat. Karena itu, suami dan istri, orang tua dan anak, serta seluruh anggota keluarga hendaknya saling membantu dalam ketakwaan agar cinta yang terjalin di dunia menjadi sebab kebaikan dan kebersamaan di akhirat.

Salah satu fondasi terpenting dalam keluarga adalah menjaga salat. Sejatinya, salat bukan hanya sebagai kewajiban yang sekadar ditunaikan, tetapi harus mampu membentuk perilaku dan kehidupan seseorang.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-'Ankabut: 45).

Ketika salat benar-benar dijaga dan dihayati, nilai-nilainya seharusnya terlihat dalam kehidupan rumah tangga, seperti kesabaran, kejujuran, tanggung jawab, dan kemampuan menjaga diri dari perbuatan yang merusak keluarga.

Ustaz Salman Al Farisi, M.Pd.
Ustaz Salman menyampaikan cara membentuk keluarga sakinah

Keluarga juga perlu memiliki cita-cita akhirat yang tinggi. Sebagaimana seseorang bersungguh-sungguh mengejar cita-cita dunia, bekerja keras, dan mengorbankan waktu demi mendapatkan hasil yang diharapkan, demikian pula seharusnya dalam mengejar keselamatan akhirat.

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. Al-Baqarah: 25).

Karena itu, jangan sampai semangat mengejar kehidupan dunia jauh lebih besar daripada semangat mempersiapkan akhirat. Kesungguhan dalam mengejar akhirat salah satunya terlihat dari bagaimana seseorang merespons perintah Allah.

Ketika mendengar azan, misalnya, orang yang memiliki kerinduan kepada Allah akan berusaha memenuhi panggilan salat dengan segera. Semakin kuat orientasi seseorang kepada akhirat, maka semakin sungguh-sungguh pula ia dalam menjalankan perintah Allah.

Kedekatan kepada Allah juga menjadi salah satu kunci ketenangan dalam rumah tangga. Ketika seseorang jauh dari Allah, persoalan kecil dalam keluarga dapat terasa semakin berat dan sulit diselesaikan.

Sebaliknya, kedekatan kepada Allah memberikan ketenangan, kesabaran, dan kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan. 

, أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28).

Oleh karena itu, ketika rumah tangga menghadapi masalah, jangan hanya mencari kesalahan pasangan, tetapi masing-masing juga perlu melakukan introspeksi dan memperbaiki hubungan dengan Allah.

Setelah menikah, tanggung jawab seseorang semakin bertambah. Namun bertambahnya tanggung jawab terhadap pasangan dan anak tidak boleh menyebabkan seseorang melupakan orang tuanya. Berbakti kepada orang tua tetap menjadi kewajiban. 

,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا 

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15).

Berbakti dapat dilakukan dengan mendoakan, membantu, memberikan perhatian, menghubungi, memberi kabar, dan menjaga hubungan dengan mereka meskipun jarak dan kesibukan menjadi kendala.

Jangan sampai seseorang sibuk mengurus rumah tangga dan pekerjaan tetapi melupakan salah satu bentuk ibadah yang besar, yaitu berbakti kepada orang tua.

Selain menjaga hubungan dengan Allah dan orang tua, keluarga juga hendaknya membiasakan diri untuk bersedekah dan berbuat baik kepada sesama. Sedekah dapat dilakukan sesuai kemampuan, baik berupa harta, makanan, maupun bantuan kepada orang yang membutuhkan.

Kebaikan yang diberikan dengan ikhlas tidak akan sia-sia di sisi Allah. Karena itu, ketika memiliki kelebihan rezeki, hendaknya sebagian digunakan untuk membantu orang lain dan mencari keberkahan.

Keluarga juga memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anak. Anak bukan hanya perlu diberikan makanan, pendidikan, tempat tinggal, dan kebutuhan materi, tetapi juga perlu dibimbing agar mengenal Allah, mencintai ibadah, memiliki akhlak yang baik, dan menjadi anak yang saleh. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Tanggung jawab orang tua bukan hanya menjaga keselamatan dunia keluarga, tetapi juga berusaha menjaga keselamatan mereka di akhirat. Dengan mendidik ilmu agama, anak menjadi aset paling berharga.

إِذَا مَاتَ الْإِنسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Mendidik anak menjadi saleh merupakan investasi akhirat yang sangat besar. Kesuksesan anak tidak seharusnya hanya diukur dari harta, pekerjaan, atau pencapaian dunia, tetapi juga dari iman, akhlak, ketaatan kepada Allah, dan baktinya kepada orang tua.

Pada akhirnya, keluarga yang ingin mendapatkan kebahagiaan dunia dan keselamatan akhirat harus menjadikan ketakwaan kepada Allah sebagai fondasi utama. Rumah, pekerjaan, harta, dan seluruh kehidupan hendaknya dijadikan sarana untuk beribadah dan mendapatkan keberkahan.

Suami dan istri perlu saling membantu dalam ketaatan, orang tua mendidik anak dalam iman, anak berbakti kepada orang tua, dan seluruh anggota keluarga saling mengingatkan untuk mendekat kepada Allah. 

Dengan demikian, tujuan membangun keluarga bukan hanya agar hidup nyaman dan bahagia di dunia, tetapi agar seluruh anggota keluarga dapat saling menjadi jalan menuju keselamatan di akhirat.

Keluarga yang baik adalah keluarga yang ketika mendapatkan nikmat bersyukur, ketika mendapatkan ujian bersabar, ketika memiliki rezeki bersedekah, ketika memiliki orang tua berbakti, ketika memiliki anak mendidiknya dalam iman, dan dalam setiap keadaan senantiasa kembali kepada Allah.

Pengajian dan Doa Keberkahan Pernikahan Ilham & Mifta, putra dari Bapak AKP. Supardi–Ibu Sri Suryani, di rumah Mbah Sum Hadi, Sidowayah RT 01 RW 06 Ngreco Weru. Sabtu, 26 September 2026, bakda Isya. Pemateri Ustaz Salman Al Farisi, M.Pd., asatiz Ponpes Qoryatul Qur’an Weru.

Share This Article :
Wakhid Syamsudin

Berusaha menjadi orang bermanfaat pada sesama melalui tulisan. Saat ini mengelola blog Media An Nuur (www.media-annuur.com), Bicara Cara (www.bicaracara.my.id), dan blog pribadi (www.syamsa.my.id)

2907636960708278822