MEDIA AN NUUR—Salah satu penyakit hati yang sering menimpa manusia adalah ghurur atau tertipu oleh diri sendiri. Ghurur terjadi ketika seseorang merasa bahwa kelebihan yang dimilikinya merupakan hasil kemampuan pribadinya semata.
Orang yang terjangkit penyakit ini tidak menyadari bahwa kelebihannya adalah titipan dari Allah Swt. Sikap semacam ini dapat membuat seseorang kehilangan rasa syukur dan perlahan menjauh dari kesadaran akan nikmat-nikmat Allah.
![]() |
| Ustaz Saladin Albany mengingatkan tentang ghurur |
Karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa mensyukuri segala karunia yang Allah berikan. Tidak ada satu pun kelebihan yang benar-benar menjadi milik manusia. Semua merupakan amanah yang sewaktu-waktu dapat Allah ambil kembali.
Rasa syukur menjadi benteng agar seseorang tidak terjerumus ke dalam perasaan bangga terhadap dirinya sendiri. Syukur mengajarkan bahwa semua yang kita punya hakikatnya adalah karunia Allah.
Setiap manusia diberikan kelebihan yang berbeda-beda oleh Allah. Ada yang diberi kedudukan dan jabatan, ada yang dianugerahi harta yang melimpah, ada yang dikaruniai keturunan, dan ada pula yang diberikan kecerdasan serta kemampuan dalam berbagai bidang.
Perbedaan tersebut bukan untuk menjadi alasan saling membanggakan diri, melainkan sebagai sarana untuk menjalankan amanah dan berbuat kebaikan. Berperan sesuai kapasitas masing-masing.
Menjadi pemimpin yang baik, menjadi orang kaya, dan menjadi orang yang berilmu adalah cita-cita yang baik. Akan tetapi, yang harus dihindari adalah perasaan merasa diri lebih baik daripada orang lain karena jabatan, merasa lebih kaya karena harta, atau merasa lebih pintar karena ilmu yang dimiliki.
Ketika kelebihan yang diberikan Allah melahirkan kesombongan, maka kelebihan tersebut justru dapat menjadi sebab kebinasaan. Dari sikap merasa lebih unggul itulah muncul berbagai penyakit hati seperti ujub, takabur, dan kibr.
Ujub adalah kekaguman terhadap diri sendiri, sedangkan takabur dan kibr adalah sikap merendahkan orang lain karena merasa diri lebih baik. Penyakit hati ini sangat berbahaya karena dapat menghalangi seseorang dari kebenaran dan menghapus nilai keikhlasan dalam amal.
Dosa pertama yang terjadi bukanlah pencurian, pembunuhan, atau bentuk kemaksiatan lainnya, melainkan kesombongan. Kesombongan itulah yang menyebabkan Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam a.s. Iblis merasa dirinya lebih baik sehingga enggan menaati perintah Allah.
Ù‚َالَ Ø£َÙ†َا Ø®َÙŠْرٌ Ù…ِÙ†ْÙ‡ُ Ø®َÙ„َÙ‚ْتَÙ†ِÙŠ Ù…ِÙ†ْ Ù†َارٍ ÙˆَØ®َÙ„َÙ‚ْتَÙ‡ُ Ù…ِÙ†ْ Ø·ِينٍ
“Ia (Iblis) berkata, 'Aku lebih baik darinya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.'” (QS. Al-A'raf: 12)
Ucapan “ana khairun minhu” (aku lebih baik darinya) menjadi contoh nyata kesombongan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam dosa besar. Ketika seseorang merasa lebih baik daripada orang lain, pada hakikatnya ia sedang mengulangi sifat yang dahulu mengeluarkan Iblis dari rahmat Allah.
Setiap manusia pada dasarnya memiliki dua kedudukan yang tidak dapat dipisahkan. Pertama, sebagai hamba Allah (abdullah), dan kedua sebagai khalifah Allah di muka bumi. Kedua peran tersebut harus dijalankan secara seimbang dalam kehidupan.
Sebagai hamba Allah, manusia memiliki kewajiban utama untuk beribadah dan menaati seluruh perintah-Nya. Semua kelebihan yang dimiliki hendaknya mengantarkan seseorang kepada ketaatan yang lebih besar, bukan kepada kesombongan dan kelalaian.
Manusia juga memiliki tugas sebagai khalifah di bumi, yaitu mengelola amanah yang Allah berikan dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama. Maka, segala kedudukan, harta, ilmu, dan kemampuan yang dimiliki hendaknya digunakan untuk memaksimalkan peran sebagai hamba Allah sekaligus khalifah-Nya.
Dengan kesadaran tersebut, seseorang akan terhindar dari ghurur dan senantiasa menyadari bahwa seluruh kelebihan yang ada pada dirinya hanyalah titipan dari Allah Swt. Semoga ini menjadi pengingat bagi kita semua.
Kajian Ahad Pagi, 27 September 2026, di Masjid Al Hidayah Sangen, dengan pemateri Ustaz Saladin Albany, M.Pd.


