MEDIA AN NUUR—Salah satu sifat yang sering muncul dalam diri manusia adalah keinginan untuk mendapatkan hak secara penuh dan sempurna. Ketika menerima sesuatu dari orang lain, ia ingin takaran, timbangan, atau haknya diberikan secara lengkap tanpa kekurangan sedikit pun.
Namun, saat berada pada posisi memberikan hak kepada orang lain, tidak jarang ia justru mengurangi, menunda, atau tidak menunaikannya sebagaimana mestinya. Sikap inilah yang dikecam dalam Surah Al-Muthaffifin, karena menunjukkan adanya standar ganda dalam memperlakukan hak dan kewajiban.
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ
“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam takaran dan timbangan), yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, tetapi apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 1–3)
![]() |
| Ustaz Fauzan mengingatkan tentang ancaman Allah bagi yang curang dalam timbangan |
Seorang muslim seharusnya tidak hanya menuntut haknya dipenuhi, tetapi juga berusaha menunaikan hak orang lain dengan adil, jujur, dan penuh amanah. Dengan demikian, ia akan menjadi pribadi yang dicintai Allah, dipercaya oleh sesama, dan membawa keberkahan dalam setiap urusan kehidupannya.
Mengurangi hak orang lain dalam timbangan merupakan perbuatan yang sangat tercela dalam Islam. Meskipun dilakukan secara halus dan tidak selalu terlihat oleh orang lain, hakikatnya perbuatan tersebut sama dengan mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
Karena itu, mengurangi timbangan dapat diibaratkan sebagai bentuk pencurian yang dilakukan melalui kecurangan dalam transaksi. Pelakunya memperoleh keuntungan dengan cara merampas sebagian hak orang lain.
Oleh sebab itu, Allah memberikan ancaman keras kepada orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan. Seorang muslim hendaknya menjaga kejujuran dan keadilan dalam setiap muamalah, karena setiap hak yang diambil secara zalim akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.
Allah Swt. memerintahkan hamba-Nya untuk selalu berlaku adil dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam urusan takaran dan timbangan ini. Sikap semacam ini merupakan bentuk kezaliman yang bertentangan dengan perintah Allah.
Dengan berlaku adil dalam setiap transaksi dan hubungan sosial, seorang muslim tidak hanya menjaga hak sesama manusia, tetapi juga menunjukkan ketakwaannya kepada Allah Swt.
Pengajian warga Sidowayah RT 01 RW 06 pada Kamis malam, 3 September 2026, di rumah Ibu Hj. Masiyem, dengan pemateri Ustaz Fauzan Abu Darda, pengajar di Ma'had Ittibaussunnah Tawang Weru.


