MEDIA AN NUUR—Abdullah bin Amr dikenal sebagai sahabat yang sangat tekun dan bersemangat dalam beribadah, bahkan semangatnya yang begitu besar membuatnya beribadah secara berlebihan hingga Rasulullah saw. memberikan arahan dan batasan agar ia tetap menjaga keseimbangan antara ibadah, kebutuhan diri, keluarga, dan hak-hak lainnya.
Sebagai contoh, Abdullah bin Amr pernah bertekad berpuasa setiap hari dan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu yang sangat singkat. Namun, Rasulullah saw. menasihatinya agar berpuasa secara seimbang dan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu yang lebih lama, karena tubuh, mata, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya juga memiliki hak yang harus dipenuhi.
فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, matamu memiliki hak atasmu, dan istrimu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari)
Dari kisah ini, kita belajar bahwa Islam mengajarkan semangat beribadah yang tinggi, tetapi tetap dalam batas yang wajar dan tidak berlebihan. Seorang muslim hendaknya tidak hanya mengejar banyaknya ibadah, tetapi juga memperhatikan kualitas, keseimbangan, dan keberlanjutan amal agar dapat dilakukan secara istiqamah sepanjang hayat.
![]() |
| Ustaz Didik Efendi mengingatkan tentang keseimbangan beribadah |
Dalam beribadah, ada amalan yang memang perlu “digas” dengan semangat dan kesungguhan, tetapi ada pula yang memerlukan “rem” agar tetap seimbang dan berkelanjutan. Tidak semua ibadah harus dilakukan dengan cepat atau berlebihan.
Misalnya, semangat dalam menuntut ilmu, bersedekah, dan berbuat kebaikan perlu terus ditingkatkan, sedangkan dalam membaca Al-Qur’an, salat malam, atau berpuasa sunnah diperlukan pengaturan yang bijak agar tidak memberatkan diri sendiri.
Islam mengajarkan prinsip pertengahan (wasathiyah), sehingga setiap ibadah dilakukan sesuai tuntunan syariat, kemampuan, dan kondisi masing-masing agar dapat istikamah dalam jangka panjang.
Pada awal pernikahannya, Abdullah bin Amr terlalu fokus pada ibadah hingga kurang memperhatikan hak istrinya. Keadaan tersebut membuat istrinya merasa kurang mendapatkan perhatian yang semestinya, sehingga ayahnya, Amr bin Ash, mengadukan hal itu kepada Rasulullah.
Setelah mendengar penjelasan Abdullah, Rasulullah saw. menasihatinya agar menjalankan ibadah secara seimbang dan tetap menunaikan hak-hak keluarga, karena istri, tubuh, dan dirinya sendiri juga memiliki hak yang wajib dipenuhi.
Rasulullah juga mengingatkan bahwa kesempurnaan iman tidak hanya ditunjukkan dengan banyaknya ibadah, tetapi ketika keinginan dan hawa nafsu seseorang tunduk serta mengikuti ajaran yang beliau bawa.
Dengan demikian, seorang muslim tidak cukup hanya mengikuti apa yang ia sukai dalam beragama, tetapi harus belajar mengarahkan keinginannya agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.
Nafsu merupakan bagian dari fitrah manusia yang Allah berikan, tetapi bukan berarti setiap keinginan boleh dituruti tanpa batas. Kesukaan terhadap makanan, harta, hiburan, maupun kesenangan lainnya perlu ditempatkan secara proporsional dan dikendalikan dengan akal serta tuntunan syariat.
Jangan sampai manusia mengikuti hawa nafsunya tanpa kendali seperti hewan yang memakan tanaman di mana saja tanpa memedulikan milik orang lain. Karena itu, seorang muslim harus mampu mengendalikan keinginannya agar tidak melampaui batas dan merugikan diri sendiri maupun orang lain.
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِيَ ٱلْمَأْوَىٰ
“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi‘at: 40–41)
Seorang muslim harus mampu mengendalikan hawa nafsu dan menempatkan setiap keinginan secara proporsional. Bukan semua yang kita sukai harus dituruti, tetapi setiap keinginan perlu diarahkan agar sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Ringkasan kajian subuh di Masjid An Nuur Sidowayah, pada Jumat, 4 September 2026 dengan pemateri Ustaz H. Didik Efendi, S.T (Ketua MUI Kecamatan Weru)


