MEDIA AN NUUR—Seseorang yang berhadas kecil, seperti karena buang air, kentut, atau tidur nyenyak yang membatalkan wudu, tidak boleh melaksanakan salat hingga berwudu terlebih dahulu.
Apabila ia tetap salat tanpa wudu, maka salatnya tidak sah dan tidak diterima oleh Allah Ta'ala. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya selalu menjaga kesucian dan memperhatikan wudunya sebelum menghadap Allah dalam salat.
Ù„َا ÙŠَÙ‚ْبَÙ„ُ اللَّÙ‡ُ صَÙ„َاةَ Ø£َØَدِÙƒُÙ…ْ Ø¥ِذَا Ø£َØْدَØ«َ ØَتَّÙ‰ ÙŠَتَÙˆَضَّØ£َ
“Allah tidak menerima salat salah seorang di antara kalian apabila ia berhadas sampai ia berwudu.” (HR. Abu Hurairah)
![]() |
| Ustaz Habib mengingatkan tentang hukum salat tanpa wudu |
Tanpa wudu, Allah tidak menerima ibadah salat yang dilakukan atau tidak memberikan pahala pada amalan itu. Sehingga ia harus mengulanginya setelah wudu terlebih dahulu.
Seorang muslim hendaknya senantiasa menjaga wudunya dengan menghindari segala hal yang dapat membatalkannya, seperti buang air kecil, buang air besar, keluarnya angin (kentut), tidur nyenyak, dan sebab-sebab lain yang membatalkan wudu.
Ketika seseorang tertidur saat mendengarkan khotbah Jumat, hukum wudunya bergantung pada jenis tidurnya. Jika hanya mengantuk ringan dan masih sadar terhadap keadaan di sekitarnya, maka wudunya tidak batal.
Namun, jika tidurnya nyenyak hingga hilang kesadaran terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya, maka ia harus berwudu kembali sebelum melaksanakan Salat Jumat.
Para ulama menjelaskan bahwa di antara tanda tidur yang membatalkan wudu adalah ketika seseorang tertidur dalam posisi yang tidak lagi menjaga rapat tempat keluarnya hadas, misalnya tubuhnya limbung atau salah satu pantatnya terangkat dari tempat duduknya.
![]() |
| Jamaah Subuh di Masjid An Nuur Sidowayah |
Dengan menjaga wudu, seseorang akan lebih siap untuk menunaikan salat kapan pun waktunya tiba, sekaligus menunjukkan perhatian dan penghormatannya terhadap ibadah yang akan dikerjakan.
Selain itu, menjaga wudu juga menjadi salah satu bentuk upaya untuk senantiasa berada dalam keadaan suci dan dekat dengan Allah Ta’ala.
Dalam wudu pun kita harus menyempurnakanya. Rasulullah memberikan peringatan keras kepada orang yang tidak menyempurnakan wudunya, terutama pada bagian tumit yang sering terlewat terkena air.
ÙˆَÙŠْÙ„ٌ Ù„ِÙ„ْØ£َعْÙ‚َابِ Ù…ِÙ†َ النَّارِ
“Celakalah tumit-tumit (yang tidak terkena air wudu) dari api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan pentingnya menyempurnakan wudu dan memastikan seluruh anggota wudu terkena air secara merata. Jangan sampai ada bagian yang terlewat, termasuk tumit, sela-sela jari kaki, atau bagian lain yang sering luput dari perhatian.
![]() |
| Sarapan bersama |
Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berwudu dengan tenang dan teliti agar ibadahnya sah serta terhindar dari ancaman yang disebutkan dalam hadis tersebut. Jangan melakukannya dengan terburu-buru.
Kajian Subuh Jumat Berkah di Masjid An Nuur Sidowayah pada Jumat, 19 Juni 2026 bersama Ustaz Habib As Salam (pengajar di Ponpes Darul Fithrah Tawangsari)




