NqpdMaBaMqp7NWxdLWR6LWtbNmMkyCYhADAsx6J=

MASIGNCLEANLITE104

Ujian Iman Keluarga Nabi Ibrahim

MEDIA AN NUUR—Ketika menghadapi ujian yang terasa begitu berat, cobalah melihat bagaimana besarnya ujian yang dialami para Nabi terdahulu. Dari situlah kita belajar bahwa setiap kesulitan bisa dihadapi dengan kesabaran, keteguhan hati, dan keyakinan kepada Allah.

Ujian Berat Keluarga Ibrahim

Diperintahkan Meninggalkan Istri dan Anak di Lembah Tandus

Salah satu ujian terberat yang pernah dialami Nabi Ibrahim AS adalah ketika beliau diperintahkan Allah meninggalkan istrinya, Siti Hajar, bersama putranya yang masih bayi, Nabi Ismail, di sebuah lembah tandus yang kosong, tanpa penduduk dan tanpa sumber kehidupan.

Ustaz Fauzan
Ustaz Fauzan ajak bercermin pada ujian keluarga Nabi Ibrahim AS 

Nabi Ibrahim menjalankan perintah itu tanpa banyak bertanya dan tanpa membantah sedikit pun. Saat Siti Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan ini?” Nabi Ibrahim mengiyakan. Maka dengan penuh keyakinan, Siti Hajar berkata bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan mereka.

Siti Hajar pun mendapatkan pertolongan Allah. Dalam keadaan penuh kegelisahan karena kehausan Nabi Ismail yang masih bayi, beliau terus berusaha berlari antara bukit Shafa dan Marwah mencari pertolongan.

Hingga akhirnya Allah memancarkan air zamzam sebagai sumber kehidupan. Dari tempat yang awalnya sepi dan gersang itu, kemudian tumbuh menjadi kota yang makmur dan diberkahi, yaitu Makkah.

Diperintahkan Menyembelih Anak Kesayangan

Ujian berikutnya datang ketika Nabi Ismail mulai beranjak remaja, usia yang membuat seorang ayah semakin mencintai dan bangga kepada anaknya. Namun pada saat itulah Allah menguji Nabi Ibrahim dengan perintah yang sangat berat: menyembelih putranya sendiri.

Meski hati seorang ayah tentu dipenuhi rasa cinta dan haru, Nabi Ibrahim tetap mendahulukan ketaatan kepada Allah. Yang menakjubkan, Nabi Ismail pun menerima perintah itu dengan penuh keimanan dan kesabaran.

Ketika perintah penyembelihan itu benar-benar akan dilaksanakan, Allah menunjukkan kasih sayang-Nya. Melalui Malaikat Jibril, Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba sebagai sembelihan.

Saat itu Nabi Ibrahim telah membuktikan puncak cintanya kepada Allah, yaitu rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya demi menjalankan perintah-Nya.

Dari peristiwa inilah kita belajar bahwa setiap pengorbanan di jalan Allah tidak akan sia-sia. Allah melihat ketulusan hati hamba-Nya, lalu mengganti kesulitan dengan rahmat dan kemuliaan yang lebih besar.

Belajar dari kisah Nabi Ibrahim, kita memahami bahwa cinta kepada Allah dibuktikan dengan ketaatan dan pengorbanan. Beliau rela menghadapi ujian berat, meninggalkan keluarga, hingga siap menyembelih putranya demi menjalankan perintah Allah.

Pengajian warga Sidowayah RT 01 RW 06 pada Kamis, 7 Mei 2026, di rumah Bapak Wiyono–Ibu Siti Rohmani, dengan pemateri Ustaz Fauzan Abu Darda (pengajar di Ma'had Ittibaussunnah Tawang Weru)

Share This Article :
Wakhid Syamsudin

Berusaha menjadi orang bermanfaat pada sesama melalui tulisan. Saat ini mengelola blog Media An Nuur (www.media-annuur.com), Bicara Cara (www.bicaracara.my.id), dan blog pribadi (www.syamsa.my.id)

2907636960708278822