NqpdMaBaMqp7NWxdLWR6LWtbNmMkyCYhADAsx6J=

MASIGNCLEANLITE104

Makna Semboyan Ki Hajar Dewantara dalam Nilai Islam bagi Remaja

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional untuk mengenang jasa Ki Hajar Dewantara. Beliau adalah tokoh yang memperjuangkan pendidikan bagi bangsa Indonesia pada masa penjajahan.

Ki Hajar Dewantara melawan diskriminasi pendidikan dan menciptakan sistem pendidikan yang merdeka bagi rakyat Indonesia. Ada semboyan beliau yang sangat melekat dalam dunia pendidikan, yaitu:

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Artinya: Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan.

Kajian
Kajian remaja di Masjid An Nuur Sidowayah 

Makna semboyan ini tidak hanya berlaku dalam pendidikan formal, tetapi juga sangat selaras dengan nilai-nilai Islam. Seorang muslim tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi teladan, penguat, dan pendorong kebaikan bagi orang lain.

Nilai Islam dalam Semboyan Ki Hajar Dewantara

1. Ing Ngarsa Sung Tuladha — Di Depan Memberi Teladan

Ketika kita berada di depan, kita harus mampu menjadi contoh yang baik. Sadar ataupun tidak, setiap orang bisa menjadi panutan kecil bagi lingkungannya. Pengaruh tidak selalu datang dari jabatan atau kedudukan, tetapi bisa muncul dari kebiasaan sehari-hari.

Kebiasaan baik walaupun kecil jangan dianggap remeh. Senyum yang tulus, berkata jujur, menjaga adab, atau disiplin dalam ibadah dapat menjadi inspirasi bagi orang lain. Itulah arti keteladanan yang bisa kita terapkan.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Teladan terbaik bagi umat Islam adalah Nabi Muhammad Saw. Beliau bukan hanya mengajarkan kebaikan dengan ucapan, tetapi juga dengan akhlak dan perbuatan. Maka, mari kita menjadikan diri sebagai teladan bagi sekitar dengan akhlak baik.

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

Remaja hari ini hidup di zaman ketika orang lebih mudah melihat perilaku daripada mendengarkan nasihat. Perkataan hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Karena itu, jadilah teladan melalui tindakan nyata, seperti misalnya: jujur walaupun tidak diawasi, tetap sopan walaupun sedang marah, tetap beribadah ketika teman-teman lalai, dan rendah hati meskipun memiliki kelebihan. Keteladanan selalu dimulai dari hal-hal sederhana.

2. Ing Madya Mangun Karsa — Di Tengah Membangun Semangat

Ketika berada di tengah-tengah lingkungan, kita harus mampu menumbuhkan semangat dan motivasi bagi orang lain. Remaja muslim tidak hanya dituntut baik untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menghadirkan pengaruh positif di sekitarnya.

Lingkungan pertemanan sangat memengaruhi seseorang. Karena itu, pilihlah teman yang dapat menguatkan kita dalam kebaikan dan ketakwaan. Bukan dalam dosa dan permusuhan.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Sebagai remaja muslim, kita bisa berperan menjadi penyemangat bagi teman-teman dan lingkungan sekitar. Jadilah orang yang mengajak kepada kebaikan, bukan justru menjauhkan dari ketaatan kepada Allah Swt.

Kadang sebuah dukungan kecil seperti mengingatkan salat, mengajak mengaji, atau memberi semangat saat teman sedang lemah, dapat menjadi sebab seseorang semakin dekat kepada Allah Swt.

3. Tut Wuri Handayani — Di Belakang Memberi Dorongan

Tidak semua orang harus menjadi pemimpin atau penggerak utama. Ketika berada di belakang, kita tetap memiliki peran untuk memberikan dukungan dan dorongan kepada orang lain agar terus berada di jalan kebaikan.

Setiap orang tetap bisa menjadi pendukung kebaikan. Jika belum mampu menjadi penggerak, setidaknya jangan menjauh dari lingkungan yang baik. Jika belum mampu menjadi penggerak, setidaknya ikut membersamai.

Hal kecil bisa memberi pengaruh besar pada hati seseorang. Dukungan sederhana, doa, atau kehadiran dalam majelis ilmu dapat menjadi penguat bagi orang lain untuk tetap istikamah.

الدَّالُّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ

Orang yang menunjukkan kepada kebaikan akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Maka dari itu, jangan pernah meremehkan peran sekecil apapun dalam kebaikan. Bisa jadi, dorongan yang kita berikan menjadi sebab seseorang berubah menjadi lebih baik.

Hari Pendidikan Nasional bukan hanya tentang pendidikan formal di sekolah, tetapi juga tentang pendidikan sejati dalam kehidupan. Ilmu yang paling berharga adalah ilmu yang mendekatkan kita kepada Allah Swt., dan menjadikan kita pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.

Jangan sampai masa muda habis untuk hal-hal yang sia-sia. Jadilah remaja muslim yang membawa perubahan dalam kebaikan: menjadi teladan di depan, penyemangat di tengah, dan pendukung kebaikan di belakang.

Kajian Remaja di Masjid An Nuur Sidowayah pada Ahad, 3 Mei 2026 bakda Isya. Pemateri: Pak Wakhid Syamsudin.

Reporter: Safira Ni'matul Ulya

Share This Article :
Wakhid Syamsudin

Berusaha menjadi orang bermanfaat pada sesama melalui tulisan. Saat ini mengelola blog Media An Nuur (www.media-annuur.com), Bicara Cara (www.bicaracara.my.id), dan blog pribadi (www.syamsa.my.id)

2907636960708278822