MEDIA AN NUUR—Allah telah melimpahkan begitu banyak nikmat kepada manusia. Sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat tersebut, kita diperintahkan untuk mendirikan salat sebagai wujud penghambaan kepada Allah.
Setelah itu, kita juga diperintahkan untuk berkurban sebagai bentuk kepedulian dan berbagi kepada sesama. Salat mengajarkan hubungan yang baik dengan Allah, sedangkan kurban mengajarkan hubungan yang baik dengan manusia.
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
![]() |
| Ustaz Khoirul Umam menyampaikan makna ibadah kurban |
Bulan Zulhijjah menjadi momentum untuk merefleksikan tauhid dan keimanan kita kepada Allah. Ibadah salat disandingkan dengan kurban, menunjukkan bahwa puncak keimanan harus bermanifestasi dalam tindakan nyata.
Salat memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah, sedangkan kurban menjadi bukti ketakwaan yang diwujudkan melalui pengorbanan, kepedulian, dan manfaat bagi sesama.
Puncak keimanan diraih saat kecintaan kepada Allah mengungguli segalanya. Kurban yang seolah penyembelihan biasa, dengan iman maka ia menjadi parameter, menjadi bentuk kualitas batiniyah.
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُم
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ibadah kurban merupakan napak tilas pengorbanan dan ketaatan Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi Ismail AS, sebagaimana dikisahkan dalam Surah Ash-Shaffat ayat 102.
Nabi Ibrahim menunjukkan ketaatan total kepada perintah Allah, sementara Nabi Ismail menampilkan kesabaran dan kepasrahan luar biasa dalam menjalankan perintah-Nya. Mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, dan mendahulukan perintah Allah di atas kepentingan pribadi.
Seorang yang berkurban sejatinya sedang belajar melepaskan sebagian hartanya karena kecintaannya kepada Allah. Pengorbanan itu mungkin terasa berat, karena manusia pada dasarnya mencintai harta. Namun, justru dari pengorbanan itulah akan lahir kemanisan iman.
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, ia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan ia membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Manisnya iman akan tampak dalam dua bentuk yang nyata dalam kehidupan seorang mukmin: ketenangan jiwa dan kebahagiaan dalam berbagi. Hati yang dipenuhi iman akan merasa tenteram karena dekat dengan Allah, sementara pengorbanan dan kepedulian kepada sesama menghadirkan kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan materi.
Pengajian Ahad Pagi pada 3 Mei 2026 di Gedung Dakwah Muhammadiyah Weru (Kalisige, Karakan) bersama Ustaz H. Khoirul Umam Al Basyir (Mudir Muhammadiyah Boarding School Tawangsari)


