MEDIA AN NUUR—Sebagai remaja muslim, hendaknya kita memiliki rasa percaya diri yang kuat, tanpa bergantung pada seberapa besar kemampuan yang kita miliki, karena setiap diri kita memiliki nilai dan harga diri yang harus dijaga dengan penuh keyakinan.
Kecenderungan saat ini, kita sering menghabiskan waktu dengan scroll media sosial yang menampilkan hal-hal indah dari kehidupan orang lain, padahal yang dibagikan hanyalah momen-momen terpilih sementara sisi yang kurang baik tidak ditampilkan.
Kita harus menyadari hal ini sehingga tidak perlu merasa minder dengan kondisi diri sendiri. Kita pun memiliki momen-momen indah, meskipun tidak semuanya kita bagikan di media sosial, karena setiap orang memiliki porsi dan jalan masing-masing, maka tetaplah percaya diri dalam menjalani kehidupan.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap manusia diciptakan Allah dalam kondisi terbaik, baik dari segi fisik maupun potensi, sehingga menjadi dasar kuat untuk memiliki rasa percaya diri dan menghargai diri sendiri.
![]() |
| Kajian remaja di Masjid An Nuur Sidowayah |
Mungkin ada orang yang diberi kelebihan secara fisik, sementara yang lain memiliki kelebihan dalam akal dan kelembutan hati. Karena itu, setiap orang memiliki keistimewaan masing-masing, sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk merasa lebih hina dari orang lain.
الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ
“Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (QS. Al-Infitar: 7)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan sempurna dan seimbang, sehingga menjadi penguat bahwa setiap diri memiliki nilai dan kemuliaan di sisi-Nya.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Rasulullah Saw., menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan pada penampilan lahiriah, melainkan pada kebersihan hati dan kebaikan amalnya.
Tidak layak bagi kita sebagai hamba Allah merasa berkecil hati hanya karena membandingkan diri dengan orang lain, terlebih saat melihat kekurangan fisik, karena nilai seorang hamba tidak ditentukan dari penampilan semata.
Justru kita bisa menjadi lebih baik dan mulia dengan terus memperbaiki ibadah, membersihkan hati, dan meningkatkan amal saleh. Konsep harga diri kita sebagai remaja muslim adalah pada amal kebaikan dan hati kita.
Agar bisa lebih percaya diri, salah satu caranya adalah dengan mengurangi kebiasaan melihat ke atas, terutama dalam urusan duniawi, karena akan merasa kurang. Sebaliknya, dengan lebih banyak melihat ke bawah, kita akan belajar bersyukur atas karunia Allah dan menyadari bahwa apa yang kita miliki sudah sangat berharga.
Kita perlu lebih banyak bersyukur dan mengurangi keluh kesah, karena sering kali satu kekurangan yang kita fokuskan justru menutupi sembilan kelebihan yang sebenarnya telah Allah berikan kepada kita.
Dalam sejarah Islam, kita bisa belajar dari para sahabat, seperti Bilal bin Rabah yang pernah menjadi seorang budak, namun tidak berkecil hati dengan keadaannya, justru bangkit dengan keteguhan iman hingga menjadi sosok mulia karena ketakwaannya.
Kita juga bisa belajar dari Abdullah bin Mas'ud yang memiliki kekurangan secara fisik, namun tidak menjadikannya sebagai alasan untuk merasa rendah diri, justru beliau fokus pada ibadah dan ilmu, hingga menjadi salah satu sahabat yang mulia dan berilmu tinggi.
Kita patut bangga atas karunia Allah dan mensyukurinya dengan sebaik-baiknya, namun hal itu bukan berarti kita menjadi sombong atau merasa lebih baik dari orang lain, melainkan sebagai bentuk pengakuan atas nikmat Allah yang mendorong kita untuk semakin rendah hati dan terus memperbaiki diri.
Salah satu doa agar diberi ketenangan dan kepercayaan diri adalah doa Nabi Musa AS. Doa ini sangat indah untuk diamalkan, karena memohon kepada Allah kelapangan hati, kemudahan urusan, dan kelancaran dalam berbicara, sebagai kunci tumbuhnya rasa percaya diri.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku.” (QS. Taha: 25–28)
Kajian Remaja di Masjid An Nuur Sidowayah pada Ahad, 26 April 2026, bersama Ustaz Ibnu Ka'ab, S.Pd.I. (pengajar di MIN 5 Sukoharjo)


