NqpdMaBaMqp7NWxdLWR6LWtbNmMkyCYhADAsx6J=

MASIGNCLEANLITE104

5 Tujuan Manusia Diciptakan

MEDIA AN NUUR—Orang kafir menjalani hidup tanpa memahami tujuan penciptaannya, sehingga arah hidupnya menjadi tidak teratur dan mudah terombang-ambing oleh keinginan sesaat. Hidup pun hanya berputar pada kesenangan dunia, tanpa pijakan nilai yang benar dan tanpa kesadaran akan tujuan akhir yang hakiki.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti hewan ternak, sedangkan neraka adalah tempat tinggal bagi mereka.” (QS. Muhammad: 12)

Tanpa bimbingan wahyu, akal yang seharusnya menjadi penuntun justru sering disalahgunakan atau dikuasai hawa nafsu, hingga akhirnya banyak yang tersesat. Banyak yang akhirnya merasa kebuntuan dalam hidup.

Ustaz Abu Fatiah Al-Adnani
Ustaz Abu Fatiah Al-Adnani menyampaikan tentang tujuan manusia diciptakan 

Lawrence Kohlberg, seorang psikolog perkembangan moral yang pernah mengajar di University of Chicago, dikenal luas sebagai tokoh penting dalam pendidikan karakter, ditemukan meninggal diduga bunuh diri.

Leo Tolstoy adalah seorang sastrawan besar asal Rusia yang dikenal sebagai salah satu penulis paling berpengaruh dalam sejarah dunia. Tidak menemukan ketenangan hidup hingga ia meninggalkan rumahnya secara diam-diam karena pergolakan batin dan konflik keluarga.

Kita patut mensyukuri nikmat Islam, karena dengannya kehidupan menjadi terarah. Dengan petunjuk langsung dari Allah, akal dan hati berjalan lebih tertata, bermakna, dan berujung pada keselamatan di dunia maupun akhirat.

Tujuan Penciptaan Manusia

Ada lima tujuan penciptaan manusia yang harus kita pahami agar langkah hidup tidak keliru dan tetap berada di jalan yang benar. Dengan memahami tujuan ini, seseorang tidak akan menjalani hidup secara asal-asalan, tetapi memiliki arah yang jelas.

1. Beribadah kepada Allah

Tujuan pertama penciptaan manusia adalah menjadi ahli ibadah, yaitu hamba yang benar-benar tunduk dan menghambakan diri kepada Allah. Manusia dan jin diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

Allah sendiri yang langsung memperkenalkan nama-Nya kepada kita dalam Al-Qur’an, sehingga kita tidak dibiarkan mencari-cari siapa Tuhan yang harus disembah. 

Cara beribadah pun tidak diserahkan pada akal manusia semata, tetapi telah dituntunkan secara rinci melalui Rasulullah Muhammad, sehingga ibadah kita memiliki tuntunan yang jelas, benar, dan bernilai di sisi Allah.

2. Menjadi khalifah di bumi

Tujuan berikutnya adalah manusia diturunkan ke bumi sebagai khalifah, yaitu pengganti yang melanjutkan tugas generasi sebelumnya dalam menegakkan kebaikan.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan di sana orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-Baqarah: 30)

Makna khalifah adalah pengganti, yaitu kita melanjutkan tugas orang-orang sebelum kita dalam menjaga agama dan memperbaiki kehidupan. Ketika guru atau ustaz kita wafat, maka kita yang melanjutkan estafet dakwahnya.

Namun, tidak semua pengganti itu baik. Ada pula yang justru merusak dan menyimpang dari amanah. Di sisi lain, khalifah juga bermakna pemimpin. Karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, maka kehidupan membutuhkan aturan dan kepemimpinan agar tetap berjalan dengan tertib dan membawa kebaikan.

3. Memakmurkan dunia

Tujuan berikutnya adalah bahwa Allah menjadikan manusia untuk memakmurkan bumi, sehingga manusia dibekali kemampuan yang tidak dimiliki malaikat, hewan, maupun iblis.

هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS. Hud: 61)

Makna memakmurkan adalah menjadikan sesuatu hidup, ramai, dan penuh manfaat, bukan dibiarkan kosong dan sia-sia. Manusia diberi kemampuan untuk mengelola apa yang ada di bumi sekaligus menambah nilai manfaatnya.

Pohon menjadi lebih bermanfaat ketika diolah menjadi bahan bangunan, dan kekayaan yang tersimpan di dalam perut bumi menjadi berguna ketika diolah menjadi berbagai kebutuhan manusia.

Bahkan, dengan ide dan kreativitas yang Allah karuniakan, manusia mampu mengubah sesuatu yang awalnya tidak bernilai menjadi penuh manfaat. Misalnya lahan kosong yang disulap menjadi pesantren, tempat lahirnya ilmu dan generasi yang membawa kebaikan.

Namun, tidak semua manusia menjalankan peran itu dengan benar, ada pula yang justru merusak bumi. Kerusakan itu tampak dalam tindakan merusak lingkungan, mengeksploitasi alam tanpa tanggung jawab hingga menimbulkan bencana, juga dalam kerusakan moral melalui berbagai bentuk maksiat.

4. Mengemban Amanah dan Janji

Tujuan berikutnya adalah bahwa Allah menciptakan manusia untuk mengemban amanah besar yang tidak sanggup dipikul oleh makhluk lain. Disebutkan bahwa langit, bumi, dan gunung-gunung, enggan menerima karena takut tidak bisa menjaganya.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)

Amanah ini mencakup tanggung jawab untuk taat kepada Allah, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta mengelola kehidupan sesuai dengan petunjuk-Nya. Manusia menerima amanah ini karena dibekali akal.

Dengan akal itu manusia bisa berkehendak dan memiliki kemampuan memilih. Amanah yang besar ini bisa mengangkat derajat manusia setinggi-tingginya atau justru menjatuhkannya jika disia-siakan, karena banyak yang kemudian lalai.

5. Menegakkan Keadilan

Tugas manusia berikutnya adalah menegakkan keadilan, karena tanpa keadilan kehidupan akan dipenuhi kezaliman dan ketimpangan. Keadilan menjadi penopang utama tegaknya masyarakat yang baik, sementara ketika ia hilang, yang kuat akan menindas yang lemah dan kebenaran mudah diputarbalikkan.

Dalam realitas yang kita lihat, sering kali yang terasa mahal di negeri ini bukan sekadar kebutuhan pokok, tetapi justru keadilan itu sendiri. Sesuatu yang seharusnya menjadi hak setiap orang, namun tidak selalu mudah didapatkan. Setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk memperjuangkan keadilan sesuai perannya.

Pengajian Ahad Pagi di Masjid Al Hidayah pada 26 April 2026 bersama Ustaz Abu Fatiah Al-Adnani, penulis buku best seller bertema Akhir Zaman, founder Arafah Group.

Share This Article :
Wakhid Syamsudin

Berusaha menjadi orang bermanfaat pada sesama melalui tulisan. Saat ini mengelola blog Media An Nuur (www.media-annuur.com), Bicara Cara (www.bicaracara.my.id), dan blog pribadi (www.syamsa.my.id)

2907636960708278822