MEDIA AN NUUR—Kadang, kita baru benar-benar memahami sesuatu bukan saat diajarkan, tetapi saat hati kita disentuh secara langsung. Sentuhan yang langsung ke dalam sanubari.
Suatu hari, di ruang kelas tempat saya mengajar, suasana yang awalnya biasa berubah menjadi begitu hening. Para santri saya minta menulis surat untuk orang tua. Bukan tugas berat, bukan pula soal yang sulit. Hanya mengajak anak-anak remaja itu menuliskan sebuah ungkapan sederhana tentang rasa terima kasih atas jasa orang tua.
Namun, siapa sangka, pena-pena yang bergerak di atas kertas justru membuka pintu-pintu perasaan yang selama ini terkunci rapat.
![]() |
| Menulis surat untuk orang tua |
Satu per satu, santri mulai terdiam. Ada yang menunduk lebih dalam, ada yang berhenti menulis sejenak. Tak lama, isak tangis mulai terdengar. Bukan tangis yang dibuat-buat, tapi tangis yang lahir dari relung hati yang paling dalam. Bahkan ada yang terisak hingga sesak napas, seakan semua yang selama ini dipendam tiba-tiba menemukan jalannya untuk keluar.
Di momen itu, saya seperti diingatkan bahwa di balik canda, tawa, dan tingkah laku remaja yang sering terlihat biasa saja dan cenderung suka-suka saja, ternyata tersimpan perasaan yang begitu dalam kepada orang tua mereka.
Mungkin selama ini mereka jarang mengucapkan terima kasih. Mungkin mereka sering membantah tanpa sadar. Mungkin mereka merasa belum bisa membalas apa-apa. Dan kini, semuanya hadir bersamaan. Cinta, rindu, penyesalan, dan harapan untuk menjadi anak yang lebih baik.
Air mata yang jatuh bukanlah tanda kelemahan. Justru di sanalah letak kekuatannya. Karena hanya hati yang hidup yang mampu merasakan sedalam itu. Dan ini ada pada anak-anak yang beranjak remaja itu.
Sebagai pendidik, tugas kita bukan hanya mengisi pikiran santri dengan ilmu, tetapi juga menyentuh hati mereka dengan kesadaran. Bukan sekadar membuat mereka paham tentang birrul walidain, tetapi membantu mereka merasakan maknanya.
Sebab apa yang dirasakan, akan lebih lama bertahan dibanding apa yang hanya didengar. Tangisan adalah awal dari perjalanan baru untuk memperbaiki diri, untuk lebih menghargai orang tua, untuk lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertutur.
Harapannya, surat yang mereka tulis tidak hanya berhenti di kertas. Tapi benar-benar sampai kepada orang tua. Baik dalam bentuk tulisan, maupun dalam bentuk sikap yang lebih baik setelahnya.
Karena pada akhirnya, setiap anak akan sampai pada satu titik dalam hidupnya. Di mana ia akan menyadari betapa besar jasa orang tua. Kesadaran yang terkadang terlambat, saat waktu tak lagi bisa diulang.
Semoga air mata itu menjadi saksi. Bahwa di hati para remaja itu, telah tumbuh satu tekad sederhana, ingin menjadi anak yang lebih berbakti. Lebih mengerti bagaimana bersikap pada orang tua.


