MEDIA AN NUUR–Yang sering membuat kita merasa menderita hingga sulit bersyukur adalah ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Ekspektasi yang kita bangun ternyata berbeda dengan apa yang kita temui dalam kehidupan nyata.
Misalnya dalam memilih pasangan, yang pada awal perkenalan tampak begitu sempurna, namun seiring berjalannya waktu justru menunjukkan sisi-sisi yang jauh dari bayangan kita.
![]() |
| Ustazah Ida Rochmawati sampaikan bahwa penderitaan itu karena kita merasa orang lain lebih baik |
Selain itu, penderitaan juga sering muncul karena kebiasaan kita yang gemar membanding-bandingkan. Keadaan ini semakin parah dengan mudahnya orang membagikan kehidupan mereka di media sosial.
Kebahagiaan yang tampak dari orang lain membuat kita tanpa sadar membandingkannya dengan kehidupan sendiri, hingga akhirnya merasa bahwa hidup kita tidak sebahagia mereka.
Pada hakikatnya, tidak ada kehidupan yang benar-benar ideal dan sempurna. Setiap orang memiliki ujian dan kekurangannya masing-masing. Jika kita terus-menerus fokus pada hal-hal yang tidak menyenangkan, maka kita tidak akan pernah mampu menjadi hamba yang bersyukur.
Ketika menghadapi berbagai penderitaan hidup, hendaknya kita berpegang pada prinsip bahwa setiap kesulitan pasti disertai kemudahan. Surat Al-Insyirah ayat 5–6 menegaskan bahwa bersama satu kesulitan terdapat dua kemudahan. Keyakinan ini akan menumbuhkan harapan, menguatkan hati, dan membuat kita tidak mudah putus.
Kehidupan yang terasa tidak menyenangkan bisa jadi justru merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Sebagaimana para nabi yang diuji dengan berbagai kesulitan, namun di balik itu semua terdapat hikmah, kedekatan dengan Allah, dan derajat yang semakin tinggi di sisi-Nya.
Kita juga akan terus dibayangi rasa penderitaan ketika menganggap segala yang ada di dunia ini sebagai milik kita sepenuhnya. Padahal, yang kita miliki hanyalah titipan semata. Saat kita menyadari bahwa semuanya berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, hati akan lebih lapang dalam menerima kehilangan maupun perubahan.
Apa pun yang kita cintai di dunia ini tidak akan kita bawa mati. Harta, kedudukan, bahkan orang-orang yang kita sayangi akan terpisah saat ajal tiba. Teman sejati kita hanyalah amal ibadah, yang akan setia menemani di alam kubur hingga kehidupan akhirat nanti.
Dalam menjalani hidup ini, mari kita melatih diri untuk mensyukuri hal-hal kecil yang ada pada diri kita, karena dari situlah kebahagiaan tumbuh. Kita juga perlu membiasakan diri untuk tidak iri terhadap kehidupan orang lain, sebab setiap orang memiliki ujian dan takaran rezekinya masing-masing.
Selain itu, penting bagi kita untuk terus menyadari bahwa segala yang ada di dunia ini bersifat fana, sehingga hati tidak mudah terikat dan lebih siap menghadapi segala perubahan. Kapan saja Allah ambil titipan itu maka kita sudah bersiap melepas tanpa menjadikan beban.
Pakar parenting, Cahyadi Takariawan menasihatkan bahwa setiap kita perlu memiliki amal andalan; meskipun kecil, namun dilakukan secara rutin dan tidak diketahui oleh orang lain. Amal seperti inilah yang menjadi kekuatan tersembunyi yang akan mendatangkan keberkahan dan pertolongan dalam kehidupan.
Agar bisa menikmati hidup dengan seimbang, kita bisa mengibaratkan diri seperti duduk di sebuah kursi yang memiliki empat kaki. Keempat kaki itu harus sama-sama kuat agar kita bisa duduk dengan nyaman.
Demikian pula kehidupan, yang ditopang oleh empat aspek penting: fisik, mental, sosial, dan spiritual. Jika salah satunya lemah, maka keseimbangan hidup akan terganggu. Karena itu, kita perlu menjaga kesehatan tubuh, menguatkan mental, membangun hubungan sosial yang baik, serta memperkokoh spiritualitas agar hidup terasa lebih tenang dan bermakna.
Ketika kita merasa menjadi orang yang paling menderita, ingatlah bahwa setiap orang memiliki alasan untuk tetap bahagia. Di balik setiap kehidupan, selalu ada nikmat yang bisa disyukuri, sekecil apa pun itu. Dengan menyadari hal ini, kita akan lebih mampu melihat sisi terang kehidupan dan tidak tenggelam dalam perasaan paling tersulit sendiri.
Kajian Ahad Pagi, 12 April 2026, di Masjid Al Hidayah Sangen, bersama Ustazah dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ. (Psikiater di RSUD Wonosari Gunungkidul Yogyakarta dan Aktivis Pencegahan Bundir)


