MEDIA AN NUUR—Salah satu segmen menarik dalam podcast Close the Door milik Deddy Corbuzier adalah seri “Login”. Segmen ini dipandu oleh Habib Husein Ja'far Al Hadar, Tretan Muslim, dan Mamat Alkatiri, yang menghadirkan obrolan santai tapi banyak dagingnya, berbincang seputar agama dan menyikapi perbedaan cara pandang dari berbagai kelompok.
Pada episode ke-18, yang tayang pada 7 Maret 2026, hadir Ustaz Derry Sulaiman sebagai bintang tamu. Beliau merupakan seorang artis dan pendakwah Jamaah Tabligh asal Solok, Sumatera Barat. Sempat berkecimpung di dunia musik metal sebelum akhirnya mundur pada tahun 2000 dan memilih untuk mendalami dakwah serta musik Islami.
![]() |
| Podcast “Login” mengajarkan banyak hal bagi pemirsa |
Episode kali ini membincangkan perjalanan hijrah sang ustaz kelahiran 1 Agustus 1978, serta jalan dakwah yang ditempuh, termasuk keterlibatan beliau bersama Jamaah Tabligh, yang membuatnya memilih untuk keluar dari band Betrayer.
Dari banyak pembahasan yang disampaikan, ada satu bagian yang cukup menyentil saya, tepatnya pada sekitar menit ke-45, di mana Ustaz Derry Sulaiman menyampaikan tentang hakikat dakwah, dari hasil perjalanan spiritual beliau.
“Dakwah itu perintah Allah.” Kalimat yang sangat singkat, namun menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah kewajiban yang tidak bisa dilepaskan dari seorang muslim. Siapa pun itu, apa pun profesinya.
Namun, yang lebih dalam adalah ketika beliau melanjutkan: “Dakwah ini sepertinya memperbaiki orang lain, namun hakikat dakwah itu memperbaiki diri orang yang berdakwah. Harus dipahami, orang lain itu sarana dakwah, diri kita sasaran dakwah.”
Di titik ini, cara pandang saya seakan dibalik. Selama ini, mungkin dakwah lebih sering dipahami sebagai upaya memperbaiki orang lain. Fokusnya keluar. Padahal sejatinya, justru diri sendirilah yang sedang diperbaiki melalui proses itu.
Apa yang Ustaz Derry katakan, seperti menempatkan ulang posisi. Bahwa orang lain hanyalah perantara, sedangkan yang menjadi target utama adalah diri sendiri. Maka setiap aktivitas dakwah sesungguhnya adalah cermin untuk melihat kekurangan diri.
Ketika direnungkan, kalimat ini terasa sangat dekat dengan realitas keseharian. Dalam aktivitas saya di TPQ, kajian remaja, maupun keterlibatan dalam PCM Weru dan pesantren, sering kali muncul keinginan melihat perubahan pada orang lain. Ingin mereka menjadi lebih baik.
![]() |
| Banyak perkataan Ustaz Derry Sulaiman membuka pikiran pemirsa |
Padahal bisa jadi, di situlah sebenarnya Allah sedang memperbaiki diri saya. Ustaz Derry melanjutkan, “Jadi, siapapun ya, yang salah niat dalam berdakwah maka akan terhenti perbaikan dalam dirinya.” Sebuah kalimat yang terasa seperti alarm.
Sentilan bagi semua yang berdakwah, bahwa kesalahan niat bisa menghentikan proses perbaikan pada diri sendiri. “Contohnya, kita niat dakwah sama orang untuk memperbaiki orang lain, maka kalau dia baik kita sombong. Ini gara-gara gua, kan.”
Betapa halusnya perasaan itu. Ketika melihat perubahan pada orang lain, muncul rasa memiliki andil besar. Tanpa sadar, dakwah yang seharusnya mendekatkan kepada Allah justru membuka pintu kesombongan.
“Atau sebaliknya, dia tidak mau, kita akan putus asa dalam dakwah, aku tidak bisa dakwah, aku tidak mau dakwah lagi.” Di sinilah sering muncul kelelahan dan kekecewaan. Ukuran keberhasilan diletakkan pada respons orang lain, bukan pada keikhlasan dalam menjalankan perintah.
Dari sini, saya mulai merenung. Bahwa aktivitas dakwah yang selama ini dijalani, baik ketika mengajar di TPQ, mengelola kajian remaja, hingga berkhidmat di lingkungan PCM Weru dan pesantren, harusnya bukan tentang seberapa banyak orang yang berubah. Tetapi tentang seberapa jauh diri ini berubah.
Ketika menghadapi santri yang sulit diatur, mungkin itu sedang melatih kesabaran. Ketika kajian tidak berjalan sesuai harapan, mungkin itu sedang menguji keikhlasan. Ketika amanah terasa berat, mungkin itu sedang meluruskan niat.
Maka, yang perlu terus dijaga adalah arah hati. Bahwa dakwah bukan hanya tentang menyampaikan, tetapi juga tentang memperbaiki diri. Bukan hanya tentang orang lain, tetapi tentang perjalanan pribadi menuju Allah.
Dan dari potongan nasihat itu, saya kembali diingatkan: bahwa dakwah ini, sejatinya, adalah jalan panjang untuk memperbaiki diri. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diri saya sendiri. Terima kasih nasihatnya, Ustaz Derry Sulaiman, semoga Allah senantiasa menjaga Ustaz.



