MEDIA AN NUUR–Apa yang kita cari dalam kenikmatan duniawi sejatinya bisa kita peroleh dengan cara yang lebih berkah, yaitu dengan memaksimalkan usaha untuk meraih akhirat. Sebab ketika orientasi hidup kita tertuju pada rida Allah, maka kita akan mendapat pahala, serta diberi kecukupan dan kemudahan dalam urusan dunia.
مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ، جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
“Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan menjadikan kecukupan dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.” (HR. At-Tirmidzi)
![]() |
| Ustaz Arif menyampaikan bahwa akhirat lebih utama dari dunia |
Manusia memang memiliki kecenderungan kuat untuk mencintai harta, dan Allah tidak mengabaikan fitrah tersebut. Bahkan dengan rahmat-Nya, Dia membuka jalan dunia itu tetap bisa terpenuhi dengan mengoptimalkan akhirat, yaitu dengan menjadikan keduanya dapat diraih sekaligus dengan ketaatan.
Namun, Allah mengingatkan bahwa kenikmatan duniawi pada hakikatnya hanyalah kesenangan yang semu dan sementara, kecuali apabila ia dimanfaatkan sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan yang hakiki dan abadi di akhirat.
يٰقَوْمِ اِنَّمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا مَتَا عٌ ۖ وَّاِنَّ الْاٰ خِرَةَ هِيَ دَا رُ الْقَرَا رِ
“Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir 40: 39)
Maka ketika kita mampu memahami hakikat yang sebenarnya, kita akan lebih bijak dalam mengarahkan aktivitas mencari rezeki dengan niat untuk akhirat. Bekerja bukan sekadar mengejar keuntungan dunia, tetapi sebagai jalan meraih rida Allah, sehingga kita pun terjaga dari sikap menghalalkan segala cara dalam mencapainya.
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 17)
![]() |
| Jemaah Subuh Masjid An Nuur Sidowayah |
Imam Al-Ghazali menyampaikan bahwa dunia adalah ladang bagi akhirat, sebagai tempat bercocok tanam untuk akhirat. Setiap amal yang kita lakukan di dunia, baik berupa ketaatan maupun kelalaian, akan menjadi benih yang kelak dipanen hasilnya di akhirat. Maka perbanyaklah menanam kebaikan demi meraih kebahagiaan di akhirat.
Bukan berarti kita mengabaikan urusan dunia, karena Islam juga mengajarkan keseimbangan. Bahkan Allah menyukai hamba yang berusaha dengan baik hingga mampu meninggalkan harta bagi ahli warisnya, sehingga mereka dapat hidup berkecukupan tanpa harus meminta-minta kepada orang lain.
Di sisi lain, Allah juga menganjurkan kita untuk bersikap qanaah, yaitu menerima apa yang diberikan dengan penuh kerelaan dan rasa cukup, sehingga kita menyadari bahwa dunia bukanlah tujuan utama, melainkan sekadar sarana yang mengantarkan kita menuju kebahagiaan akhirat.
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia), dan jangan melihat kepada yang di atas kalian, karena hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim)
Kiat penting dalam menjaga hati agar tetap bersyukur dan qanaah adalah dengan melihat kepada orang yang berada di bawah kita dalam urusan dunia, kita akan lebih mudah menyadari besarnya nikmat Allah, sehingga tidak terjebak dalam rasa kurang dan keinginan yang berlebihan, serta tetap fokus menjadikan akhirat sebagai tujuan utama.
![]() |
| Sarapan bersama penuh keberkahan |
Terakhir, ketika kita merasa sempit dalam berbagai urusan, maka kembalilah mendekat kepada Allah dengan memperbanyak mengingat-Nya, salah satunya melalui membaca Al-Qur’an, karena di dalamnya terdapat ketenangan hati, petunjuk hidup, serta jalan keluar dari setiap kesulitan yang kita hadapi.
Materi Kajian Gerakan Subuh Berjamaah di Masjid An Nuur Sidowayah pada Jumat, 24 April 2026 bersama Ustaz Arif Fahrudin, S.Pd.I. (pengasuh Ponpes Modern Muhammadiyah Sangen, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PCM Weru)




