MEDIA AN NUUR—Banyak amalan di bulan Ramadan yang telah kita jalani, seperti puasa, salat tarawih, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan berbagai amal kebaikan lainnya. Harapannya tentu agar kita mendapatkan rida Allah dan meningkat derajat ketakwaan kita di hadapan-Nya.
Allah menjelaskan tujuan puasa dalam firman-Nya, yang menunjukkan bahwa tujuan utama puasa adalah untuk membentuk pribadi yang bertakwa kepada Allah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
![]() |
| Muhammad Izzuddin Al Qossam |
Namun, kita juga harus menyadari bahwa kehidupan di dunia ini tidak berlangsung selamanya. Setiap manusia pasti akan menghadapi kematian yang menjadi gerbang menuju kehidupan akhirat.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali Imran: 185)
Karena itu, setiap muslim tentu berharap dapat meninggal dalam keadaan husnul khatimah dan masuk ke dalam surga. Bekal utama yang harus kita bawa untuk menuju kehidupan akhirat adalah ketakwaan kepada Allah.
Dalam Islam, mengandai-andai terhadap sesuatu yang sudah terjadi tidak dianjurkan, apalagi jika hanya untuk menyesali masa lalu. Namun mengandai-andai untuk perkara yang belum terjadi dengan niat kebaikan masih diperbolehkan.
Misalnya seseorang berkata: “Jika Allah memberi saya rezeki yang banyak, maka saya akan bersedekah dan berhaji.” Atau seseorang berkata: “Jika saya tidak diberi kesempatan bertemu Ramadan tahun depan, maka semoga Ramadan tahun ini menjadi Ramadan terbaik dalam hidup saya.”
Karena itu, marilah kita memaksimalkan amal ibadah di bulan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kesempatan yang berharga ini berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas kebaikan dalam diri kita.
كَيْفَ لَا تَجْرِي لِلْمُؤْمِنِ عَلَى فِرَاقِهِ دُمُوعٌ وَهُوَ لَا يَدْرِي هَلْ بَقِيَ لَهُ فِي عُمْرِهِ إِلَيْهِ رُجُوعٌ
“Bagaimana mungkin air mata seorang mukmin tidak menetes saat berpisah dengan Ramadan, sementara ia tidak tahu apakah dalam sisa umurnya masih ada kesempatan untuk kembali bertemu dengannya.” (Perkataan Ibnu Rajab Al‑Hanbali)
Kultum Subuh pada Selasa, 17 Maret 2026 bersama Muhammad Izzuddin Al Qossam, santri Ponpes Qoryatul Qur'an yang sedang iktikaf di Masjid An Nuur Sidowayah.


