MEDIA AN NUUR–Ramadan adalah nikmat besar dari Allah yang diberikan kepada kaum muslimin. Di bulan ini, pahala dilipatgandakan, pintu kebaikan dibuka lebar, dan kesempatan memperbaiki diri terbentang luas.
Ramadan bukan hanya bulan ibadah fisik, tetapi juga bulan penguatan nilai-nilai keimanan. Tak sekadar berlapar dahaga tapi maknanya lebih jauh dari itu. Berikut ini adalah nila yang Allah tanamkan.
![]() |
| Anas Sikhadin Maula |
Pertama, panggilan iman di bulan Ramadan. Allah memanggil orang-orang beriman secara khusus dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, memerintahkan mereka untuk berpuasa.
Panggilan “yaa ayyuhalladzina amanu” menunjukkan bahwa puasa adalah konsekuensi dari iman. Semakin kuat iman seseorang, semakin ringan ia menjalankan puasa.
Kedua, perintah ikhlas dan mengharap pahala. Puasa harus dilandasi keimanan dan harapan pahala dari Allah. Rasulullah ï·º bersabda, “Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Ketiga, menghadirkan sifat muraqabah (merasa diawasi Allah). Puasa adalah ibadah yang sangat khusus. Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa puasa itu untuk Allah dan Allah sendiri yang akan membalasnya.
Berbeda dengan ibadah lain yang tampak secara lahir, puasa melatih kejujuran karena hanya Allah yang benar-benar mengetahui apakah seseorang berpuasa dengan sungguh-sungguh atau tidak. Dari sini tumbuh sifat muraqabah: merasa selalu diawasi Allah dalam setiap keadaan.
Keempat, bersanding dengan Al-Qur’an. Ramadan juga mulia karena di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185.
Kedekatan Ramadan dengan Al-Qur’an menjadi salah satu sebab kemuliaannya. Karena itu, orang beriman akan memperbanyak tilawah, tadabbur, dan mengamalkan Al-Qur’an di bulan ini.
Semoga kita mampu menghidupkan Ramadan dengan iman yang kuat, hati yang ikhlas, merasa diawasi Allah, dan senantiasa dekat dengan Al-Qur’an, sehingga Ramadan benar-benar meningkatkan kualitas keimanan kita.
Kultum Tarawih di Masjid An Nuur Sidowayah pada 23 Februari 2026, disampaikan oleh Anas Sikhadin Maula, santri Ponpes Qoryatul Qur'an yang bertugas Safari Dakwah Ramadan 1447 H


