MEDIA AN NUUR–Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadan dan memberi kesempatan untuk menunaikan puasa, agar kita bisa menjadi pribadi yang bertakwa.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Puasa mulai diwajibkan pada tahun ke-2 Hijriah, pada bulan Syakban. Pada masa awal turunnya perintah ini, sebagian sahabat masih belum memahami secara rinci batasan waktu berpuasa. Di antara sahabat yang mengalami hal tersebut adalah Qais bin Shirmah (dari kalangan Anshar).
![]() |
| Muhammad Nashruddin |
Dikisahkan, beliau bekerja keras di siang hari dalam keadaan berpuasa. Ketika waktu berbuka tiba, ia pulang dan tidak ada makanan. Karena kelelahan, ia tertidur sebelum sempat makan.
Saat terbangun, ia mengira tidak boleh lagi makan sehingga ia melanjutkan puasanya hingga hari berikutnya tanpa berbuka. Akibatnya, ia sangat lelah hingga pingsan. Peristiwa ini kemudian disampaikan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Lalu Allah menurunkan Surah Al-Baqarah ayat 187 yang menjelaskan batas waktu puasa dengan tegas:
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ...
“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istrimu… dan makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam…” (QS. Al-Baqarah: 187)
Dengan turunnya ayat ini, Allah menegaskan bahwa puasa dimulai sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Syariat menjadi jelas dan tidak memberatkan. Dari sini kita belajar bahwa Islam adalah agama yang penuh rahmat, tidak menyulitkan, dan selalu membawa kemudahan bagi umatnya.
Kultum Tarawih di Masjid An Nuur Sidowayah pada 18 Februari 2026, disampaikan oleh Muhammad Nashruddin (Nashru), santri Ponpes Qoryatul Qur'an asal Karangmojo, Weru yang bertugas Safari Dakwah Ramadan 1447 H


