NqpdMaBaMqp7NWxdLWR6LWtbNmMkyCYhADAsx6J=

MASIGNCLEANLITE104

Ramadan: FOMO atau Fokus Ibadah?

MEDIA AN NUUR–Apa yang paling mahal di dunia ini? Barangkali ada yang menjawab mobil mewah, rumah bertingkat, emas, permata, dan berbagai harta benda lainnya. Namun, bagi seorang muslim, yang paling mahal bukanlah semua itu. Yang termahal adalah iman dan hidayah.

Iman dan hidayah menjadi sesuatu yang paling mahal. Sebab, sekaya apa pun manusia, tanpa hidayah ia bagaikan orang yang mati. Hidupnya mungkin tampak mewah dan penuh kenikmatan, tetapi tidak memiliki arah dan makna. Ia tidak mengenal Allah, tidak beribadah, dan tidak berzikir kepada-Nya.

Padahal, hidayah bukanlah sesuatu yang bisa dibeli dengan harta atau diraih semata-mata dengan usaha manusia. Hidayah adalah anugerah yang Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Karena itulah, iman dan hidayah jauh lebih berharga daripada seluruh kekayaan dunia.

Andrean Nur Kholis
Ustaz Andre mengingatkan agar ibadah Ramadan jangan sekadar FOMO

Dengan iman dan hidayah, kita mengetahui dari mana kita diciptakan, untuk apa kita diciptakan, dan akan ke mana setelah meninggal dunia. Kita sadar bahwa kita berasal dari Allah, hidup di dunia ini bukan sekadar untuk makan, bekerja, dan menikmati kesenangan, tetapi untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya.

Iman memberi keyakinan, sementara hidayah menuntun langkah agar keyakinan itu terwujud dalam amal. Dengan keduanya, hidup menjadi terarah, hati menjadi tenang, dan setiap perjalanan hidup memiliki tujuan yang jelas, yaitu kembali kepada Allah dengan membawa amal terbaik.

Imanlah yang membuat kita berpuasa di bulan Ramadan, bukan sekadar karena kebiasaan atau suasana. Di era media sosial, kebiasaan FOMO bisa membuat seseorang berpuasa hanya karena ikut tren atau ingin terlihat religius. Karena itu, kita harus menjaga niat agar puasa benar-benar karena Allah, bukan karena manusia.

FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu rasa takut ketinggalan sesuatu yang sedang tren, ramai, atau dilakukan banyak orang. Dalam konteks ibadah, FOMO bisa membuat seseorang berbuat bukan karena kesadaran dan iman, tetapi karena tidak ingin merasa tertinggal dari yang lain.

Salah satu bentuk FOMO saat Ramadan adalah ikut bukber hanya untuk seru-seruan tanpa peduli pada kajiannya. Padahal, jika menghadiri bukber, seharusnya kita lebih memilih yang bisa meningkatkan iman, bukan sekadar mencari keramaian.

Iman perlu di-charge dengan rutin mengikuti kajian, berkumpul bersama orang-orang saleh, dan terlibat dalam berbagai aktivitas keagamaan. Dengan itu, hati menjadi hidup, semangat ibadah terjaga, dan keimanan terus bertambah, tidak melemah oleh kesibukan dunia.

Ramadan bukan FOMO
Dalam beribadah harus paham esensinya 

FOMO boleh-boleh saja selama kita mampu menimbang mana yang baik dan mana yang buruk, serta tidak kehilangan prinsip. Jangan sampai kita berbuat hanya karena ikut-ikutan tanpa landasan yang jelas. Seperti dalam berpuasa dan tilawah, semuanya harus didasari iman, bukan sekadar mengikuti tren. Karena yang utama bukanlah ramai atau viralnya, tetapi esensi dan keikhlasan di dalamnya.

Kita beramal di bulan Ramadan harus didasari iman dan pemahaman akan esensinya, bahwa setiap amalan di bulan yang mulia ini bernilai pahala berlipat ganda. Kita berpuasa, tarawih, dan tilawah dengan harapan meraih rida Allah, bukan sekadar mengikuti suasana.

Pastikan bahwa ikut-ikutan bukanlah level kita. Seorang mukmin beramal dengan kesadaran dan keyakinan, sehingga setiap ibadah yang dilakukan benar-benar bernilai di sisi Allah. Maka, Ramadan bukan sekadar FOMO tapi fokus ibadah.

Kajian Remaja Masjid An Nuur Sidowayah pada Rabu, 18 Februari 2026 pukul 16.30 WIB sampai buka puasa. Pemateri Ustaz Andrean Nur Kholis, S.H. (pengajar di Ponpes Qoryatul Qur'an)

Share This Article :
Wakhid Syamsudin

Berusaha menjadi orang bermanfaat pada sesama melalui tulisan. Saat ini mengelola blog Media An Nuur (www.media-annuur.com), Bicara Cara (www.bicaracara.my.id), dan blog pribadi (www.syamsa.my.id)

2907636960708278822