MEDIA AN NUUR–Malaikat adalah makhluk Allah yang memiliki wewenang dan tugas yang telah ditetapkan oleh Allah, di antaranya menyampaikan risalah atau wahyu kepada para nabi dan rasul. Salah satu malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu tersebut adalah Malaikat Jibril.
Secara bahasa, kata malaikat berasal dari bahasa Arab malaa’ikah (الملائكة), bentuk jamak dari malak (مَلَك), yang bermakna utusan. Disebut demikian karena malaikat merupakan utusan Allah yang menjalankan tugas-tugas yang diperintahkan-Nya, di antaranya menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul.
Keimanan kepada malaikat merupakan rukun iman yang kedua, sebagaimana disebutkan dalam hadis Jibril, yaitu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir yang baik maupun yang buruk.
![]() |
| Ustaz Arif Fahrudin menerangkan tentang malaikat |
Cara mengimani malaikat diawali dengan meyakini keberadaan malaikat meskipun kita tidak dapat melihatnya. Malaikat termasuk makhluk gaib yang keberadaannya wajib kita imani berdasarkan berita yang disampaikan oleh Allah dan Rasulullah saw.
خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ
“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian.” (HR. Muslim)
Malaikat memiliki sifat selalu taat kepada Allah dan tidak pernah bermaksiat kepada-Nya. Mereka senantiasa melaksanakan setiap perintah Allah tanpa membangkang.
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Malaikat termasuk makhluk Allah yang memiliki kewajiban untuk beribadah dan menaati perintah-Nya. Namun, malaikat memiliki sifat yang berbeda dengan manusia dan jin. Malaikat senantiasa taat kepada Allah dan tidak pernah bermaksiat kepada-Nya.
Malaikat memiliki bentuk dan sifat yang telah dikabarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan Rasulullah saw. dalam hadis. Di antara bentuk malaikat yang disebutkan dalam dalil adalah memiliki sayap.
الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ
“Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat.” (QS. Fatir: 1)
Malaikat memiliki sayap dengan jumlah yang berbeda-beda sesuai dengan kehendak Allah. Kita wajib mengimani sifat dan bentuk malaikat sebagaimana yang dikabarkan dalam dalil, tanpa menyerupakan mereka dengan makhluk lain atau membayangkan hakikat bentuknya tanpa dasar.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. mengabarkan tentang besarnya bentuk malaikat. Disebutkan bahwa jarak antara daun telinga dan bahu malaikat sangat jauh, yaitu sejauh perjalanan 700 tahun.
Malaikat dapat menampakkan diri kepada hamba Allah dalam bentuk manusia laki-laki atas izin Allah. Hal ini sebagaimana kisah Malaikat Jibril yang datang menemui Maryam dalam bentuk manusia yang sempurna.
فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
“Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.” (QS. Maryam: 17).
Demikian pula, Malaikat Jibril pernah datang kepada Rasulullah saw. dalam bentuk seorang laki-laki yang tidak dikenal, kemudian bertanya tentang Islam, iman, dan ihsan. Kisah ini dikenal sebagai hadis Jibril. Hal tersebut menunjukkan bahwa malaikat dapat menyerupai manusia atas izin Allah, tetapi hakikat aslinya tetap sebagai malaikat.
Malaikat Jibril pernah menampakkan diri dalam bentuk manusia yang menyerupai Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi, salah seorang sahabat Rasulullah saw. Beliau dikenal memiliki paras yang tampan. Dengan izin Allah, Malaikat Jibril dapat menjelma dalam rupa manusia, sebagaimana disebutkan dalam berbagai riwayat.
Selain itu, Malaikat Jibril juga pernah datang dalam bentuk seorang laki-laki yang tidak dikenal oleh para sahabat untuk mengajarkan tentang Islam, iman, dan ihsan dalam hadis Jibril yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Malaikat diciptakan oleh Allah dengan tugas-tugas tertentu yang telah ditetapkan-Nya. Setiap malaikat memiliki tugas masing-masing dan senantiasa melaksanakannya dengan taat tanpa membangkang.
Di antaranya ada Malaikat Jibril yang bertugas menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul, Malaikat Mikail yang bertugas mengurus hujan dan rezeki atas izin Allah.
Malaikat Israfil yang bertugas meniup sangkakala, serta Malaikat Maut yang bertugas mencabut nyawa. Kita wajib mengimani tugas-tugas malaikat sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis yang sahih.
Kita harus berhati-hati dalam menyikapi keberadaan dan tugas malaikat. Meskipun Allah memberikan tugas tertentu kepada malaikat, kita tidak boleh berdoa atau meminta kepada mereka, misalnya meminta rezeki kepada Malaikat Mikail.
Meminta rezeki harus ditujukan kepada Allah, karena Allah-lah satu-satunya yang mengatur dan memberikan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya. Malaikat hanyalah makhluk Allah yang menjalankan tugas sesuai dengan perintah-Nya.
Oleh karena itu, kita hendaknya langsung memohon kepada Allah, bukan kepada malaikat atau makhluk lainnya. Allah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” Doa dan permohonan ibadah harus ditujukan kepada Allah semata.
Mengimani malaikat berarti meyakini bahwa Allah menugaskan malaikat, khususnya Malaikat Jibril, untuk menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul. Dengan mengimani hal ini, kita semakin yakin bahwa risalah yang dibawa oleh para nabi dan rasul berasal dari Allah, bukan hasil karangan manusia.
Keyakinan tersebut juga menguatkan iman kita terhadap kebenaran ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah saw. sehingga kita semakin mantap dalam mengikuti petunjuk Allah dan menjalankan syariat-Nya.
Kajian Subuh “Jumat Berkah” di Masjid An Nuur Sidowayah, 23 Oktober 2026 bersama Ustaz Arif Fahrudin, S.Pd.I., Ketua Majelis Tarjih PCM Weru.


