MEDIA AN NUUR—Surah Al-Qari’ah merupakan salah satu surah dalam Al-Qur’an yang menggambarkan dahsyatnya hari kiamat sekaligus mengingatkan manusia agar mempersiapkan bekal sebelum menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
الْقَارِعَةُ مَا الْقَارِعَةُ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ نَارٌ حَامِيَةٌ
“Al-Qari’ah (Hari Kiamat). Apakah Al-Qari’ah itu? Dan tahukah kamu apakah Al-Qari’ah itu? Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)-nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, maka tempat kembalinya adalah Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qari’ah: 1–11).
Pada tiga ayat pertama, Allah mengulang penyebutan Al-Qari’ah sebanyak tiga kali. Pengulangan tersebut menunjukkan betapa penting dan dahsyatnya perkara yang sedang dibicarakan.
Al-Qari’ah merupakan salah satu nama hari kiamat. Nama ini berasal dari kata yang bermakna mengetuk atau mengguncang dengan keras, sehingga menggambarkan suatu peristiwa yang sangat dahsyat dan mengejutkan.
Hari kiamat memiliki banyak nama dalam Al-Qur’an, seperti Al-Haqqah dan Al-Zalzalah. Setiap nama menggambarkan sisi tertentu dari kedahsyatan hari tersebut. Al-Qari’ah menggambarkan hari yang benar-benar menggetarkan dan mengejutkan manusia.
![]() |
| Kajian tentang Surah Al-Qariah bersama Ustaz Ibnu Ka’ab |
Kedahsyatan itu tidak hanya dirasakan oleh orang yang masih hidup ketika kiamat terjadi. Orang-orang yang telah meninggal pun akan dibangkitkan kembali. Manusia kemudian menghadapi suatu keadaan yang sama sekali berbeda dari kehidupan sebelumnya.
Manusia digambarkan seperti al-farasy, yaitu makhluk yang beterbangan tanpa arah. Gambaran tersebut menunjukkan keadaan manusia yang kebingungan, terkejut, dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menghadapi kedahsyatan hari kiamat.
Demikian pula gunung-gunung yang selama ini kita kenal sebagai sesuatu yang kokoh dan kuat, ternyata pada hari kiamat akan menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Gambaran ini menunjukkan betapa dahsyatnya perubahan yang terjadi pada hari tersebut.
Setelah menggambarkan kedahsyatan hari kiamat, Allah kemudian mengarahkan perhatian manusia kepada perkara yang sangat menentukan, yaitu timbangan amal. Orang yang berat timbangan (kebaikan)-nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Yang ringan timbangannya, maka tempatnya neraka Hawiyah.
Inilah persoalan yang harus menjadi perhatian setiap manusia. Ketika hari kiamat tiba, yang menentukan bukanlah harta, kedudukan, popularitas, atau berbagai kenikmatan dunia, melainkan keadaan amal seseorang.
Selain kiamat kubra, setiap manusia juga pasti akan menghadapi kematian. Kita tidak pernah mengetahui kapan ajal akan datang. Bisa jadi seseorang masih merasa memiliki banyak waktu, tetapi ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala mengambil nyawanya secara tiba-tiba.
Jika kita menyadari bahwa kematian dapat datang kapan saja, maka sudah selayaknya Surah Al-Qari’ah menjadi pengingat dalam kehidupan sehari-hari. Setiap waktu harus digunakan untuk mempersiapkan diri dengan ketaatan kepada Allah.
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ، الْمَوْتَ
“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan, yaitu kematian.”
Mengingat kematian bukan berarti membuat seseorang kehilangan semangat menjalani kehidupan. Justru, mengingat kematian seharusnya membuat kita lebih sadar bagaimana memanfaatkan kehidupan.
Kelezatan makan, bersantai, bercengkerama bersama keluarga dan teman, serta berbagai kenikmatan dunia dapat berakhir seketika ketika kematian datang.
Karena itu, orang yang senantiasa mengingat kematian akan terdorong untuk bertanya kepada dirinya: sudahkah saya memiliki bekal untuk menghadap Allah? Bagaimana keadaan amal saya jika ajal datang hari ini?
Surah Al-Qari’ah memberikan gambaran tentang dua keadaan manusia. Ada orang yang berat timbangan amal kebaikannya, dan ada orang yang ringan timbangan amalnya.
Jika kita menginginkan kehidupan yang diridai Allah dan termasuk golongan yang berat timbangan amalnya, maka persiapan harus dilakukan sejak masih hidup. Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap kesempatan merupakan waktu untuk menambah bobot amal kebaikan.
Kehidupan dunia pada hakikatnya merupakan tempat ujian. Allah memberikan waktu, kesehatan, harta, pekerjaan, keluarga, dan berbagai kenikmatan untuk menguji apakah semua itu membuat kita semakin dekat kepada-Nya atau justru lalai.
Salah satu tantangan terbesar adalah ketika urusan dunia sedang berjalan dengan baik. Ketika pekerjaan ramai, bisnis mendapatkan banyak keuntungan, atau rezeki sedang melimpah, seseorang justru bisa terlena.
Di sinilah pentingnya menjaga salat lima waktu sebagai pengingat bahwa tujuan hidup bukan sekadar mengejar dunia. Ketika azan berkumandang, pekerjaan hendaknya dihentikan sejenak.
Tinggalkan aktivitas, kemudian tunaikan salat di masjid atau musala. Lima waktu salat menjadi jeda yang sangat penting di tengah kesibukan dunia. Ia mengingatkan manusia bahwa kehidupan ini memiliki tujuan yang lebih tinggi, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sesibuk apa pun seseorang dengan pekerjaannya, jangan sampai kesibukan tersebut membuatnya lalai dari Allah. Ketika waktunya salat tiba, berhentilah sejenak dan kembali menghadap kepada-Nya.
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk meninggalkan dunia. Kita boleh bekerja, berusaha, memiliki harta, bahkan menjadi orang kaya. Namun, semua itu harus ditempatkan pada posisi yang benar.
Pekerjaan harus dilakukan dengan cara yang sesuai syariat. Ketika datang waktu salat, pekerjaan ditinggalkan untuk memenuhi panggilan Allah. Ketika mendapatkan rezeki yang banyak, sebagian digunakan untuk sesuatu yang diridai Allah, seperti infak dan sedekah.
Dengan demikian, dunia boleh berada di tangan kita, tetapi jangan sampai dunia menguasai hati kita. Dunia digunakan sebagai sarana untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan akhirat.
Tujuan utama seorang Muslim adalah kehidupan akhirat. Karena itu, hati harus tetap tertuju kepada Allah dan kehidupan yang kekal. Dengan cara pandang seperti ini, seseorang dapat bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa menjadi budak dunia.
Kita juga harus menyadari bahwa umur manusia di dunia sangatlah singkat. Umumnya manusia tidak hidup sampai seratus tahun. Bahkan seseorang yang mencapai usia sembilan puluh tahun sudah tergolong jarang. Jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal, puluhan tahun kehidupan dunia ini sangatlah singkat.
Maka, selagi masih diberi kesempatan hidup, marilah kita memperbanyak amal saleh, menjaga salat, memperbanyak sedekah, menggunakan rezeki sesuai syariat, dan senantiasa mengingat kematian.
Jangan menunggu tua untuk mempersiapkan diri. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu memiliki banyak waktu untuk beribadah. Sebab kita tidak pernah tahu kapan Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggil kita.
Semoga ketika ajal datang, kita berada dalam keadaan dekat dengan Allah dan termasuk golongan orang-orang yang berat timbangan amal kebaikannya. Semoga Allah memberikan kita kehidupan yang baik di dunia, keselamatan ketika menghadapi hari kiamat, serta memasukkan kita ke dalam surga-Nya.
Kajian Remaja di Masjid An Nuur Sidowayah pada Ahad, 4 Oktober 2026 bakda Salat Isya bersama Ustaz Ibnu Ka'ab, S.Pd.I. (guru MIN 5 Sukoharjo).


