NqpdMaBaMqp7NWxdLWR6LWtbNmMkyCYhADAsx6J=

MASIGNCLEANLITE104

Empat Golongan Manusia dalam Menyikapi Dunia

MEDIA AN NUUR–Dunia merupakan tempat manusia menjalani kehidupan sekaligus ujian dari Allah Swt. Ada orang yang dikaruniai kekayaan melimpah, ada yang hidup dalam keterbatasan, ada yang memiliki ilmu, dan ada pula yang belum memahami bagaimana seharusnya menjalani kehidupan.

Rasulullah saw. menjelaskan bahwa manusia dalam menyikapi dunia terbagi menjadi empat golongan. Penjelasan ini memberikan pelajaran penting tentang hubungan antara harta, ilmu, niat, dan amal.

Hadis tentang Empat Golongan Manusia

عَنْ أَبِي كَبْشَةَ الْأَنْمَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ. وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ، يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ. وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ، لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ. وَعَبْدٌ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا، فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ.

Artinya: Dari Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya dunia itu untuk empat golongan manusia. (1) Seseorang yang Allah karuniai harta dan ilmu. Ia menggunakan hartanya untuk bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturahmi, dan menunaikan hak Allah yang ada pada hartanya. Orang ini menempati kedudukan yang paling utama. (2) Seseorang yang Allah karuniai ilmu, tetapi tidak memberinya harta. Ia memiliki niat yang tulus dan berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan beramal sebagaimana si Fulan.’ Maka, ia memperoleh pahala sesuai niatnya, sehingga pahala keduanya sama. (3) Seseorang yang Allah karuniai harta, tetapi tidak memberinya ilmu. Ia menggunakan hartanya tanpa ilmu, tidak bertakwa kepada Rabb-nya melalui hartanya, tidak menyambung silaturahmi, dan tidak menunaikan hak Allah yang ada pada hartanya. Orang ini menempati kedudukan yang paling buruk. (4) Seseorang yang tidak Allah karuniai harta maupun ilmu. Ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya sebagaimana si Fulan.’ Maka, karena niatnya tersebut, dosa keduanya sama.” (HR. At-Tirmidzi)

1. Memiliki Harta dan Ilmu serta Menggunakannya untuk Ketaatan

Golongan pertama adalah orang yang dikaruniai harta sekaligus ilmu. Ia memahami bahwa kekayaan bukan sekadar milik yang dapat digunakan sesuka hati, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Dengan ilmunya, ia mengetahui bagaimana memperoleh dan membelanjakan harta secara benar. Ia bertakwa kepada Allah, menyambung silaturahmi, serta menunaikan hak-hak Allah dalam hartanya.

Ust. Ahsan Jihadan
Ustaz Ahsan Jihadan menjelaskan empat golongan yang berbeda dalam menyikapi dunia 

Golongan ini menunjukkan bahwa kekayaan dapat menjadi jalan menuju kebaikan apabila disertai ilmu dan ketakwaan. Semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula kesempatan untuk memberikan manfaat kepada sesama.

2. Memiliki Ilmu, tetapi Tidak Memiliki Harta

Golongan kedua adalah orang yang memiliki ilmu, tetapi belum dikaruniai kelapangan harta. Ia melihat orang lain menggunakan kekayaannya untuk melakukan amal saleh, kemudian muncul keinginan yang tulus dalam dirinya untuk melakukan hal serupa.

Ia berkata, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan beramal sebagaimana orang itu.” Rasulullah saw. menjelaskan bahwa orang tersebut memperoleh pahala sesuai niatnya, sehingga pahala keduanya sama.

Hal ini mengajarkan bahwa keterbatasan harta tidak menutup pintu pahala. Seseorang tetap dapat memiliki niat yang mulia meskipun belum mampu mewujudkannya secara materi. Namun, yang dimaksud adalah niat yang benar-benar tulus dan sungguh-sungguh, bukan sekadar angan-angan tanpa keseriusan.

Karena itu, jangan merasa bahwa kebaikan hanya dapat dilakukan oleh orang kaya. Setiap orang dapat berbuat baik sesuai kemampuan dan kesempatan yang dimilikinya.

3. Memiliki Harta, tetapi Tidak Menggunakannya dengan Ilmu

Golongan ketiga adalah orang yang memiliki kekayaan, tetapi tidak menggunakannya berdasarkan ilmu dan tuntunan agama. Ia tidak menjadikan hartanya sebagai sarana untuk bertakwa kepada Allah, menyambung silaturahmi, maupun menunaikan hak-hak Allah.

Keadaan ini merupakan peringatan bahwa harta tidak otomatis menjadikan seseorang mulia. Kekayaan yang tidak disertai ilmu dapat membuat pemiliknya lalai terhadap kewajiban dan tanggung jawabnya.

Oleh sebab itu, seseorang tidak cukup hanya bersungguh-sungguh mencari rezeki. Ia juga perlu mempelajari bagaimana mendapatkan harta secara halal, mengelolanya dengan benar, dan membelanjakannya untuk hal-hal yang diridai Allah.

Harta yang digunakan untuk kebaikan dapat menjadi jalan pahala, sedangkan harta yang digunakan tanpa memperhatikan ketentuan agama dapat menjadi sebab keburukan.

4. Tidak Memiliki Harta dan Ilmu, tetapi Berniat Melakukan Keburukan

Golongan keempat adalah orang yang tidak memiliki harta maupun ilmu, tetapi berkeinginan menggunakan harta untuk keburukan sebagaimana orang yang menjadi teladannya.

Ia berkata, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan melakukan sebagaimana yang dilakukan orang itu.”

Jika orang yang diteladaninya menggunakan harta untuk kemaksiatan, ia pun berniat melakukan hal yang sama apabila memiliki kesempatan. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa keduanya memperoleh dosa yang sama.

Bagian ini mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menjaga niat dan memilih teladan. Jangan sampai kita menginginkan kehidupan seseorang hanya karena kekayaannya, tanpa memperhatikan bagaimana kekayaan tersebut diperoleh dan digunakan.

Perlu dipahami bahwa lintasan pikiran buruk yang tidak dikehendaki berbeda dengan niat sungguh-sungguh untuk melakukan keburukan. Hadis ini memberikan peringatan tentang kesungguhan niat seseorang untuk mengikuti perbuatan dosa.

Hadis ini mengajarkan bahwa manusia menghadapi ujian yang berbeda-beda. Ada yang diuji dengan kelimpahan harta, ada yang diuji dengan keterbatasan, dan ada pula yang diuji melalui niat serta pilihan hidupnya.

Karena itu, yang perlu kita perhatikan bukan sekadar berapa banyak harta yang dimiliki, melainkan bagaimana ilmu membimbing kita dalam menggunakannya dan ke mana niat mengarahkan langkah kita.

Jika Allah memberikan kekayaan, gunakanlah untuk ketaatan dan kemaslahatan. Jika belum memiliki kelapangan rezeki, jangan berhenti berbuat baik sesuai kemampuan. Belajarlah dari orang yang menggunakan nikmatnya untuk kebaikan, bukan sekadar menginginkan apa yang dimilikinya.

Pada akhirnya, dunia merupakan ujian bagi setiap manusia. Kekayaan dapat menjadi jalan kebaikan, sedangkan keterbatasan tidak menghalangi seseorang untuk meraih pahala. Sebaliknya, keduanya dapat membawa keburukan apabila disikapi dengan niat dan tindakan yang salah.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan berkah, serta hati yang tulus dalam menggunakan setiap nikmat untuk ketaatan kepada-Nya.

Pengajian Ahad pagi, 18 Oktober 2026, di Masjid Al Hidayah Sangen, bersama Ust. H. Ahmad Ahsan Jihadan, S.Psi., M.A.

Share This Article :
Wakhid Syamsudin

Berusaha menjadi orang bermanfaat pada sesama melalui tulisan. Saat ini mengelola blog Media An Nuur (www.media-annuur.com), Bicara Cara (www.bicaracara.my.id), dan blog pribadi (www.syamsa.my.id)

2907636960708278822