NqpdMaBaMqp7NWxdLWR6LWtbNmMkyCYhADAsx6J=

MASIGNCLEANLITE104

Tauhid Berbuah Surga

MEDIA AN NUUR–Ahli tauhid yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun akan mendapatkan keutamaan yang besar, yaitu Allah mengampuni dosa-dosanya berkat tauhid yang dimilikinya.

Seandainya seseorang datang menghadap-Nya dengan membawa dosa sepenuh bumi, tetapi ia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, niscaya Allah akan mendatanginya dengan ampunan sepenuh bumi pula.

Sedemikian besarnya keutamaan tauhid. Tapi seorang muslim tetap harus berusaha menjauhi maksiat, bertaubat, dan tidak meremehkan dosa.

مَنْ قَالَ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

“Barang siapa mengatakan, ‘Aku rida Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Rasulku,’ maka wajib baginya surga.” (HR. Muslim).

Ust. Fauzan
Ustaz Fauzan menerangkan tentang konsekuensi tauhid

Setiap orang yang bertauhid, yaitu beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya, pada akhirnya akan masuk surga. Keadaan mereka ada dua: pertama, orang yang bertauhid dan menjaga diri dari kesyirikan serta mendapatkan ampunan Allah, sehingga masuk surga tanpa diazab di neraka.

Kedua, orang yang bertauhid, tetapi melakukan maksiat dan belum mendapatkan ampunan Allah, sehingga bisa diazab di neraka sesuai dosa-dosanya. Dengan rahmat Allah, ia akan dikeluarkan dari neraka dan akhirnya dimasukkan ke dalam surga.

Tauhid harus dibangun di atas ilmu dan pemahaman terhadap ikrar yang diucapkan, yaitu meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb yang berhak disembah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Bertauhid bukan berarti seseorang tidak pernah berbuat dosa, karena manusia tidak mungkin terlepas dari kesalahan dan dosa. Namun, orang yang bertauhid harus berusaha menjauhi kesyirikan, menaati perintah Allah, dan segera bertaubat ketika melakukan dosa.

Jadi, kesempurnaan tauhid bukan berarti manusia terbebas dari segala dosa, melainkan ia menjaga kemurnian tauhidnya dan tidak menjadikan dosa sebagai alasan untuk meremehkan ketaatan kepada Allah.

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah dengan jujur dari hatinya, melainkan Allah mengharamkannya atas neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tauhid diucapkan lisan, diyakini dengan hati dan diwujudkan dengan konsekuensinya, yaitu beribadah hanya kepada Allah dan tidak syirik. Adapun dosa selain kesyirikan berada di bawah kehendak Allah; Dia dapat mengampuni atau mengazab pelakunya sesuai kehendak dan keadilan-Nya.

Kajian Subuh “Jumat Berkah” di Masjid An Nuur Sidowayah pada Jumat, 16 Oktober 2026, dengan pemateri Ustaz Fauzan Abu Darda, pengajar di Ma’had Ittibaussunnah Tawang, Weru.

Share This Article :
Wakhid Syamsudin

Berusaha menjadi orang bermanfaat pada sesama melalui tulisan. Saat ini mengelola blog Media An Nuur (www.media-annuur.com), Bicara Cara (www.bicaracara.my.id), dan blog pribadi (www.syamsa.my.id)

2907636960708278822