MEDIA AN NUUR—Mengucapkan hamdalah ketika mendapatkan kenikmatan dari Allah adalah hal yang lumrah dilakukan sebagai bentuk rasa syukur. Namun, yang luar biasa adalah ketika seseorang tetap mampu mengucapkan hamdalah saat menerima musibah.
Tetap bersyukur saat mendapatkan musibah menunjukkan kesabaran, keridaan terhadap ketetapan Allah, dan keyakinan bahwa di balik setiap ujian terdapat hikmah dan kebaikan yang Allah kehendaki.
Sabar adalah sikap kuat dalam menghadapi ujian dengan tetap berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah. Adapun tingkatan yang lebih tinggi adalah rida, yaitu menerima dengan lapang hati apa pun ketentuan Allah, karena yakin bahwa setiap takdir-Nya mengandung hikmah dan kebaikan.
إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ: قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ. فَيَقُولُ: قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ. فَيَقُولُ: مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ. فَيَقُولُ اللَّهُ: ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ، وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ.
“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berfirman kepada para malaikat-Nya, ‘Kalian telah mengambil anak hamba-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Allah berfirman, ‘Kalian telah mengambil buah hatinya?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Allah berfirman, ‘Apa yang dikatakan hamba-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Ia memuji-Mu dan mengucapkan istirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un).’ Maka Allah berfirman, ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di surga dan namakanlah rumah itu Baitul Hamd.’” (HR. Tirmidzi)
![]() |
| Ustaz Didik Efendi jelaskan keutamaan bersyukur kala mendapatkan musibah |
Orang yang tetap memuji Allah dan bersabar ketika mendapat musibah akan mendapatkan pahala yang besar. Bahkan, bagi orang yang kehilangan anak lalu tetap mengucapkan hamdalah dan istirja’, Allah menjanjikan Baitul Hamd di surga.
Sebagai gambaran nyata dari sikap tersebut, terdapat kisah Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu dan istrinya, Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha. Ketika anak mereka meninggal dunia saat Abu Thalhah sedang pergi, Ummu Sulaim tetap bersabar dan menerima ketentuan Allah.
Ketika suaminya pulang, ia tidak langsung menyampaikan kabar duka tersebut, tetapi terlebih dahulu menenangkan keadaan. Setelah itu barulah ia memberitahukan bahwa anak mereka telah meninggal.
Abu Thalhah kemudian mengadukan peristiwa itu kepada Rasulullah saw., lalu beliau mendoakan mereka agar Allah memberkahi malam mereka. Kisah ini menunjukkan bagaimana sabar, husnuzan, dan menerima ketentuan Allah dapat menjadi jalan datangnya keberkahan.
Dari keluarga tersebut kemudian lahir seorang anak yang diberi nama Abdullah, dan dalam riwayat disebutkan bahwa Abdullah memiliki keturunan yang banyak dan diberkahi.
Ada juga kisah Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu ketika sakit pada saat Fathu Makkah. Ia kemudian berkata kepada Rasulullah saw. bahwa ia memiliki harta dan hanya mempunyai seorang anak perempuan, lalu bertanya apakah ia boleh mewasiatkan seluruh hartanya.
Rasulullah saw. tidak mengizinkannya. Sa’ad kemudian bertanya tentang dua pertiga, lalu setengah, hingga akhirnya Rasulullah saw. membolehkan sepertiga, dan beliau bersabda bahwa sepertiga itu sudah banyak.
إِنَّكَ لَنْ تُخَلَّفَ فَتَعْمَلَ عَمَلًا تَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا ازْدَدْتَ بِهِ دَرَجَةً وَرِفْعَةً
“Sesungguhnya engkau tidak akan ditinggalkan (dalam keadaan hidup), lalu engkau melakukan suatu amalan yang dengannya engkau mengharapkan wajah Allah, kecuali dengannya derajat dan kedudukanmu akan bertambah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kisah ini juga mengajarkan husnuzan kepada Allah. Bahkan ketika sakit dan merasa ajal sudah dekat, seorang mukmin tetap mengharapkan pahala dari Allah dan memandang setiap keadaan sebagai kesempatan untuk mendapatkan kebaikan.
Salah satu latihan bersyukur ketika mendapat musibah adalah melihat nikmat yang masih Allah berikan di tengah kesulitan. Misalnya, ketika kendaraan mengalami ban bocor di tengah perjalanan, kita pasti mengeluh karena perjalanan menjadi terganggu.
Cobalah berusaha mengucapkan alhamdulillah karena yang bocor hanya satu ban, sementara ban lainnya masih baik, kendaraan masih dapat diperbaiki, dan kita masih diberi keselamatan.
Dengan cara seperti ini, kita belajar mengubah cara pandang: musibah tetap dirasakan sebagai ujian, tetapi kita tidak melupakan begitu banyak nikmat Allah yang masih ada.
Maka, biasakanlah bersyukur dalam setiap keadaan. Ketika musibah datang, lihatlah nikmat Allah yang masih tersisa, sehingga hati tetap tenang, kuat, dan husnuzan kepada Allah. Semoga Allah karuniakan Baitul Hamd untuk kita. Aamiin.
Kajian Subuh “Jumat Berkah” di Masjid An Nuur Sidowayah pada 2 Oktober 2026, dengan pemateri Ustaz H. Didik Efendi, S.T., Ketua MUI Kecamatan Weru.


