MEDIA AN NUUR–Kecintaan Allah adalah cita-cita tertinggi. Dia akan menjaga hamba yang dicintai-Nya, baik pendengaran atau penglihatannya, dan doanya mustajab. Kesalahannya pun diampuni.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali 'Imran: 31)
Ampunan dari Allah Swt. merupakan kebutuhan terbesar setiap manusia, karena tidak ada seorang pun yang terbebas dari dosa dan kekurangan. Dengan ampunan-Nya, pintu rahmat-Nya dibukakan.
وَسَارِعُوٓا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali 'Imran: 133)
Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bersegera menuju ampunan-Nya, sebab ampunan tersebut menjadi jalan menuju surga yang telah disiapkan bagi orang-orang yang bertakwa.
![]() |
| Ustaz Sandi Rahman menerangkan golongan yang Allah cintai |
Tanpa ampunan Allah, amal yang dilakukan tidak akan cukup untuk menyelamatkan seseorang, sedangkan dengan ampunan dan rahmat-Nya, seorang hamba dapat meraih kebahagiaan abadi di surga.
Delapan Golongan yang Dicintai Allah
1. Al-Muhsinin (Orang yang Ihsan)
Golongan pertama yang dicintai Allah adalah al-muhsinin, yaitu orang-orang yang berbuat ihsan. Ihsan berarti melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia.
وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik (al-muhsinin).” (QS. Al-Baqarah: 195)
Sikap ihsan inilah yang menjadi salah satu sebab seseorang mendapatkan cinta Allah Swt. Ihsan tampak dalam ibadah, sekaligus juga dalam akhlak, muamalah, dan setiap aktivitas kehidupan sehari-hari.
إِنَّ اللّٰهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ihsan atas segala sesuatu.” (HR. Muslim)
Ihsan dalam segala sesuatu, termasuk ketika dalam menunaikan kewajiban, bekerja secara profesional, serta memperlakukan orang lain dengan kebaikan dan kepedulian.
2. At-Tawwabin (Gemar Bertobat)
Golongan kedua yang dicintai Allah adalah at-tawwabin, yaitu orang-orang yang gemar bertobat dan senantiasa kembali kepada Allah setiap kali melakukan kesalahan.
إِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Taubat yang diterima adalah taubat yang dilakukan dengan penuh penyesalan, meninggalkan dosa yang telah dilakukan, serta bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Sungguh besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang bertobat.
لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ إِذَا اسْتَيْقَظَ عَلَى بَعِيرِهِ ، قَدْ أَضَلَّهُ بِأَرْضِ فَلَاةٍ
“Sungguh Allah lebih bergembira dengan tobat hamba-Nya yang mukmin daripada kegembiraan salah seorang di antara kalian ketika menemukan kembali kendaraannya yang hilang di padang pasir.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kita tidak boleh berputus asa karena dosa-dosa, tetapi hendaknya segera memohon ampunan, memperbaiki diri, dan memperbanyak amal saleh. Sikap gemar bertobat merupakan salah satu tanda kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya dan menjadi sebab datangnya cinta Allah Swt.
3. Al-Mutathahhirin (Bersuci Lahir Batin)
Golongan ketiga yang dicintai Allah adalah al-mutathahhirin, yaitu orang-orang yang senantiasa menjaga kesucian lahir dan batin.
إِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Kesucian yang dimaksud tidak hanya berupa kebersihan badan, pakaian, dan tempat dari najis serta hadas, tetapi juga kebersihan hati dari syirik, riya, hasad, dengki, dan berbagai penyakit hati lainnya.
الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ
“Bersuci itu adalah separuh iman.” (HR. Muslim)
Betapa pentingnya menjaga kebersihan dan kesucian dalam Islam. Seorang muslim yang dicintai Allah adalah mereka yang membiasakan diri hidup dalam keadaan suci, menjaga wudu, dan memperhatikan kebersihan lingkungan.
Termasuk juga membersihkan hatinya dengan zikir, istigfar, dan amal saleh. Dengan kesucian lahir dan batin tersebut, seorang hamba akan lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah dan meraih cinta-Nya.
4. Al-Muttaqin (Bertakwa di Manapun)
Golongan keempat yang dicintai Allah adalah al-muttaqin, yaitu orang-orang yang bertakwa kepada Allah dalam setiap keadaan, baik ketika sendiri maupun di hadapan orang lain. Takwa berarti menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan rasa takut kepada-Nya.
فَمَا اسْتَقَامُوا لَكُمْ فَاسْتَقِيمُوا لَهُمْ ۚ إِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
“Selama mereka berlaku lurus terhadapmu, maka berlaku luruslah kamu terhadap mereka. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 4)
Takwa bukan hanya tampak dalam ibadah, tetapi juga dalam kejujuran, amanah, dan sikap menjaga diri dari segala bentuk kemaksiatan.
اتَّقِ اللّٰهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)
Takwa harus hadir dalam seluruh aspek kehidupan. Ketika bersalah segera memperbaikinya dengan amal kebaikan dan tetap menjaga akhlak yang mulia kepada sesama. Orang yang senantiasa bertakwa di mana pun berada itulah yang berhak mendapatkan cinta Allah Swt.
5. As-Shabirin (Penyabar)
Golongan kelima yang dicintai Allah adalah as-shabirin, yaitu orang-orang yang sabar dalam menjalankan ketaatan, menjauhi kemaksiatan, dan menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Kesabaran merupakan salah satu akhlak mulia yang sangat ditekankan dalam Islam karena menjadi kunci keteguhan iman dan keberhasilan seorang hamba dalam meraih keridaan Allah.
وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali 'Imran: 146)
Para nabi dan pengikut mereka tetap tegar menghadapi berbagai kesulitan di jalan Allah. Mereka tidak lemah, tidak menyerah, dan tidak putus asa, sehingga memperoleh cinta dan pertolongan dari Allah.
وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sabar merupakan karunia yang sangat besar. Dengan kesabaran, seseorang mampu menghadapi cobaan hidup dengan lapang dada, tetap istikamah dalam ketaatan, serta tidak mudah terjatuh dalam keputusasaan.
Karena itu, seorang muslim hendaknya melatih dirinya untuk bersabar dalam setiap keadaan, sebab kesabaran adalah salah satu jalan untuk meraih cinta Allah Swt.
6. Al-Mutawakkilin (Bertawakal dengan Benar)
Golongan keenam yang dicintai Allah adalah al-mutawakkilin, yaitu orang-orang yang bertawakal kepada Allah dengan benar. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi bersungguh-sungguh melakukan ikhtiar kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh keyakinan.
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۚ إِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali 'Imran: 159)
Tawakal yang benar selalu disertai usaha. Rasulullah saw. memberikan contoh seperti seekor burung yang tidak tinggal diam di dalam sarangnya saja, tetapi keluar untuk mencari rezeki, maka Allah mencukupinya.
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللّٰهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Demikian pula seorang mukmin hendaknya berikhtiar dengan sungguh-sungguh, kemudian menggantungkan hati hanya kepada Allah dan menerima apa pun hasil yang Allah tetapkan. Sikap inilah yang menjadi sebab datangnya cinta Allah Swt.
7. Al-Muqsithin (Berlaku Adil)
Golongan ketujuh yang dicintai Allah adalah al-muqsithin, yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam setiap keadaan. Keadilan berarti memberikan hak kepada yang berhak, tidak berat sebelah, serta tidak membiarkan rasa suka, benci, atau kepentingan pribadi memengaruhi keputusan.
وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ ۚ إِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Dan jika engkau memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah dengan adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Ma'idah: 42)
Keadilan harus diterapkan bukan hanya ketika menjadi pemimpin atau hakim, tetapi juga dalam keluarga, pekerjaan, pergaulan, dan setiap tanggung jawab yang diemban.
إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللّٰهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ، الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil berada di sisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya, di sebelah kanan Ar-Rahman. Mereka adalah orang-orang yang berlaku adil dalam keputusan mereka, terhadap keluarga mereka, dan dalam amanah yang mereka emban.” (HR. Muslim)
Seorang muslim hendaknya memberikan hak secara proporsional dan tidak menzalimi siapa pun. Dengan berlaku adil dalam berbagai keadaan, seorang hamba termasuk golongan yang mendapatkan cinta Allah Swt.
8. Yuqatiluna Shaffan (Berjuang dalam Barisan Rapi)
Golongan kedelapan yang dicintai Allah adalah yuqatiluna shaffan, yaitu orang-orang yang berjuang di jalan Allah dalam barisan yang rapi dan terorganisasi. Bukan dengan bercerai berai.
إِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. As-Saff: 4)
Rasulullah saw. menggambarkan pentingnya persatuan dan saling menguatkan seperti bangunan. Demikian pentingnya kebersamaan, kerapian, kedisiplinan, dan saling menguatkan dalam menjalankan kebaikan.
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan; sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Setiap orang memiliki peran yang saling melengkapi sehingga tujuan bersama dapat dicapai dengan lebih kuat dan terarah. Inilah semangat bersatu dalam kebaikan, disiplin dalam perjuangan, dan saling menguatkan karena Allah Swt.
Delapan golongan tersebut menunjukkan bahwa cinta Allah Swt. dapat diraih melalui berbagai bentuk ketaatan dan akhlak mulia. Karena itu, hendaknya kita berusaha menanamkan sifat-sifat tersebut dalam diri agar termasuk hamba-hamba yang dicintai Allah Swt.
Pengajian Ahad Pagi, 4 Oktober 2026, di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kalisige, Karakan, Weru. Pemateri Ustaz H. Sandi Rahman, S.Ag.


