NqpdMaBaMqp7NWxdLWR6LWtbNmMkyCYhADAsx6J=

MASIGNCLEANLITE104

Perumpamaan Infak yang Ikhlas di Jalan Allah

MEDIA AN NUUR—Allah memberikan perumpamaan yang sangat indah dan mudah dipahami tentang infak di jalan-Nya dalam Al-Qur’an, sebagaimana benih yang ditanam tidak hilang, tetapi tumbuh dan berkembang.

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Seorang mukmin tidak melihat infak sebagai kehilangan, tetapi sebagai menanam benih kebaikan yang kelak akan dipanen dengan hasil yang jauh lebih besar di dunia maupun di akhirat. Dari satu biji menjadi tujuh ratus biji, bahkan lebih sesuai kehendak Allah.

Ustaz Fauzan
Ustaz Fauzan menyampaikan tentang infak di jalan Allah

Orang yang berinfak dengan ikhlas diibaratkan seperti kebun subur di dataran tinggi. Tanahnya baik dan siap ditanami. Jika turun hujan lebat, hasilnya berlipat ganda. Jika hanya mendapat gerimis, tetap menghasilkan buah yang baik.

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang berada di dataran tinggi, yang disiram hujan lebat, lalu kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis pun sudah cukup. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 265)

Nilai amal tidak hanya ditentukan oleh jumlahnya. Sedikit atau banyak, selama dilakukan karena Allah, tetap bernilai besar di sisi-Nya. Hati yang beriman seperti tanah yang subur, yang menumbuhkan manfaat yang banyak.

Dengan demikian, infak yang dilakukan dengan ikhlas karena mengharap rida Allah ibarat kebun subur di dataran tinggi yang selalu menghasilkan buah yang baik, baik ketika disiram hujan lebat maupun hanya mendapat gerimis.

Hal ini mengajarkan bahwa nilai sebuah infak tidak semata-mata terletak pada besar kecilnya harta yang dikeluarkan, tetapi pada keikhlasan hati dan keteguhan iman yang melandasinya. Setiap Muslim hendaknya senantiasa membiasakan diri berinfak dengan niat yang tulus.

Pengajian warga Sidowayah RT 01 RW 06 pada Kamis malam, 20 Agustus 2026, di rumah Bapak Muh. Yusuf–Ibu Winarsih. Pemateri Ustaz Fauzan Abu Darda, pengajar di Ma'had Ittibaussunnah Tawang Weru.

Share This Article :
Wakhid Syamsudin

Berusaha menjadi orang bermanfaat pada sesama melalui tulisan. Saat ini mengelola blog Media An Nuur (www.media-annuur.com), Bicara Cara (www.bicaracara.my.id), dan blog pribadi (www.syamsa.my.id)

2907636960708278822