MEDIA AN NUUR—Alhamdulillah, kita kembali memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Yang harus kita yakini, kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah karunia dan pertolongan dari Allah Swt. Karena itu, kemerdekaan harus kita syukuri dengan meningkatkan keimanan, persatuan, dan amal kebaikan.
Kemerdekaan yang Allah berikan kepada manusia yang paling utama bukanlah kemerdekaan dari penjajahan dunia, melainkan kemerdekaan dari siksa neraka dan keberhasilan meraih surga. Kemerdekaan sejati adalah ketika seorang hamba mampu membebaskan dirinya dari dosa dan meraih keselamatan di akhirat.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imran: 185)
Para pahlawan yang berjuang mengusir penjajah adalah sarana yang Allah pilih untuk menghadirkan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Keberhasilan perjuangan itu tetap terjadi atas izin dan pertolongan Allah Swt. Karena itu, kita menghormati jasa para pahlawan sekaligus mensyukuri kemerdekaan sebagai karunia dari-Nya.
![]() |
| Ustaz Arif Fahrudin mengingatkan agar berhati-hati dalam memperingati kemerdekaan |
Bung Tomo, pahlawan nasional Indonesia yang dikenal sebagai pemimpin Pertempuran Surabaya tanggal 10 November 1945, pernah menyatakan bahwa andai tidak ada kalimat takbir, ia tidak tahu dengan cara apa lagi untuk membakar semangat para pemuda dalam melawan penjajah.
Merayakan kemerdekaan bukan hanya dengan menumbuhkan kebahagiaan, tetapi juga dengan memperkuat keimanan. Rasa syukur atas nikmat kemerdekaan hendaknya diwujudkan melalui ketaatan kepada Allah, menjaga persatuan, serta mengisi kemerdekaan dengan berbagai amal kebaikan yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan sesama.
Hindari 3 Hal dalam Merayakan Kemedekaan
Dalam memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, umat Islam dianjurkan untuk menghindari tiga hal yang dapat mengurangi nilai syukur atas nikmat kemerdekaan, yaitu berpakaian yang tidak sesuai adab, penyalahgunaan fasilitas umum, dan praktik perjudian dalam berbagai kegiatan perayaan.
1. Berpakaian Seperti Lawan Jenis
Dalam hal berpakaian, masyarakat hendaknya tetap menjaga adab dan kesopanan. Fenomena sebagian bapak-bapak yang mengenakan daster dalam berbagai lomba peringatan kemerdekaan sering dianggap sebagai hiburan.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: “Rasulullah Saw. melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari).
Maka perlu diperhatikan agar tidak mengandung unsur menyerupai lawan jenis yang dilarang dalam ajaran Islam. Kegembiraan boleh dirayakan, tetapi tetap dalam batas-batas yang menjaga kehormatan diri dan nilai-nilai agama.
Umat Islam hendaknya tidak menormalisasi perilaku tasyabbuh (menyerupai lawan jenis) dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Syariat memberikan tuntunan agar laki-laki menjaga identitas dan karakter kelaki-lakiannya, demikian pula perempuan menjaga identitas kewanitaannya.
Karena itu, meskipun dilakukan dengan alasan bercanda atau hiburan, setiap bentuk penyerupaan yang mengaburkan batas antara laki-laki dan perempuan patut dihindari agar nilai-nilai fitrah, adab, dan tuntunan agama tetap terjaga di tengah masyarakat.
2. Bijak Memanfaatkan Fasilitas Umum
Dalam menggunakan fasilitas umum, masyarakat hendaknya memanfaatkannya dengan baik dan tidak mengganggu pengguna jalan. Kegiatan perayaan kemerdekaan harus tetap memperhatikan kenyamanan, keselamatan, dan hak orang lain.
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ
“Ketika seseorang berjalan di suatu jalan, ia menemukan ranting berduri lalu menyingkirkannya. Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jika menyingkirkan gangguan dari jalan bernilai pahala, maka jangan sampai perayaan kemerdekaan justru menambah gangguan bagi masyarakat. Hendaklah bijak dalam memanfaatkan fasilitas umum.
3. Hadiah Lomba dari Uang Pendaftaran
Dalam penyelenggaraan lomba, masyarakat hendaknya menghindari praktik perjudian yang terselubung dalam bentuk uang pendaftaran yang kemudian seluruhnya atau sebagian besar dijadikan hadiah bagi para pemenang.
Fenomena ini perlu mendapat perhatian karena hadiah yang berasal dari kumpulan biaya peserta dapat mengandung unsur maisir (judi), yaitu adanya pihak yang untung dan pihak lain yang rugi. Semangat peringatan kemerdekaan seharusnya dibangun atas dasar kebersamaan dan sportivitas.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamar, judi (maisir), berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung.” (QS. Al-Ma'idah: 90)
Karena itu, hadiah lomba sebaiknya berasal dari sponsor, donatur, kas organisasi, atau pihak penyelenggara, bukan dari uang yang dipertaruhkan oleh para peserta. Agar tidak masuk dalam kategori berjudi yang dilarang dalam Islam.
Sebagai penutup, marilah kita mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan cara yang diridhai Allah Swt. Isi kemerdekaan dengan kebahagiaan, persatuan, dan amal saleh, serta jauhi segala hal yang bertentangan dengan syariat. Semoga Allah menjaga negeri ini dan mengaruniakan kepada kita kemerdekaan yang hakiki, yaitu keselamatan di dunia dan akhirat. Aamiin.
Pengajian Ahad Pagi, 16 Agustus 2026 di Masjid Al Hidayah Sangen bersama Ustaz Arif Fahrudin, S.Pd.I., Kepala MA Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Sangen


