MEDIA AN NUUR–Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan seluruh manusia untuk beribadah kepada-Nya semata karena Dialah yang telah menciptakan mereka. Sebagaimana manusia, jin juga diciptakan untuk tujuan yang sama, yaitu beribadah dan tunduk kepada Allah.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)
![]() |
| Ustaz Arif menjelaskan tentang penghalang kelezatan beribadah |
Allah memerintahkan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Sejalan dengan itu, Allah juga menjelaskan bahwa dengan beribadah, seorang hamba akan meraih ketakwaan dan semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Di antara yang membuat kita berat dalam beribadah adalah adanya kemaksiatan. Hati yang terbiasa dengan dosa akan sulit merasakan manisnya ketaatan. Padahal, di balik setiap ibadah terdapat kenikmatan yang hakiki, berupa ketenangan, kenyamanan, ketenteraman hati, serta harapan akan keselamatan dan kebahagiaan di akhirat kelak.
Adapun pelaku maksiat juga dapat merasakan kenikmatan, namun itu hanyalah kenikmatan semu yang bersifat sementara dan sering kali berujung pada penyesalan serta kegelisahan.
Oleh karena itu, kita perlu senantiasa memohon kepada Allah agar hati kita diberi kekuatan untuk mencintai ketaatan dan merasakan manisnya ibadah. Jangan sampai hati kita justru lebih mudah menikmati kemaksiatan daripada ketaatan.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا لَذَّةَ الْإِيمَانِ وَحَلَاوَةَ الْعِبَادَةِ، وَاصْرِفْ عَنَّا الْمَعَاصِيَ وَالشَّهَوَاتِ الْمُضِلَّةَ
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kenikmatan iman dan manisnya beribadah. Jauhkanlah kami dari kemaksiatan dan hawa nafsu yang menyesatkan.”
Mari kita amalkan doa di atas, memohon pada Allah agar diberikan kenikmatan iman, manisnya beribadah, serta dijauhkan dari kemaksiatan dunia dan hawa nafsu yang menyesatkan.
Kenikmatan dunia yang terus dikejar tanpa kendali dapat melalaikan manusia dari kehidupan akhirat. Salah satu kisah yang paling dikenal adalah Qarun, yang diberikan kekayaan melimpah, tetapi justru membuatnya sombong dan lalai dari Allah.
Karena kesombongan dan kedurhakaannya, Allah membenamkan Qarun beserta rumah dan hartanya ke dalam bumi sebagai pelajaran bagi manusia agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan.
Kita boleh mencari rezeki dan menikmati kenikmatan dunia dengan cara yang baik dan halal. Namun, jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita melupakan Allah dan kehidupan akhirat. Jadikan harta sebagai sarana untuk beribadah dan berbuat kebaikan, bukan sebagai tujuan utama kehidupan.
Kajian Subuh “Jumat Berkah” di Masjid An Nuur Sidowayah, 28 Agustus 2026 bersama Ustaz Arif Fahrudin, S.Pd.I., Ketua Majelis Tarjih PCM Weru.


