NqpdMaBaMqp7NWxdLWR6LWtbNmMkyCYhADAsx6J=

MASIGNCLEANLITE104

Menjadi Remaja yang Sabar dalam Ketaatan

MEDIA AN NUUR—Salah satu akhlak yang sangat penting dimiliki oleh setiap muslim adalah sabar. Dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi para remaja, kesabaran menjadi bekal yang sangat dibutuhkan.

Masa remaja adalah masa yang penuh dengan tantangan. Ada tantangan dalam belajar, bergaul, menjaga diri dari pengaruh buruk, menghadapi kegagalan, serta mempertahankan ketaatan kepada Allah di tengah berbagai godaan.

Irmas
Kajian remaja Sidowayah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200)

Tiga Macam Sabar

Para ulama menjelaskan bahwa kesabaran dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar meninggalkan maksiat, dan sabar menghadapi musibah. Ketiga jenis sabar ini harus dimiliki oleh seorang muslim agar dapat menjalani kehidupan dengan baik dan tetap istikamah di jalan Allah.

Sabar Melaksanakan Ketaatan

Jenis sabar yang pertama adalah sabar dalam ketaatan kepada Allah. Sabar jenis ini berarti bersungguh-sungguh dan istikamah dalam melaksanakan segala perintah Allah meskipun terkadang terasa berat.

Banyak orang mengira bahwa sabar hanya diperlukan ketika menghadapi musibah, padahal menjalankan ibadah juga membutuhkan kesabaran. Tanpa kesabaran kita tak akan mampu istikamah.

Bangun untuk Salat Subuh ketika udara masih dingin, menghafal Al-Qur'an secara rutin, menghadiri majelis ilmu, berbakti kepada orang tua, dan menghormati guru merupakan contoh amalan yang membutuhkan kesabaran.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132)

Ibadah tidak cukup hanya dikerjakan sesekali. Dibutuhkan kesabaran untuk menjaga konsistensi dan keistikamahan. Sering kali yang paling sulit bukanlah memulai sebuah amal saleh, tetapi mempertahankannya dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, seorang remaja muslim harus melatih dirinya untuk tetap taat kepada Allah dalam berbagai keadaan, baik ketika semangat maupun ketika sedang merasa malas.

Sabar Meninggalkan Maksiat

Jenis sabar yang kedua adalah sabar meninggalkan maksiat. Sabar ini berarti menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang Allah meskipun ada keinginan, kesempatan, dan dorongan hawa nafsu untuk melakukannya. Inilah bentuk kesabaran yang sangat dibutuhkan pada zaman sekarang.

Berbagai kemaksiatan dapat diakses dengan mudah melalui internet dan media sosial. Seorang remaja dituntut untuk mampu menjaga pandangan, menjaga lisan, menghindari pergaulan yang buruk, serta menolak ajakan yang dapat menjerumuskannya kepada dosa.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)

Keberhasilan seorang muslim bukan diukur dari seberapa bebas ia mengikuti keinginannya, tetapi dari kemampuannya mengendalikan hawa nafsu sesuai petunjuk Allah.

Ketika seseorang mampu meninggalkan maksiat padahal ia memiliki kesempatan untuk melakukannya, maka itulah salah satu tanda kuatnya iman di dalam hatinya.

Sabar Menghadapi Musibah

Jenis sabar yang ketiga adalah sabar menghadapi musibah. Setiap manusia pasti akan diuji oleh Allah. Tidak ada seorang pun yang hidup tanpa masalah. Ada yang diuji dengan sakit, kehilangan orang yang dicintai, kesulitan ekonomi, kegagalan dalam belajar, atau berbagai kesedihan lainnya.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang apabila ditimpa musibah mengucapkan: 'Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.'” (QS. Al-Baqarah: 155–156)

Sabar dalam menghadapi musibah bukan berarti tidak boleh sedih atau menangis. Kesabaran yang benar adalah tetap menerima takdir Allah, tidak berputus asa, tidak menyalahkan Allah, dan tetap berusaha melakukan hal-hal yang baik.

Seorang muslim yakin bahwa setiap ujian yang diberikan Allah pasti mengandung hikmah, meskipun terkadang hikmah tersebut belum dapat dipahami saat itu juga.

Jika kita melihat kehidupan para nabi, kita akan menemukan teladan kesabaran yang luar biasa. Nabi Muhammad menghadapi berbagai ujian selama berdakwah. Beliau dihina, dicaci, dituduh sebagai penyair dan orang gila, bahkan pernah dilempari batu oleh penduduk Thaif hingga tubuh beliau berdarah.

Namun beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan. Bahkan ketika ditawarkan malaikat untuk membinasakan mereka, beliau berharap agar dari keturunan mereka lahir orang-orang yang beriman kepada Allah. Sikap ini menunjukkan betapa agungnya kesabaran yang dimiliki oleh Rasulullah.

Sebagai remaja muslim, marilah kita berusaha melatih diri untuk memiliki ketiga jenis kesabaran tersebut. Bersabar dalam menjalankan perintah Allah, bersabar menjauhi segala bentuk maksiat, dan bersabar ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar, istikamah dalam ketaatan, mampu menjaga diri dari maksiat, dan tegar dalam menghadapi setiap ujian kehidupan. Aamiin.

Materi Kajian Remaja di Masjid An Nuur pada Ahad, 14 Juni 2026 bakda Isya, dengan pemateri Pak Wakhid Syamsudin.

Share This Article :
Wakhid Syamsudin

Berusaha menjadi orang bermanfaat pada sesama melalui tulisan. Saat ini mengelola blog Media An Nuur (www.media-annuur.com), Bicara Cara (www.bicaracara.my.id), dan blog pribadi (www.syamsa.my.id)

2907636960708278822