NqpdMaBaMqp7NWxdLWR6LWtbNmMkyCYhADAsx6J=

MASIGNCLEANLITE104

Kartini dan Lahirnya Tafsir Al-Qur’an untuk Pribumi

MEDIA AN NUUR–Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai pahlawan emansipasi wanita di Indonesia. Beliau memperjuangkan pendidikan dan kesempatan bagi kaum perempuan agar dapat belajar, berpikir, dan berkembang sebagaimana kaum laki-laki. Karena jasa besarnya itu, nama Kartini selalu dikenang dalam sejarah bangsa.

Namun yang jarang kita ketahui adalah bahwa perjuangan Kartini tidak hanya tentang emansipasi wanita. Ada kisah lain yang menunjukkan kepeduliannya terhadap kemajuan pemahaman agama umat Islam, khususnya terhadap Al-Qur’an.

Pada masa penjajahan Belanda, kondisi umat Islam banyak berada dalam keterbelakangan pendidikan. Salah satu tokoh kolonial yang berpengaruh saat itu adalah Snouck Hurgronje, seorang orientalis Belanda yang menjadi penasihat pemerintah kolonial dalam urusan Islam pribumi.

Dokter Guntur Subiyantoro
Ustad dr. Guntur mengisahkan tentang perjuangan Kartini bagi umat Islam

Melalui berbagai kebijakan dan pengaruh pemikirannya, umat Islam diarahkan agar cukup menjalankan ritual agama tanpa memperdalam pemahaman ajaran Islam. Diajarkannya bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang tidak boleh diterjemahkan ke bahasa selain Arab. Akibatnya, banyak umat Islam mampu membaca Al-Qur’an, tetapi tidak memahami isi dan maknanya.

Keadaan itu membuat Kartini merasa prihatin. Beliau tidak puas hanya membaca lafaz Al-Qur’an tanpa mengetahui pesan yang terkandung di dalamnya. Kartini ingin memahami isi Al-Qur’an agar dapat mengambil petunjuk dan hikmah dari ayat-ayatnya.

Keinginan itu kemudian disampaikan kepada seorang ulama besar dari Semarang, yaitu KH Sholeh Darat. Beliau merupakan salah satu ulama besar Nusantara yang sangat berpengaruh pada zamannya. KH Sholeh Darat juga dikenal sebagai guru dari dua tokoh besar Indonesia, yaitu KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari.

Dikisahkan, Kartini sangat tersentuh ketika mendengar KH Sholeh Darat menjelaskan tafsir surat Al-Fatihah. Untuk pertama kalinya, beliau merasakan keindahan dan kedalaman makna Al-Qur’an yang sebelumnya belum pernah dipahaminya. Kartini pun mengungkapkan keinginannya agar masyarakat pribumi dapat memahami isi Al-Qur’an, bukan sekadar membacanya.

Dari situlah KH Sholeh Darat kemudian mulai menerjemahkan dan menafsirkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa dengan tulisan pegon agar mudah dipahami masyarakat. Karya tafsir beliau kemudian dikenal dengan nama Faidur Rahman.

Dalam riwayat yang populer, tafsir tersebut tidak selesai hingga 30 juz karena KH Sholeh Darat wafat sebelum menyempurnakannya. Sebagian sumber menyebut tafsir itu selesai hingga sekitar juz 13 atau sampai surat Ibrahim.

Disebutkan pula bahwa bagian tafsir yang telah selesai itu kemudian dihadiahkan kepada Kartini saat pernikahannya dengan Bupati Rembang, R.M. Joyodiningrat. Hadiah tersebut menjadi bentuk penghormatan seorang guru kepada murid yang memiliki semangat besar untuk memahami Al-Qur’an.

Kehadiran tafsir Faidur Rahman adalah langkah penting dalam dakwah Islam di Nusantara, karena masyarakat mulai bisa memahami kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan mereka.

Ternyata, perjuangan Kartini tidak hanya dalam bidang pendidikan perempuan, tetapi juga dalam mendorong umat Islam agar lebih dekat dengan Al-Qur’an melalui pemahaman maknanya. Membaca Al-Qur’an adalah amalan mulia, memahami isi dan mengamalkan petunjuknya adalah bagian penting dalam kehidupan seorang muslim.

Kajian Ahad Pagi, 10 Mei 2026, di Masjid Al Hidayah Sangen, bersama Ustaz dr. Guntur Subiyantoro, M.Si. (Wakil Ketua PDM Sukoharjo)

Share This Article :
Wakhid Syamsudin

Berusaha menjadi orang bermanfaat pada sesama melalui tulisan. Saat ini mengelola blog Media An Nuur (www.media-annuur.com), Bicara Cara (www.bicaracara.my.id), dan blog pribadi (www.syamsa.my.id)

2907636960708278822