NqpdMaBaMqp7NWxdLWR6LWtbNmMkyCYhADAsx6J=

MASIGNCLEANLITE104

Ada Empat Tanda Kesengsaraan, Jauhi Yuk!

MEDIA AN NUUR—Setiap manusia pasti ingin menjauhi kesengsaraan. Kesengsaraan akan menjadikan kita jauh dari keberuntungan. Disebutkan dalam sebagian kitab hikmah dan nasihat ulama, tentang hal itu.

أَرْبَعٌ مِنْ عَلَامَاتِ الشَّقَاوَةِ: نِسْيَانُ الذُّنُوبِ الْمَاضِيَةِ، وَذِكْرُ الْحَسَنَاتِ السَّالِفَةِ، وَالنَّظَرُ فِي الدُّنْيَا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَهُ، وَفِي الدِّينِ إِلَى مَنْ هُوَ دُونَهُ

Empat perkara termasuk tanda kesengsaraan: melupakan dosa-dosa yang telah lalu, mengingat-ingat kebaikan yang pernah dilakukan, dalam urusan dunia melihat kepada orang yang berada di atasnya, dan dalam urusan agama melihat kepada orang yang berada di bawahnya.”

Empat Tanda Kesengsaraan

1. Melupakan Dosa-Dosa yang Telah Lalu

Dosa itu meskipun telah berlalu, tetap tercatat di sisi Allah. Karena itu, jika tidak ingin menjadi orang yang celaka, setiap dosa yang pernah dilakukan hendaknya selalu diingat sebagai pelajaran dan pijakan agar tidak kembali jatuh ke dalam lubang kesalahan yang sama.

Ust Kaab
Ustaz Ibnu Ka'ab menerangkan tanda kesengsaraan yang harus dijauhi 

Kalau seseorang sudah telanjur terjatuh dalam kemaksiatan, maka hendaknya hal itu dijadikan peringatan agar tidak mengulanginya lagi. Segeralah memohon ampun kepada Allah dengan taubat yang sungguh-sungguh.

Jika dosa itu berkaitan dengan sesama manusia, maka selain bertaubat kepada Allah juga harus meminta maaf dan menyelesaikan hak orang yang pernah dizalimi. Jadi tak boleh dosa dilupakan begitu saja.

2. Mengingat-ingat Kebaikan yang Pernah Dilakukan

Kita tidak pernah tahu apakah kebaikan dan ibadah yang telah dilakukan benar-benar diterima oleh Allah atau tidak. Karena itu, tidak perlu sibuk mengingat, menghitung, atau membanggakannya di hadapan diri sendiri maupun orang lain.

Setelah beribadah dan berbuat baik, serahkan semuanya kepada Allah dan jangan terus-menerus mengungkitnya. Sebab terlalu merasa puas dengan amal yang telah dilakukan bisa membuat kualitas dan kuantitas ibadah menurun di kemudian hari.

Yang harus selalu ditanamkan adalah keyakinan bahwa semua amal dilakukan semata-mata karena Allah dan untuk mencari ridha-Nya.

3. Dalam Urusan Dunia Melihat kepada Orang yang Berada di Atasnya

Kecelakaan bagi seseorang adalah ketika ia selalu memandang urusan dunia kepada orang yang berada di atasnya, sehingga tidak mampu mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan.

Ketika terus melihat ke atas dalam urusan dunia, maka tidak akan pernah ada rasa cukup. Kesyukuran akan hilang, hati mudah gelisah, dan hidup dipenuhi keluhan atas kekurangan yang dirasakan.

4. Dalam Urusan Agama Melihat kepada Orang yang Berada di Bawahnya

Dalam urusan agama dan ibadah, kita dianjurkan melihat kepada orang yang lebih baik dan lebih tinggi amalnya agar tumbuh semangat untuk memperbaiki diri. Bukan dengan melihat yang kita anggap lebih sedikit amal ibadahnya.

Dengan melihat kesungguhan orang lain dalam beribadah, kita akan merasa masih banyak kekurangan sehingga terdorong untuk terus belajar, beramal, dan mendekatkan diri kepada Allah tanpa merasa cepat puas dengan keadaan diri sendiri.

Sebagai remaja muslim, mari terus memperbaiki diri dengan mengingat dosa untuk ditaubati, tidak membanggakan amal, bersyukur dalam urusan dunia, dan semangat meningkatkan ibadah dengan melihat orang-orang saleh. Semoga Allah menjaga hati kita dan menuntun kita istikamah dalam kebaikan.

Kajian remaja di Masjid An Nuur Sidowayah pada Ahad, 10 Mei 2026 bakda Salat Isya. Pemateri: Ustaz Ibnu Ka'ab, S.Pd.I. (pengajar di MIN 5 Sukoharjo)

Share This Article :
Wakhid Syamsudin

Berusaha menjadi orang bermanfaat pada sesama melalui tulisan. Saat ini mengelola blog Media An Nuur (www.media-annuur.com), Bicara Cara (www.bicaracara.my.id), dan blog pribadi (www.syamsa.my.id)

2907636960708278822