MEDIA AN NUUR—Sejak dulu, saya adalah pecinta buku. Dari lembar demi lembar bacaan itulah, saya menemukan dunia yang luas. Dunia yang memberi hiburan sekaligus menumbuhkan cara berpikir, memperkaya rasa, dan pada akhirnya memantik keberanian untuk menulis.
Kegemaran membaca perlahan menjelma menjadi jalan hidup: menulis sebagai upaya merawat sekaligus menyebarkan makna. Dari sekadar menulis di media sosial, mem-posting di web pribadi, mengirimkannya ke media cetak, sampai pada menulis buku.
Namun, di tengah arus zaman yang terus berubah, kegemaran membaca tampak semakin kehilangan tempat di hati generasi muda. Buku bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang menarik. Minat menyentuh buku saja tak ada, apalagi minat membacanya.
![]() |
| Anak-anak membaca buku |
Bagi mereka, layar gawai lebih menggoda, konten instan lebih memikat, dan bacaan panjang sering kali dianggap membosankan. Di titik inilah, saya kerap merasa terpanggil, ingin menularkan kecintaan membaca, meski jalannya tidak selalu mudah.
Saya diajak bergabung dengan sebuah pondok pesantren di Weru, Sukoharjo. Tempat kelahiran saya. Namanya PPTQ Qoryatul Qur'an. Mengurus artikel di web-nya. Hingga sekali dua kali diminta mengajari santri menulis. Hanya segelintir yang minat.
Saya sadar sepenuhnya bahwa mengajari menulis itu harus diawali dengan mengajak mereka suka pada bacaan terutama buku. Buku apa saja, begitu awalnya. Tapi ada hal yang kadang terlupa: tidak semua buku layak dikonsumsi oleh anak-anak dan remaja.
Ketidaklayakan itu terutama dalam ranah fiksi, yang seharusnya menjadi ruang imajinasi yang sehat, justru kadang disusupi oleh konten yang tidak pantas. Unsur pornografi yang terselip halus maupun terang-terangan. Bukan soal selera, tetapi soal dampak. Apa yang dibaca akan membentuk cara pandang dan perilaku.
Karena itulah, literasi tidak cukup hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca. Lebih dari itu, literasi menuntut adanya pendampingan dan penyaringan. Kita tidak bisa menyerahkan sepenuhnya pilihan bacaan kepada anak-anak dan remaja tanpa arahan.
Mereka membutuhkan bimbingan untuk mengenali mana yang layak, mana yang merusak. Siapa yang bisa memilihkan buku ketika para guru dan pendidik sendiri enggan membaca buku? Ini menjadi PR tersendiri bagi dunia literasi kita.
Kegelisahan yang saya rasakan ini kembali menguat ketika saya membaca sebuah berita di media sosial tentang kasus pelecehan seksual yang melibatkan seorang sastrawan asal Mojolaban, Sukoharjo. Mengguncang nurani insan yang menaruh harapan besar pada dunia literasi dan sastra.
Dari kegelisahan itulah, saya menuliskannya dalam sebuah opini di Harian Umum Solopos dengan judul “Kasus Sastrawan Mengusik Nurani Literasi” yang terbit pada Selasa, 7 April 2026. Tulisan itu menjadi cara saya bersuara, menyampaikan bahwa ada sesuatu yang perlu kita renungkan bersama.
![]() |
| Opini di Solopos |
Sastra sejatinya bukan sekadar permainan kata. Tapi adalah cermin peradaban. Memiliki kekuatan untuk membentuk karakter, menumbuhkan empati, dan mengarahkan jiwa. Maka, sudah semestinya sastra hadir sebagai cahaya, bukan justru menjadi bagian dari kegelapan.
Kita tentu tidak ingin generasi muda tumbuh dengan bacaan yang merusak nalar dan moralnya. Kita ingin mereka kuat, beradab, dan memiliki daya pikir yang jernih. Kita pastikan bahwa buku yang mereka baca adalah buku yang membangun, bukan yang meruntuhkan.
Kegelisahan ini mungkin sederhana. Namun saya percaya, dari kegelisahanlah perubahan sering kali bermula. Dan selama masih ada orang-orang yang peduli pada literasi, harapan itu akan tetap hidup. Yuk, peduli.



