MEDIA AN NUUR—Dikisahkan bahwa seorang ulama besar, Hasan al-Basri, sedang duduk bersama murid-muridnya. Pada saat itu datang beberapa orang dengan keluhan yang berbeda-beda.
Orang pertama mengadu bahwa tanah kebunnya menjadi tandus karena sudah lama tidak turun hujan. Maka Hasan Al-Basri menasihatinya agar memperbanyak istigfar.
![]() |
| Burhanudin Robani |
Kemudian datang orang kedua yang mengeluhkan kondisi ekonominya yang sedang sulit. Hasan Al-Basri kembali menasihatinya agar memperbanyak istigfar.
Lalu datang orang ketiga yang mengadu bahwa ia telah lama menikah tetapi belum juga dikaruniai keturunan. Hasan Al-Basri pun memberikan nasihat yang sama, yaitu agar ia memperbanyak istigfar.
Para muridnya merasa heran karena semua persoalan dijawab dengan nasihat yang sama. Hasan Al-Basri kemudian menjelaskan bahwa nasihat tersebut diambil dari firman Allah dalam Al-Qur’an, yaitu dalam Surah Nuh:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
“Maka aku (Nabi Nuh) berkata kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia akan memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10–12)
Ayat ini menunjukkan bahwa istigfar bukan hanya menjadi sebab diampuninya dosa, tetapi juga menjadi jalan datangnya berbagai karunia dari Allah, seperti turunnya hujan, kelapangan rezeki, keturunan, dan keberkahan hidup.
Karena itu, para ulama menganjurkan agar seorang muslim memperbanyak istigfar dalam berbagai keadaan. Dengan istigfar, seorang hamba berharap mendapatkan ampunan, rahmat, dan pertolongan dari Allah dalam seluruh urusan kehidupannya.
Kultum Subuh pada Ahad, 15 Maret 2026 bersama Burhanudin Robani, santri Ponpes Qoryatul Qur'an yang sedang iktikaf di Masjid An Nuur Sidowayah.


