MEDIA AN NUUR–Ada yang spesial pada kajian remaja di Masjid An Nuur Sidowayah pada Rabu, 11 Maret 2026 ini. Yakni dengan hadirnya para santri dari Ponpes Qoryatul Qur’an peserta Iktikaf Ramadan 1447 H di masjid kebanggaan warga Sidowayah ini.
Sore ini, diadakan kegiatan ngobrol santai bersama para santri tersebut. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 16.45 WIB ini bertujuan mengenalkan kehidupan dan keseharian pesantren kepada para remaja masjid Sidowayah.
Kegiatan dipandu oleh Ustaz Aldi Ahmad yang merupakan pendamping santri iktikaf. Dalam prolognya, beliau mengingatkan tentang tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat, salah satunya adalah pemuda yang hatinya terpaut pada masjid. Harapannya, para remaja yang hadir dapat termasuk dalam golongan tersebut.
Majelis dikemas dengan obrolan santai berupa tanya jawab. Ustaz Aldi Ahmad selaku moderator menyampaikan pertanyaan sebagai pemantik para santri untuk berbagi pengalaman mereka selama mondok di pesantren.
![]() |
| Ustaz Aldi Ahmad memandu bincang santai bersama santri Qoryatul Qur'an |
Pertanyaan pertama adalah alasan memilih mondok dibandingkan sekolah umum. Muhammad Fakhri Nasrullah menjelaskan bahwa sebelum mondok ia juga pernah sekolah di luar pesantren, sehingga tahu bagaimana kondisi belajar di dua tempat berbeda itu.
Menurutnya, sekolah umum memiliki sisi positif karena memungkinkan anak lebih dekat dengan orang tua sehingga dapat berbakti kepada mereka. Namun, di pesantren ia merasakan keunggulan dalam pembelajaran adab dan akhlak yang lebih kuat.
Pertanyaan berikutnya berkaitan dengan target hafalan Al-Qur’an di pesantren. Haidar Ahmad menjelaskan bahwa hafalan merupakan prioritas bagi santri di Qoryatul Qur’an. Ia sendiri memulai sejak SMP di pesantren tersebut dan telah menyelesaikan hafalan 30 juz saat kelas 3.
Menurutnya, proses itu tidak mudah dan membutuhkan pengorbanan. Ia juga menekankan bahwa dalam hidup seseorang harus memiliki target agar memiliki prinsip yang kuat dan bisa hidup lebih produktif.
Terkait pertanyaan tentang hal yang disukai dan tak disukai, Muhammad Yusuf yang menjawab. Ia menyukai banyaknya pengalaman yang diperoleh karena santri dikenalkan dengan berbagai keterampilan dan hobi. Bahkan saat kerja bakti, santri belajar menggunakan berbagai alat pertukangan secara langsung.
Namun ia mengakui ada kalanya merasa kurang bersemangat ketika harus melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh kakak kelas atau ustaz saat kondisi hati sedang tidak sesuai suasana.
Topik berikutnya adalah kehidupan santri yang jauh dari HP. Burhanudin Robani menjelaskan bahwa para remaja hendaklah belajar memahami tujuan penggunaan HP. Jika banyak hal yang kurang bermanfaat, maka lebih baik dijauhi agar tidak menimbulkan ketergantungan.
Ia sendiri baru memiliki HP saat kelas 3 SMP dan tidak merasa kesulitan. Menurutnya, HP seperti obat: jika digunakan sesuai aturan akan bermanfaat, tetapi jika berlebihan justru bisa membawa dampak buruk.
Muhammad Ihsan Ibadurrohim kemudian menjawab pertanyaan tentang bagaimana santri bisa kuat hidup jauh dari orang tua. Ia menggambarkan bahwa santri sementara waktu seperti anak yatim piatu karena jauh dari keluarga.
Namun di pesantren, para ustaz menjadi orang tua yang membimbing mereka. Awalnya memang terasa berat, tetapi seiring waktu ia mampu menjalani hingga enam tahun di pesantren dengan niat membanggakan orang tua melalui ilmu dan adab yang dipelajari.
Ketika ditanya tentang hal yang didapatkan selama mondok, Muhammad Ihsan Nail Attaqy menyebutkan bahwa santri mendapatkan ilmu, kemandirian, serta pendidikan kepemimpinan. Para santri terbiasa mengurus kebutuhan sendiri, seperti mencuci pakaian dan berbagai aktivitas lainnya. Selain itu, mereka juga dilatih untuk menjadi pemimpin di tengah umat.
Mus’ab Syaiful Haq menjelaskan kegiatan santri selama bulan Ramadan di pesantren. Secara umum, aktivitasnya tidak jauh berbeda dengan kaum muslimin lainnya seperti berpuasa, salat, dan mengaji.
Namun santri juga mendapatkan pelatihan dakwah melalui program Safari Dakwah ke berbagai masjid. Ia menambahkan bahwa terkadang santri juga belajar meneladani kisah para pemuda Ashabul Kahfi yang menyelamatkan iman mereka.
Pertanyaan terakhir menyoroti padatnya kegiatan santri selama Ramadan, mulai dari Safari Dakwah selama 15 hari, jeda lima hari, hingga iktikaf pada sepuluh hari terakhir. Muhammad Nashruddin mengakui bahwa aktivitas tersebut sangat melelahkan.
Tentu melelahkan karena santri selain berpuasa tetap harus menjalankan berbagai tugas seperti menjadi imam, menyampaikan kultum, khotbah Jumat, mengajar TPQ, hingga hadir ataupun mengisi kajian bersama masyarakat.
Namun ia menganggap kelelahan itu tidak menjadi masalah karena memberikan banyak manfaat. Ia mengutip nasihat Imam Syafi’i bahwa kenikmatan dunia sering kali diperoleh melalui kesungguhan dan kesusahpayahan.
![]() |
| Suasana ngobrol santai |
Menjawab kekhawatiran tentang masa depan lulusan pesantren, Muhammad Izzuddin Alqosam menjelaskan bahwa santri tidak perlu khawatir mengenai rezeki. Menurutnya, banyak lulusan pesantren yang bekerja di berbagai bidang, bahkan hingga ke luar negeri.
Ia juga menjelaskan bahwa lulusan pesantren memiliki peluang melanjutkan pendidikan dengan berbagai kemudahan, seperti melanjutkan kuliah dengan penyetaraan semester tertentu. Ia menegaskan bahwa keberkahan ilmu yang dipelajari di pesantren akan membuka banyak jalan rezeki.
Kegiatan berlangsung dalam suasana santai dan penuh keakraban hingga menjelang waktu berbuka puasa. Para peserta tampak antusias mengikuti dialog dan mendengarkan pengalaman para santri.
Acara kemudian ditutup dengan buka puasa bersama yang semakin mempererat kebersamaan antara santri iktikaf dan para remaja Masjid An Nuur Sidowayah. Semoga kegiatan sore ini bisa memberi manfaat terutama sebagai cermin bagi kehidupan remaja Sidowayah.



