NqpdMaBaMqp7NWxdLWR6LWtbNmMkyCYhADAsx6J=

MASIGNCLEANLITE104

Tarhib Ramadan: Jangan Sampai Merugi di Bulan Suci

MEDIA AN NUUR–Di Indonesia, perbedaan dalam menentukan awal Ramadan kerap terjadi karena adanya dua metode yang digunakan, yaitu rukyat (pengamatan hilal secara langsung) dan hisab (perhitungan astronomis). Perbedaan ini merupakan bagian dari dinamika ijtihad yang telah berlangsung lama dalam khazanah keilmuan Islam.

Oleh karena itu, dalam menyikapinya kita perlu saling menghormati, menjaga ukhuwah, serta tidak menjadikan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk berpecah belah, melainkan sebagai wujud kekayaan pemahaman dalam beragama.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah (beridulfitrilah) karena melihatnya. Jika hilal itu tertutup atas kalian (tidak terlihat), maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ustaz Muhammad Ilham
Ustaz Ilham ajak maksimalkan ibadah Ramadan agar tidak menjadi hamba yang rugi 

Kedua metode tersebut pada hakikatnya sama-sama berupaya memaknai dan mengamalkan hadis tersebut. Metode rukyat memahami perintah “melihat” secara langsung, yakni dengan pengamatan terhadap bulan, baik dengan mata telanjang maupun menggunakan alat bantu seperti teropong.

Adapun metode hisab memaknai “melihat” melalui pendekatan perhitungan ilmu falak atau astronomi untuk mengetahui posisi dan kemungkinan terlihatnya hilal. Keduanya lahir dari ikhtiar para ulama dalam memahami dalil, sehingga semestinya disikapi dengan saling menghormati dan menjaga persatuan.

Yang jauh lebih penting dari perbedaan metode tersebut adalah bagaimana kita benar-benar bersiap menyambut Ramadan dengan sebaik-baiknya. Persiapan itu mencakup menata hati, memperbaiki niat, serta merencanakan amal ibadah agar bisa dimaksimalkan.

Jangan sampai Ramadan datang lalu berlalu begitu saja tanpa peningkatan iman dan amal, sehingga kita termasuk orang yang merugi karena tidak mampu memanfaatkan kehadiran bulan suci ini secara optimal.

Jamaah Subuh
Jamaah Subuh Masjid An Nuur Sidowayah 

Orang yang rugi adalah mereka yang bertemu dengan bulan Ramadan tetapi tidak melaksanakan puasa tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Padahal Ramadan adalah kewajiban bagi setiap muslim yang memenuhi syarat, sehingga meninggalkannya berarti menyia-nyiakan kesempatan besar untuk meraih pahala dan kebaikan yang berlipat ganda.

Kerugian berikutnya adalah ketika seseorang menjalani Ramadan namun tidak mendapatkan ampunan dari Allah Swt. Rasulullah ﷺ pernah menyebut celaka orang yang mendapati Ramadan tetapi tidak diampuni dosanya, karena bulan ini adalah waktu yang penuh rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka.

Selain itu, termasuk orang yang rugi adalah mereka yang berpuasa tetapi tidak mampu menahan hawa nafsu, lisan, dan perbuatannya. Ia mungkin menahan lapar dan dahaga, namun masih berkata kasar, berdusta, atau melakukan maksiat, sehingga yang tersisa dari puasanya hanyalah rasa haus dan lapar tanpa nilai pahala yang sempurna.

Termasuk pula kerugian besar bagi orang yang berpuasa tetapi tidak mendirikan salat. Puasa dan salat adalah sama-sama kewajiban yang tidak dapat dipisahkan; meninggalkan salat berarti meninggalkan tiang agama. Maka tidak pantas seseorang bersemangat menahan lapar dan dahaga, tetapi lalai dalam menunaikan kewajiban salat lima waktu yang menjadi fondasi utama keislaman.

Fenomena yang sering terjadi, adalah mengadakan acara buka puasa bersama. Saking ramainya kegiatan sampai-sampai melupakan Salat Magrib. Sungguh sayang sekali ketika hal ini terjadi pada kita yang sudah bersusah payah menahan lapar dahaga sejak pagi.

Kajian
Sarapan bersama setelah kajian

Termasuk pula kerugian ketika seseorang berpuasa tetapi tidak berusaha mengamalkan sunah-sunah yang mendukung dan menyempurnakannya. Karena sejatinya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga.

Ramadan adalah momentum untuk memperbanyak amalan sunah seperti sahur, menyegerakan berbuka, salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, sedekah, i‘tikaf, serta menjaga akhlak. Mengabaikan sunah-sunah ini memang tidak membatalkan puasa, namun dapat mengurangi kesempurnaan dan keberkahan yang seharusnya bisa diraih secara maksimal.

Materi Kajian Gerakan Subuh Berjamaah di Masjid An Nuur Sidowayah pada Jumat, 13 Februari 2026 bersama Ustaz Muhammad Ilham, S.Ag., M.Pd. (Mudir PPTQ Muhammadiyah Atmo Wahjono Weru)

Share This Article :
Wakhid Syamsudin

Berusaha menjadi orang bermanfaat pada sesama melalui tulisan. Saat ini mengelola blog Media An Nuur (www.media-annuur.com), Bicara Cara (www.bicaracara.my.id), dan blog pribadi (www.syamsa.my.id)

2907636960708278822