MEDIA AN NUUR–Umrah dan haji bukan sekadar perjalanan piknik, melainkan ibadah suci yang harus diniatkan semata-mata karena Allah SWT dan dijaga dari niat yang keliru. Perjalanan menuju Tanah Suci adalah perjalanan jauh yang setiap langkahnya hendaknya dilandasi keikhlasan dan harapan agar ibadah umrah maupun haji yang ditunaikan dapat diterima (maqbul) di sisi Allah Swt.
Umrah yang dilaksanakan pada bulan Ramadan memiliki keutamaan yang sangat besar, yakni pahalanya seperti pahala ibadah haji. Keutamaan ini menjadi motivasi bagi kaum muslimin untuk semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan suci, dengan tetap menjaga keikhlasan dan adab selama menunaikan umrah.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً
Rasulullah Saw. bersabda, “Umrah di bulan Ramadan setara dengan (pahala) haji.” (HR. Bukhari dan Muslim)
![]() |
| Ustaz Danuri menyampaikan nasihat untuk bekal umrah Pak Diyono dan Bu Tipar |
Makna setara dengan ibadah haji dalam hadis tersebut adalah kesetaraan dalam pahala, bukan dalam menggugurkan kewajiban. Oleh karena itu, umrah di bulan Ramadan tidak dapat menggantikan kewajiban haji bagi seorang muslim yang telah mampu melaksanakannya, karena haji tetap merupakan rukun Islam yang wajib ditunaikan sekali seumur hidup bagi yang memenuhi syarat.
Apabila seseorang telah melaksanakan umrah, kemudian ia mendapatkan kesempatan untuk menunaikan umrah kembali, maka di antara kedua umrah tersebut terdapat ampunan dosa. Satu umrah ke umrah berikutnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.
الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
“Umrah yang satu ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hal yang perlu diperhatikan ketika melaksanakan ibadah di Tanah Suci adalah senantiasa menjaga kesabaran dalam setiap keadaan, baik saat beribadah maupun dalam menghadapi berbagai situasi yang berbeda dari kebiasaan sehari-hari.
Termasuk di dalamnya adalah menjaga lisan dan sikap, seperti tidak mencela makanan apabila terasa kurang cocok di lidah, karena semua itu merupakan bagian dari adab dan bentuk kesyukuran selama menjadi tamu Allah di Tanah Suci.
Jangan menyepelekan segala sesuatu dan jangan pula menyombongkan diri ketika berada di Tanah Suci, karena setiap amal dan sikap hendaknya dijaga dengan penuh kehati-hatian dan kerendahan hati.
Banyak kejadian yang menjadi pelajaran, di mana seseorang mendapatkan balasan secara langsung atas sikap kurang baiknya, sehingga penting bagi setiap jamaah untuk senantiasa menjaga adab, tawadhu, dan rasa hormat selama menunaikan ibadah.
![]() |
| Suasana pengajian pamitan umrah |
Berhati-hatilah dengan setiap ucapan, karena bisa jadi apa yang terucap menjadi doa yang dikabulkan. Mengucapkan kata-kata buruk, keluhan berlebihan, atau doa yang tidak baik dikhawatirkan justru menjadi kenyataan dan mendatangkan kerugian bagi diri sendiri, sehingga hendaknya lisan senantiasa dijaga dengan memperbanyak doa dan ucapan yang baik selama berada di Tanah Suci.
Sepulang dari Tanah Suci, semangat ibadah yang telah tumbuh hendaknya terus dilestarikan dan tidak memudar seiring waktu. Kebiasaan berinfak jangan menjadi kendor, kebaikan kepada tetangga dan sesama tetap dijaga, serta akhlak yang baik terus dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan sampai setelah kembali justru semangat sosial berkurang, karena kemabruran ibadah salah satunya tercermin dari perubahan sikap yang semakin baik di tengah masyarakat. Semoga dengan mempertahankan kebaikan itu Allah memuliakan kita dengan umrah yang telah dilaksanakan.
Pengajian pamitan umrah Bapak Diyono-Ibu Tipar (12 Februari 2026) yang akan berangkat ke tanah suci pada Sabtu, 21 Februari 2026 (4 Ramadan 1447 H) dengan pembicara Ustaz H. Danuri, M.Ag.



