MEDIA AN NUUR–Agar kuat melaksanakan ibadah dan bisa istikamah, maka dibutuhkan niat yang kuat dan pemahaman akan ilmunya. Selain itu, harus ada rasa cinta dalam melaksanakannya.
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Ada tiga perkara, siapa yang memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; (2) ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah; (3) ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari Muslim)
![]() |
| Ustaz Didik ajak jemaah menempatkan cinta Allah dan Rasul-Nya urutan pertama |
Cinta adalah bagian fitrah dari kehidupan manusia. Maka, ketika ia bisa mengatur kecintaan itu maka kita akan mendapatkan kebahagiaan dan manisnya keimanan, yakni dengan menempatkan Allah dan Rasul-Nya di atas apapun.
Cinta akan menjadi kekuatan. Akan menggerakkan kita untuk melaksanakan perbuatan yang diperintahkan dan disukai yang ia cintai. Maka, cinta pada Allah dan Rasul-Nya akan membuat kita tergerak untuk terus beribadah melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعيْنَ
Dari Anas, ia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah sempurna imannya salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari Muslim)
Cinta yang tidak mampu dikendalikan justru dapat mengantar seseorang kepada kesesatan. Banyak orang mengatakan bahwa cinta datang dengan sendirinya, seolah-olah manusia tidak memiliki peran dalam mengarahkannya. Padahal anggapan itu sering muncul dari ketidakmampuan seseorang mengendalikan hawa nafsunya.
![]() |
| Jemaah Subuh Masjid An Nuur Sidowayah |
Sesungguhnya, cinta bukan sekadar perasaan yang dibiarkan mengalir tanpa arah. Cinta dapat dihadirkan, dijaga, dan terus dipupuk dengan kesadaran diri, sehingga ia menjadi kekuatan yang menuntun kepada kebaikan, bukan sebaliknya.
Dalam penerapannya, misalnya ketika kita merasa enggan membaca Al-Qur’an, cobalah menumbuhkan rasa cinta kepadanya, karena kecintaan itulah yang akan menggerakkan hati dan diri kita untuk senang, ringan, dan istikamah melakukannya.
Lihatlah ketika kecintaan itu salah tempat; ada orang yang menyukai tato, hingga tubuhnya dipenuhi tato yang proses pembuatannya sangat menyakitkan, namun kecintaan pada hal yang dianggapnya seni tersebut telah menguatkan dirinya untuk tetap menjalaninya.
Agar ibadah dapat dijalani dengan rasa senang tanpa beban, maka pupuklah cinta kepadanya; cintailah salat berjemaah, berlama-lama membaca Al-Qur’an, bersedekah tanpa perhitungan, serta membiasakan diri dengan salat dan puasa sunah.
![]() |
| Menikmati sarapan bersama |
Untuk bisa meraih kecintaan itu, Rasulullah mengajarkan doa memohon cinta kepada Allah, cinta kepada orang yang mencintai Allah, beserta amal yang mendekatkan kepada cinta-Nya.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta kepada-Mu, cinta kepada orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang dapat mendekatkanku kepada cinta-Mu.” (HR. Tirmidzi)
Ringkasan kajian subuh di Masjid An Nuur Sidowayah, pada Jumat, 6 Februari 2026 dengan pemateri Ustaz H. Didik Efendi, S.T (Ketua MUI Kecamatan Weru)




