Ustaz-ustazah adalah sebutan bagi pendidik yang mengajarkan pengetahuan tentang Islam, membimbing santri dalam memahami AL-Qur’an, Al-Hadis, akhlak, dan membina karakter agar menjadi insan yang bertakwa.
Spirit Al-Qur’an yang menjadi penyemangat bagi para ustaz-ustazah di antaranya adalah pada ayat ini, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad (47): 7)
![]() |
| Ustaz Tardi berikan semangat pada para guru TPQ se-Desa Ngreco |
Guru memiliki keutamaan yang sangat besar di sisi Allah Swt., karena ilmu yang diajarkannya termasuk amal yang tidak terputus pahalanya, mengalir terus selama ilmu tersebut diamalkan oleh para muridnya; selain itu, Allah menjanjikan pahala yang besar, mengangkat derajat para guru, serta memuliakan mereka sebagai hamba yang berperan penting dalam menerangi kehidupan dengan ilmu dan kebaikan.
Ilmu memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam, karena dengannya Allah memudahkan jalan seseorang menuju surga, menjadikan orang berilmu sebagai sebaik-baik manusia karena mampu memberi manfaat bagi sesama, serta menempatkannya dalam majelis-majelis kebaikan yang diibaratkan sebagai taman-taman surga tempat turunnya rahmat dan ketenangan.
Ustaz-ustazah sudah seharusnya menguasai materi dengan baik karena akan menjadi fondasi pembelajaran yang berkualitas, dengan cara belajar dan mempersiapkan materi sebelum mengajarkan pada santrinya.
Ustaz-ustazah dituntut memiliki keterampilan dalam memahami materi sekaligus mengenali karakter dan latar belakang santri, karena pemahaman tersebut menjadi kunci dalam menentukan pendekatan serta metode pembelajaran yang tepat, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan efektif, menyenangkan, dan mudah dipahami oleh setiap santri.
Memahami karakter santri merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran, salah satunya dengan memberikan pujian, hadiah, dan motivasi atas setiap pencapaian yang diraih, sehingga santri merasa dihargai, tumbuh rasa percaya diri, dan semakin bersemangat dalam belajar serta mengembangkan potensi dirinya.
Keterampilan ustaz-ustazah juga tercermin dalam kemampuannya menciptakan ruang dan lingkungan belajar yang indah, tertata, menyenangkan, nyaman, aman, dan rapi, sebagaimana filosofi SINAR, karena suasana belajar yang kondusif akan membuat santri merasa betah, tenang, dan lebih mudah menerima materi pembelajaran.
Ustaz dan ustazah dituntut pandai menggunakan metode pembelajaran yang menyenangkan, bervariasi, komunikatif, dan inovatif, seperti bercerita, menyanyi, bermain, dan drama, agar suasana belajar menjadi hidup, tidak membosankan, serta mampu meningkatkan minat dan pemahaman santri terhadap materi yang disampaikan.
Kiat menjadi guru yang dirindu terletak pada metode dan sikap dalam mengajar, yaitu dilandasi keikhlasan, membiasakan sapa dan senyum, bersikap humoris dan ramah, komunikatif dalam berinteraksi, serta memiliki empati terhadap kondisi dan kebutuhan santri, sehingga kehadiran guru terasa menenangkan, menyenangkan, dan selalu dinanti.
Seorang guru hendaknya menghindari sikap KOBIS, yaitu bersikap kasar, gemar mengomel, membentak, melakukan intimidasi, serta bertindak sak karepe dewe, karena perilaku tersebut dapat melukai perasaan santri, menghambat proses pembelajaran, dan menghilangkan keteladanan yang seharusnya ditampilkan oleh seorang pendidik.
Guru ngaji adalah sosok hebat yang dengan penuh keikhlasan rela mengajar meski tanpa imbalan materi, karena perannya bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi menjadi penerang Islam yang menegakkan akhlak, adab, dan pengetahuan, sekaligus menanamkan nilai-nilai kebaikan bagi generasi penerus umat.
Ringkasan materi Pembinaan Ustaz-Ustazah TPQ Se-Desa Ngreco Weru bersama Ustaz Tardi, S.Ag., Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Weru, pada Ahad, 1 Februari 2026


