MEDIA AN NUUR–Ada ibadah yang secara khusus diwajibkan di bulan Ramadan, yaitu puasa Ramadan. Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa Allah berfirman, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Ini merupakan keistimewaan ibadah puasa di sisi Allah.
![]() |
| Anas Sikhadin Maula |
Puasa sebenarnya juga dikenal dalam agama-agama sebelum Islam, termasuk di kalangan Nasrani dan Yahudi. Namun, ada perbedaan mendasar dalam tata caranya. Salah satu pembeda utama adalah adanya sahur dalam Islam.
فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ
“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim)
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.”(HR. Bukhari Muslim)
Sahur mengandung banyak keberkahan. Bukan hanya pada kekuatan fisik untuk menjalankan puasa, tetapi juga pada nilai ibadahnya. Bahkan meskipun hanya dengan seteguk air, seseorang tetap mendapatkan pahala sahur. Malaikat pun mendoakan orang-orang yang bersahur.
Rasulullah juga mencontohkan untuk mengakhirkan waktu sahur, yakni mendekati waktu fajar, selama tidak melewati batas. Hal ini menunjukkan kemudahan dan hikmah dalam syariat Islam.
Maka janganlah kita meninggalkan sahur. Selain menjadi pembeda umat Islam, sahur adalah sumber keberkahan, kekuatan, dan tambahan pahala dalam menjalankan puasa Ramadan.
Kultum Subuh di Masjid An Nuur Sidowayah pada 25 Februari 2026, disampaikan oleh Anas Sikhadin Maula, santri Ponpes Qoryatul Qur'an, yang bertugas Safari Dakwah Ramadan 1447 H


