MEDIA AN NUUR—Perkembangan zaman yang begitu pesat dapat menjadi penghambat sekaligus pendorong dalam melakukan kebaikan. Semua bergantung pada bagaimana kita menyikapi dan memanfaatkannya.
Jika dahulu kita harus belajar dan mencari ilmu secara manual, kini berbagai macam ilmu dapat diperoleh dengan mudah melalui beragam media dan teknologi. Kemajuan teknologi telah membuka akses pengetahuan seluas-luasnya, sehingga proses belajar menjadi lebih praktis dan cepat.
![]() |
| Ustaz Didik Efendi menyampaikan tentang istikamah dalam beramal |
Kemajuan zaman ibarat sebuah alat yang dapat digunakan untuk kebaikan maupun keburukan, bergantung pada siapa dan bagaimana menggunakannya. Seperti pisau yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari, tetapi juga dapat digunakan untuk melakukan tindakan yang buruk.
Di era yang serba cepat dan didukung kemajuan teknologi ini, seharusnya kita semakin dimudahkan untuk konsisten dalam beramal dan beribadah. Berbagai kemudahan yang tersedia semestinya menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal, bukan justru menjadi penghalang.
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus (istikamah), meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Penekanannya terletak pada konsistensi atau istikamah dalam beramal, bukan pada sedikitnya amalan.
Artinya, kita harus berusaha menjaga kesinambungan amal ibadah agar tetap terlaksana dalam berbagai keadaan dan perkembangan zaman, meski sedikit. Bukan selalu beramal sedikit yang penting istikamah.
Istikamah bukanlah perkara yang ringan. Bahkan, Rasulullah pernah menyampaikan bahwa surah Hud dan surah-surah sejenisnya telah membuat beliau beruban. Hal ini berkaitan dengan beratnya perintah untuk tetap istikamah.
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Maka, tetaplah engkau (Nabi Muhammad) di jalan yang benar sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)
Perintah istikamah menuntut kesungguhan untuk terus menjaga ketaatan, bukan hanya semangat sesaat. Karena itu, kemajuan zaman dan segala kemudahan yang tersedia seharusnya kita manfaatkan untuk membantu menjaga kesinambungan amal, bukan justru membuat kita semakin lalai.
Istikamah harus diawali dengan tekad dan niat yang kuat. Niat yang lurus akan menjadi landasan sekaligus sumber kekuatan bagi seseorang untuk terus bertahan dalam ketaatan. Dengan tekad yang kokoh, seseorang akan lebih berani menghadapi berbagai kesulitan, melewati hambatan, dan tidak mudah menyerah dalam menjaga amal ibadahnya.
Niat yang kuat untuk menjaga istikamah sangat menunjang keberlangsungan amal ibadah kita. Niat itu harus dibangun dengan tekad dan cita-cita yang tinggi. Ibarat seseorang yang memiliki keinginan kuat untuk masuk surga, ia akan menanamkan tekad dalam dirinya: jika ada seribu orang yang masuk surga, aku harus menjadi salah satunya.
Jika hanya seratus orang, aku harus termasuk di dalamnya. Jika hanya sepuluh orang, aku harus menjadi salah satunya. Bahkan, jika hanya tersisa satu tempat, aku harus berusaha menjadi orang yang mendapatkannya.
Inilah gambaran kesungguhan niat dan tingginya cita-cita seorang mukmin dalam beramal saleh. Ia tidak mudah puas, tidak cepat menyerah, dan selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam menjaga ketaatannya kepada Allah.
Setelah memiliki niat dan tekad yang kuat, langkah berikutnya untuk menjaga istikamah adalah menyusun perencanaan dan target amal. Pilihlah amalan sunah rutin yang sesuai dengan kemampuan dan potensi diri, kemudian tetapkan sebagai prioritas yang harus dijaga kesinambungannya.
Dengan target yang jelas dan terencana, kita memiliki arah dalam beramal sekaligus lebih mudah mengevaluasi dan menjaga konsistensi ibadah. Tanpa perencanaan maka akan lebih susah menjaga keberlangsungan amalan.
Pengajian Ahad pagi, 1 November 2026, di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kalisige, Karakan, Weru. Pemateri: Ustaz H. Didik Efendi, S.T., Ketua MUI Kecamatan Weru.



Insyaa Allah... istiqomah
BalasHapus