MEDIA AN NUUR—Dalam sebuah hadis, diceritakan bahwa ada seorang sahabat bernama Jahimah as-Sulami, datang kepada Rasulullah saw. untuk menyampaikan keinginannya berjihad di jalan Allah. Ia ingin dapat memperoleh keutamaan sebagaimana orang-orang yang berjihad.
Rasulullah saw. kemudian menanyakan apakah ia masih memiliki ibu. Ketika diketahui bahwa ibunya masih ada, Rasulullah saw. memberikan petunjuk agar ia berbakti kepada ibunya.
فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا
“Kalau begitu, tetaplah bersama ibumu dan berbaktilah kepadanya. Sesungguhnya surga berada di bawah kedua kakinya.” (HR. Ahmad)
![]() |
| Ustaz Ibnu Ka’ab menjelaskan keutamaan berbakti kepada ibu |
Rasulullah saw. menyarankan agar Jahimah tetap mendampingi dan berbakti kepada ibunya, karena surga berada di sisi ibunya. Berbakti kepada ibu merupakan amalan yang sangat besar keutamaannya dan dapat menjadi jalan bagi seorang anak untuk meraih surga.
Berbakti kepada ibu merupakan amal yang sangat besar. Rasulullah saw. mengarahkan Jahimah untuk mendampingi dan melayani ibunya, bukan langsung berangkat berjihad.
Berbakti kepada ibu bisa dengan memenuhi kebutuhan sehari-harinya, kemudian tetap menghormatinya, memperlakukannya dengan baik, menolongnya, dan menjalankan hak-haknya sesuai tuntunan Islam.
Tidak semua orang harus melakukan amalan yang sama untuk mendapatkan pahala yang besar. Ada orang yang memperoleh keutamaan melalui jihad di jalan Allah, sedangkan orang lain dapat meraih keutamaan melalui tanggung jawab yang harus dijalankannya, seperti berbakti kepada orang tua.
Ketika seorang anak masih memiliki ibu yang membutuhkan perhatian dan pengurusannya, berbakti kepada ibu merupakan kesempatan besar untuk mendapatkan pahala.
Oleh karena itu, jangan sampai seseorang begitu bersemangat mengejar amalan yang memiliki keutamaan besar, tetapi justru mengabaikan kewajiban yang ada di hadapannya.
Seorang muslim hendaknya memahami keadaan dan tanggung jawabnya. Berbakti kepada ibu bukanlah amalan yang remeh, melainkan salah satu jalan penting untuk mendapatkan rida Allah dan meraih surga.
Ungkapan “surga di bawah kedua kakinya” bukan berarti surga secara harfiah berada di bawah kaki ibu. Maksudnya, berbakti kepada ibu, memenuhi hak-haknya, dan mencari rida Allah melalui pelayanan kepadanya merupakan jalan untuk meraih surga.
Pengajian malam Selasa di Masjid An Nuur Sidowayah pada Senin bakda Isya, 26 Oktober 2026, dengan pemateri Ustaz Ibnu Ka’ab, S.Pd.I., guru MIN 5 Sukoharjo.


