MEDIA AN NUUR–Sebagai makhluk Allah, tidak sepantasnya kita memiliki sifat sombong. Seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar zarah tidak akan masuk surga.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi saw., beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar zarah (atom).” (HR. Muslim)
Para sahabat bertanya tentang seseorang yang suka mengenakan pakaian dan sandal yang bagus. Rasulullah saw. menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahindah dan mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)
![]() |
| Ustaz Habib Muttaqin ingatkan tentang kesombongan |
Memakai pakaian bagus atau memiliki harta bukanlah sebuah kesombongan. Hakikatnya, Allah menyukai keindahan, maka kita boleh menggunakan baju bagus.
Rasulullah saw. menjelaskan bahwa yang disebut sombong adalah yang menolak kebenaran. Seseorang merasa dirinya lebih tinggi sehingga enggan menerima nasihat atau kebenaran.
Orang sombong suka merendahkan orang lain. Menganggap orang lain lebih rendah karena harta, ilmu, kedudukan, atau status sosial. Maka, kesombongan sekecil apa pun harus diwaspadai.
Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, atau populer disebut Imam Hanafi, pernah berpapasan dengan seorang anak kecil yang tampak berjalan mengenakan sepatu kayu. “Hati-hati, Nak, dengan sepatu kayumu itu. Jangan sampai kau tergelincir,” sang imam menasehati.
Bocah miskin ini pun tersenyum, menyambut perhatian pendiri mazhab Hanafi ini dengan ucapan terima kasih. “Bolehkah saya tahu namamu, Tuan?” tanya si bocah. “Nu’man,” jawabnya.
“Jadi, Tuan lah yang selama ini terkenal dengan gelar al-imam al-a‘dham (imam agung) itu?” si bocah tertegun. Imam Hanafi merendah, “Bukan aku yang menyematkan gelar itu. Masyarakatlah yang berprasangka baik dan menyematkan gelar itu kepadaku.”
Tak disangka, si bocah berkata, “Wahai Imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka gara-gara dia. Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskanmu ke kubangan api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya.”
Ulama kaliber yang diikuti banyak umat Islam itu pun tersungkur menangis. Imam Hanafi bersyukur. Siapa sangka, peringatan datang dari lidah seorang bocah. Nasihat kebaikan dapat datang dari siapa saja, bahkan dari orang yang lebih muda.
Sebagai makhluk Allah, kita tidak sepantasnya memiliki sifat sombong. Hendaknya kita senantiasa rendah hati, tidak merasa lebih baik daripada orang lain, serta bersedia menerima nasihat dan kebenaran dari siapa pun.
Pengajian Ahad Pagi, 25 Oktober 2026, di Masjid Al Hidayah Sangen bersama Ustaz Muhammad Habib Muttaqin, mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo, alumni angkatan pertama Ponpes Modern Muhammadiyah Sangen.


