NqpdMaBaMqp7NWxdLWR6LWtbNmMkyCYhADAsx6J=

MASIGNCLEANLITE104

Belajar Taat pada Keluarga Ibrahim

MEDIA AN NUUR—Baru saja usai pagelaran akbar bulan Zulhijah yang diikuti oleh jutaan umat Islam di seluruh dunia. Berbagai ibadah besar dilaksanakan pada bulan ini, mulai dari Salat Iduladha, menunaikan ibadah haji di Tanah Suci, hingga melaksanakan kurban sebagai wujud ketaatan dan pengorbanan kepada Allah Swt.

Kemakmuran Masjidilharam yang menjadi pusat ibadah umat Islam, syariat kurban yang terus dilaksanakan setiap tahun, serta ibadah haji yang begitu semarak dan diikuti jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia, semuanya tidak lepas dari peran dua tokoh agung dalam sejarah Islam: Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Melalui keteguhan iman, ketaatan, dan pengorbanan mereka kepada Allah Swt., lahirlah berbagai syariat dan jejak peradaban yang hingga kini terus hidup dan menjadi bagian penting dari kehidupan umat Islam.

Pak Didik Ulya
Ustaz Didik ajak jemaah menelisik kisah keluarga Nabi Ibrahim AS 

Selain dua tokoh utama tersebut, ada sosok yang sering kali tidak banyak disorot, padahal perannya sangat besar dalam rangkaian sejarah ini. Ia adalah Siti Hajar, seorang wanita salihah yang menunjukkan pengorbanan, kesabaran, dan keteguhan iman yang luar biasa.

Di balik berdirinya peradaban di sekitar Masjidilharam, kisah ibadah haji, hingga keberadaan air Zamzam yang terus mengalir hingga hari ini, terdapat jejak perjuangan Siti Hajar yang rela menghadapi kesendirian di lembah tandus demi menjalankan perintah Allah.

Dengan penuh kepatuhan kepada perintah Allah, Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan bayi Nabi Ismail di sebuah lembah tandus yang nyaris tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Bayangkan betapa berat keputusan itu bagi seorang suami dan ayah. Ismail adalah anak yang telah lama dinantikan kehadirannya, buah penantian panjang yang tentu sangat dicintai.

Namun, demi menjalankan perintah Allah, Ibrahim menekan perasaan yang paling dalam, meninggalkan istri dan bayi tercintanya di tempat yang tampak mustahil untuk dihuni, sambil menyerahkan sepenuhnya urusan mereka kepada penjagaan dan pertolongan Allah.

Jemaah Subuh
Jemaah Subuh Masjid An Nuur Sidowayah 

Padahal, Nabi Ibrahim bukanlah orang yang hidup dalam kekurangan. Ia dikenal memiliki harta yang cukup dan kehidupan yang mapan, di antaranya dari usaha peternakan yang berhasil. Karena itu, meninggalkan istri dan anaknya di lembah tandus bukanlah karena ketidakmampuan memberi nafkah atau menyediakan tempat tinggal yang layak. Justru di situlah letak ujiannya.

Perintah tersebut menjadi ujian ketaatan yang sangat berat: apakah ia akan lebih mengikuti pertimbangan perasaan dan logika manusia, ataukah tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah. Ibrahim memilih taat, meskipun konsekuensinya adalah berpisah dengan keluarga yang sangat dicintainya dan menyerahkan mereka kepada penjagaan Allah semata.

Nabi Ismail tumbuh menjadi anak yang saleh, taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, serta memiliki keteguhan iman yang luar biasa. Padahal, sejak kecil ia hidup jauh dari ayahnya, Nabi Ibrahim, yang tidak selalu mendampinginya setiap hari. Karena itu, tidak berlebihan jika kita melihat bahwa pembentukan karakter dan kesalehan Ismail sangat dipengaruhi oleh didikan ibunya, Siti Hajar.

Di tengah keterbatasan dan kerasnya kehidupan di lembah tandus, Hajar yang harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup anaknya, tetap bisa menanamkan nilai-nilai keimanan, kesabaran, dan ketundukan kepada Allah.

Hasil pendidikan itulah yang tampak ketika Ismail tumbuh menjadi pemuda yang siap menaati perintah Allah, bahkan ketika perintah itu menyangkut pengorbanan dirinya sendiri. Peran seorang ibu dalam membentuk generasi saleh tidak kalah besar dibandingkan peran tokoh-tokoh yang sering disebut dalam lembaran sejarah.

Di lembah tandus itu sebenarnya telah ada jejak rumah ibadah yang sangat tua, berupa susunan batu yang kelak menjadi cikal bakal Ka’bah. Atas perintah Allah, susunan tersebut kemudian ditinggikan dan dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim bersama putranya, Nabi Ismail.

Dari tempat yang tampak sepi dan tidak menjanjikan kehidupan itulah kemudian tumbuh pusat peradaban dan ibadah umat manusia. Apa yang awalnya hanya sebuah lembah tandus, melalui ketaatan Ibrahim, kesabaran Hajar, dan perjuangan Ismail, akhirnya menjadi lokasi berdirinya Ka’bah yang hingga kini menjadi kiblat umat Islam di seluruh dunia.

Sarapan bersama
Sarapan bersama

Dari kisah keluarga Nabi Ibrahim itulah lahir dua syariat besar yang terus hidup hingga hari ini, yaitu ibadah kurban dan haji. Kurban berawal dari ketaatan Ibrahim yang bersedia melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail, sebelum akhirnya Allah menggantinya dengan seekor sembelihan.

Adapun rangkaian ibadah haji menyimpan jejak perjuangan seluruh anggota keluarga ini: keteguhan Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah, perjuangan Siti Hajar yang berlari antara Shafa dan Marwah mencari air untuk putranya, munculnya air Zamzam sebagai pertolongan Allah, hingga pembangunan Ka’bah oleh Ibrahim dan Ismail.

Karena itu, setiap musim haji dan Iduladha, umat Islam sejatinya sedang mengenang, menghidupkan, dan meneladani nilai-nilai keimanan, ketaatan, pengorbanan, serta keteguhan yang ditunjukkan oleh keluarga mulia tersebut.

Ringkasan kajian subuh di Masjid An Nuur Sidowayah, pada Jumat, 5 Juni 2026 dengan pemateri Ustaz H. Didik Efendi, S.T (Ketua MUI Kecamatan Weru)

Share This Article :
Wakhid Syamsudin

Berusaha menjadi orang bermanfaat pada sesama melalui tulisan. Saat ini mengelola blog Media An Nuur (www.media-annuur.com), Bicara Cara (www.bicaracara.my.id), dan blog pribadi (www.syamsa.my.id)

2907636960708278822