NqpdMaBaMqp7NWxdLWR6LWtbNmMkyCYhADAsx6J=

MASIGNCLEANLITE104

Meraih Bahagia dengan Sedekah

MEDIA AN NUUR–Sedekah itu berangkat dari keimanan, bukan sekadar soal kaya atau miskin. Orang yang hartanya banyak belum tentu gemar bersedekah, sementara yang hidup sederhana justru bisa lebih terbiasa berbagi. Jadi, sedekah tidak harus menunggu kaya, tetapi bergantung pada keyakinan dan kelapangan hati seseorang.

قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خِلَالٌ

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman, hendaklah mereka melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, sebelum datang hari (Kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan tidak ada persahabatan.” (QS. Ibrahim (14): 31)

Kita sering mengira kebahagiaan hadir saat kita menerima, padahal sejatinya kebahagiaan justru tumbuh ketika kita memberi. Dalam memberi, ada kelapangan hati dan ketenangan jiwa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Di situlah kebahagiaan yang hakiki perlahan hadir dan kita rasakan.

Ustaz H. Syafii, M.Ag.
Ustaz Syafi'i menyampaikan keutamaan sedekah

Ada kisah indah tentang Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra radhiyallahu ‘anhuma. Saat itu, kehidupan mereka sangat sederhana. Di rumah hampir tidak ada makanan. Bahkan untuk berbuka puasa saja, makanan yang ada hanya sedikit.

Suatu hari, ketika waktu berbuka tiba dan mereka sudah sangat lapar, datanglah seorang miskin meminta makanan. Padahal makanan itu hanya cukup untuk mereka sendiri. Namun dengan hati yang ikhlas, mereka memberikannya kepada orang tersebut dan berbuka hanya dengan air.

Keesokan harinya, hal yang sama terjadi. Kali ini yang datang adalah seorang anak yatim. Mereka kembali memberikan makanan yang ada. Hari berikutnya, seorang tawanan datang meminta bantuan, dan mereka tetap memilih memberi, meskipun diri mereka sendiri sangat membutuhkan.

Kisah ini menunjukkan bahwa sedekah bukan menunggu kaya atau berlebih. Justru saat dalam keadaan sulit, mereka tetap mendahulukan orang lain karena ingin mencari ridha Allah. Dari sini kita belajar bahwa kebahagiaan dan kemuliaan hati ada pada orang yang suka memberi.

Orang yang gemar bersedekah dijanjikan keberkahan panjang umur. Panjang umur itu bisa bermakna Allah benar-benar menambah usianya dalam hitungan waktu, sehingga ia memiliki kesempatan lebih lama untuk beramal dan berbuat kebaikan.

Selain itu, panjang umur juga dapat dimaknai secara maknawi. Meski seseorang telah wafat, namanya tetap hidup dan dikenang karena sedekah atau wakaf yang ditinggalkannya. Dengan sedekah, hidupnya seakan tidak terputus, karena manfaatnya tetap dirasakan banyak orang.

Ada kisah yang sering diceritakan dalam majelis-majelis tentang seorang murid dari Nabi Ibrahim yang akan menikah, lalu dikabarkan bahwa Malaikat Izrail akan mencabut nyawanya pada malam itu.

Dikisahkan, murid tersebut dikenal sebagai orang saleh dan taat. Saat hari pernikahannya tiba, suasana penuh kebahagiaan. Namun beredar kabar bahwa malaikat maut akan datang mencabut nyawanya di malam pertama. Kabar itu membuat banyak orang cemas, bahkan ada yang menyarankan agar pernikahan ditunda.

Tetapi sang murid tetap tenang. Ia tetap melangsungkan pernikahan dengan penuh tawakal kepada Allah. Dalam sebagian versi cerita, disebutkan bahwa malam itu ia justru bersedekah atau melakukan kebaikan tertentu dengan sangat ikhlas. Ketika waktu yang disebutkan berlalu, ternyata nyawanya tidak jadi dicabut.

Saat ditanyakan, disebutkan bahwa takdir bisa berubah karena doa dan sedekah. Kisah ini biasanya dijadikan pelajaran bahwa sedekah dan kebaikan dapat menjadi sebab tertolaknya musibah dan dipanjangkannya umur.

Namun perlu diketahui, kisah ini tidak ditemukan dalam riwayat yang kuat (shahih) dari sumber-sumber utama. Ia lebih dikenal sebagai kisah hikmah yang beredar untuk memberi pelajaran tentang pentingnya tawakal, doa, dan sedekah. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa kebaikan tidak pernah sia-sia di sisi Allah.

Ringkasan Pengajian Ahad Pagi PCM Weru di Gedung Dakwah Muhammadiyah Weru (Kalisige, Karakan, Weru) pada 15 Februari 2026 yang disampaikan oleh Ust. H. Muhammad Syafi'i, M.Ag. (Kepala KUA Mojolaban)

Share This Article :
Wakhid Syamsudin

Berusaha menjadi orang bermanfaat pada sesama melalui tulisan. Saat ini mengelola blog Media An Nuur (www.media-annuur.com), Bicara Cara (www.bicaracara.my.id), dan blog pribadi (www.syamsa.my.id)

2907636960708278822