MEDIA AN NUUR─Ketika mendapat kebahagiaan dalam hidup ini maka kita sudah seyogianya bersyukur pada Allah. Termasuk ketika mendapat rezeki istri salihah, anak saleh, tetangga yang baik, dan pekerjaan yang dekat dari rumah.
الإِيمَانُ نِصْفَانِ: نِصْفٌ صَبْرٌ وَنِصْفٌ شُكْرٌ
“Iman itu terbagi menjadi dua bagian: separuh adalah sabar dan separuh lagi adalah syukur.”
Iman seorang mukmin selalu berjalan di antara dua sikap utama, yaitu sabar dan syukur; sabar ketika menghadapi kesulitan dan ujian, serta syukur saat menerima nikmat dan kelapangan. Tidak ada kondisi hidup yang lepas dari dua keadaan ini.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al Anbiya: 35)
![]() |
| Ustaz Bambang Wahyudi mengajak syukur atas nikmat Allah |
Selama hidup, manusia diberi ujian dalam dua bentuk: keburukan yang menuntut kesabaran dan kebaikan yang menuntut kesyukuran. Keduanya sama-sama merupakan fitnah (ujian) untuk menilai keimanan, keikhlasan, dan ketaatan hamba kepada Rabb-nya.
Keberhasilan hidup dari banyaknya nikmat atau sedikitnya musibah, adalah tentang sikap seorang hamba dalam merespons keduanya. Apakah ia mampu bersyukur saat mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapat kesulitan hidup.
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu (lalai) karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Ternyata ujian kesenangan sering kali lebih membuat manusia lalai daripada ujian kesusahan, karena nikmat yang terus mengalir kerap menumbuhkan rasa nyaman, lupa bersyukur, dan melemahkan kesadaran akan akhirat.
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali orang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Nabi Nuh AS., menjadi teladan dalam bersyukur hingga Allah menyebutnya “hamba yang banyak bersyukur” (عَبْدًا شَكُورًا). Nabi Nuh tetap istikamah tanpa keluh kesah, memanfaatkan setiap nikmat untuk taat dan berdakwah. Keteladanan beliau mengajarkan bahwa syukur sejati tampak dalam ketaatan dan kesabaran, bukan sekadar dalam kelapangan hidup.
Rasulullah ﷺ menjadi teladan syukur dengan istikamah melaksanakan salat lail, meski surga sudah dijamin baginya. Beliau melakukan salat lail adalah bentuk syukur pada Allah Swt. Sebuah keteladanan yang selayaknya dicontoh umat.
Ternyata syukur tidak mudah, karena manusia secara alami memiliki sifat keluh kesah dan kikir. Saat menghadapi kesulitan, hati cenderung mengeluh dan merasa berat, sedangkan ketika menerima nikmat, seringkali timbul sikap kikir, enggan menggunakannya untuk kebaikan.
Sesungguhnya hanya sedikit hamba Allah yang benar-benar bersyukur. Banyak orang lalai, mengeluh saat kesulitan dan kikir saat mendapat kenikmatan, sehingga hakikat syukur tetap menjadi kualitas yang langka dan mulia bagi mereka yang mampu menunaikannya dengan istikamah.
Pengajian di rumah Bapak Heri Purwanto-Ibu Nurhayati, tasyakuran Mbak Bella atas kelulusan pendidikan dan telah masuk dunia kerja, pada Sabtu, 20 Desember 2025, tausiah oleh Ustaz Bambang Wahyudi, S.E. (asatiz PPTQ Qoryatul Qur'an, anggota Majelis Tabligh PCM Weru)


