MEDIA AN NUUR–Setelah menjalankan ibadah, hendaknya seorang Muslim memohon kepada Allah agar seluruh amal yang telah dilakukan diterima. Begitu pula setelah sebulan penuh beribadah di bulan Ramadan, di bulan Syawal kita dianjurkan untuk terus berdoa agar amalan tersebut diterima oleh Allah.
لَأَنْ أَكُونَ لِقَبُولِ الْعَمَلِ أَهْتَمُّ مِنِّي بِالْعَمَلِ
“Sungguh, aku lebih memperhatikan diterimanya amal daripada amal itu sendiri.” (Perkataan Ali bin Abi Thalib)
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ . وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ . فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ
“Maka barang siapa yang memberi (di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (adanya pahala) yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebaikan).” (QS. Al-Lail: 5–7)
![]() |
| Ustaz Arif menerangkan tentang shirath |
Allah menegaskan bahwa takwa dan komitmen pada kebaikan akan membuka jalan kemudahan untuk amal-amal berikutnya. Maka kita berharap Allah menerima amal Ramadan kita dengan sempurna, menjadi bekal kelak melewati shirath.
Shirath adalah satu jalan yang terbentang di atas Neraka Jahanam. Setiap manusia akan melewatinya, lalu ada yang diselamatkan oleh Allah dan ada pula yang terjatuh ke dalam neraka, sesuai dengan kehendak-Nya dan amal perbuatannya. Sebagian selamat, dan sebagian lainnya terjatuh ke dalam neraka.
Menurut Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, shirath adalah jembatan yang dibentangkan di atas Neraka Jahanam yang harus dilalui oleh seluruh manusia. Manusia akan melintas sesuai dengan kadar iman dan amalnya; ada yang melintas secepat kilat, ada yang berjalan, bahkan ada yang merangkak.
وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا
ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا
“Dan tidak ada seorang pun di antara kamu melainkan pasti mendatanginya (neraka itu). Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu ketetapan yang pasti terjadi. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim di dalamnya dalam keadaan berlutut.” (QS. Maryam: 71–72)
![]() |
| Jemaah Subuh Masjid An Nuur Sidowayah |
Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa shirath itu sangat halus, licin, dan menggelincirkan, sehingga manusia sangat mudah tergelincir darinya kecuali yang Allah selamatkan. Bukan bergantung pada keahliannya melewati titian. Meski pemain sirkus yang ahli, tak menjadikannya mampu melewati shirath.
فَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ جَهَنَّمَ، فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ، وَيَكُونُ عَلَيْهِ خُطَّافِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكٌ، تَكُونُ بِنَجْدٍ فِيهَا شَوْكَةٌ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ، فَيَمُرُّ الْمُؤْمِنُونَ كَالطَّرْفِ، وَكَالْبَرْقِ، وَكَالرِّيحِ... فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ، وَمَخْدُوشٌ مُرْسَلٌ، وَمَكْدُوسٌ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
“Kemudian dibentangkan shirath di atas Neraka Jahannam… di atasnya terdapat pengait-pengait, kait-kait, dan duri seperti duri sa‘dan. Maka orang-orang beriman melintas seperti kedipan mata, seperti kilat, seperti angin… Ada yang selamat tanpa cedera, ada yang terluka lalu terlepas, dan ada yang tersungkur ke dalam Neraka Jahannam.” (HR. Muslim)
Ada di antara manusia yang dapat melewati shirath dengan sangat cepat, bahkan secepat kilat seperti cahaya, yaitu mereka yang memiliki sifat amanah dan gemar menyambung tali silaturahmi, sehingga Allah memudahkan langkah mereka dalam melewati jalan tersebut.
وَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ جَهَنَّمَ، فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ، وَتَقُومُ الرَّحِمُ وَالْأَمَانَةُ عَلَى جَنْبَتَيِ الصِّرَاطِ يَمِينًا وَشِمَالًا، فَيَمُرُّ أَوَّلُكُمْ كَالْبَرْقِ...
“Dan dibentangkanlah shirath di atas Neraka Jahannam. Maka aku adalah orang pertama yang melintas. Lalu amanah dan rahim (silaturahmi) berdiri di kedua sisi shirath, kanan dan kiri. Maka orang pertama dari kalian melintas seperti kilat…” (HR. Muslim)
![]() |
| Sarapan bersama setelah kajian |
Manusia melewati shirath sesuai dengan amalnya. Ada yang melintas secepat angin, ada yang seperti burung yang terbang, dan ada pula yang seperti kuda yang berlari kencang, semuanya sesuai dengan kadar iman dan amal mereka. Demikian keadaan manusia ketika melewati shirath di atas Neraka Jahannam.
Maka hendaknya setiap Muslim bersungguh-sungguh menjaga ketakwaan, memperbaiki amal, serta menjaga amanah dan silaturahmi, seraya senantiasa memohon kepada Allah agar diberi keselamatan ketika melewati shirath kelak.
Materi Kajian Gerakan Subuh Berjamaah di Masjid An Nuur Sidowayah pada Jumat, 27 Maret 2026 bersama Ustaz Arif Fahrudin, S.Pd.I. (pengasuh Ponpes Modern Muhammadiyah Sangen, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PCM Weru)




