MEDIA AN NUUR–Kehidupan ini adalah sebuah perjalanan yang senantiasa meninggalkan jejak dan pelajaran. Setiap langkah yang ditempuh, baik dalam suka maupun duka, akan menjadi bagian dari kisah yang membentuk diri kita.
Sebagaimana setiap perjalanan memiliki tujuan akhir, demikian pula kehidupan akan bermuara pada sebuah akhir yang pasti, sehingga setiap perjalanan yang kita jalani hendaknya diisi dengan amal kebaikan yang bernilai dan bermakna.
![]() |
| Ustaz Fajar mengingatkan tentang tujuan akhir kehidupan dunia |
Akhir perjalanan hidup manusia adalah meninggalkan dunia. Kematian adalah kepastian yang akan dialami setiap makhluk yang bernyawa. Karena itu, selama masih diberi kesempatan hidup, hendaknya kita mempersiapkan bekal terbaik dengan amal saleh dan ketaatan kepada Allah.
Orang tidak dinilai dari bagaimana ia memulai atau menjalani hidupnya, tetapi dari bagaimana akhir perjalanan hidupnya. Sebab, yang menjadi penentu adalah husnul khatimah atau su’ul khatimah. Karena itu, setiap Muslim hendaknya senantiasa berusaha istikamah dalam kebaikan dan memohon kepada Allah agar dianugerahi akhir hayat yang baik.
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-An’am: 32)
Kehidupan dunia laksana sebuah permainan yang sementara. Karena itu, jangan hanya sibuk memikirkan kehidupan hari ini, tetapi tataplah bagaimana keadaan kita setelah meninggal nanti. Sebab, setiap yang kita lakukan akan Allah pertanyakan dan setiap amal akan dimintai pertanggungjawaban.
Kita tidak hanya perlu memikirkan keselamatan diri sendiri di akhirat, tetapi juga amanah yang Allah titipkan kepada kita. Istri dan anak adalah tanggung jawab yang kelak akan dipertanyakan: sudahkah kita membimbing, menjaga, dan mengarahkan mereka menuju kebaikan serta keselamatan akhirat?
Dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5, Allah mengajarkan bahwa inti kehidupan seorang mukmin adalah keikhlasan. Maka, kita perlu senantiasa menata hati agar setiap amal dilakukan dengan ikhlas, bukan untuk pujian manusia, tetapi semata-mata mengharap rida Allah.
Mari kita perhatikan salat kita, karena salat adalah kewajiban utama bagi setiap Muslim. Jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita lalai dari salat atau menundanya, sebab dunia hanyalah sementara, sedangkan salat adalah bekal dan bentuk penghambaan kita kepada Allah.
Bersegeralah ketika panggilan azan telah terdengar. Salat hanya membutuhkan sedikit waktu dari kehidupan kita, sementara setelah menunaikannya kita dapat kembali bekerja, berusaha, dan mencari nafkah. Rezeki yang kita cari tidak akan pernah lebih berharga daripada ketaatan kepada-Nya.
Setelah menunaikan salat, kita juga memiliki kewajiban mengeluarkan zakat dari harta yang Allah titipkan kepada kita. Harta yang kita kumpulkan di dunia jangan hanya dinikmati untuk kepentingan dunia, tetapi hendaknya menjadi bekal menuju akhirat dengan menunaikan hak Allah dan hak orang lain di dalamnya.
Pada akhirnya, mari kita sadari sepenuhnya, bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan, sedangkan akhirat adalah tujuan. Mari menata hidup, hati, salat, dan harta agar semuanya menjadi bekal menuju rida Allah dan keselamatan di akhirat.
Kajian Subuh Jumat Berkah di Masjid An Nuur Sidowayah, pada 21 Agustus 2026, bersama Ustaz Fajarullah Alghifarri, M.Pd., Guru Pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah 3 Watukelir dan Koordinator Muhtiwa Boarding School.


